Cergam Memotivasi Siswa dalam Program Literasi

Rubrik Literasi Oleh

Sedikit Pengalaman

Sejak tahun 1999 ketika saya berada di SD Inpres Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Ketika berada di sekolah ini, saya mengampu Kelas VI. Saya mewajibkan membaca pada peserta didik bersama guru 10-15 menit sebelum pelajaran dimulai dan di akhir pelajaran. Saya mewajibkan para siswa dan guru (yang semunya beragama Kristen) untuk membaca Kitab Suci satu pasal pada pagi hari, dan siang hari ketika waktu belajar regular berakhir. Mereka bukan saja membaca, tetapi juga berdoa. Hasilnya, membanggakan. Para siswa menjadi terbiasa secara teratur membaca kitab suci baik yang berbahasa Indonesia, berbahasa Melayu Kupang dan berbahasa Amarasi. Kebiasaan itu telah menjadi tradisi di sekolah ini, bahkan ketika saya dimutasi ke Buraen, masih di Kecamatan yang sama.

Ketika berada di SD Inpres Buraen, dalam satu kesempatan KKG yang kami kemas dalam bentuk workshop, instruktur mengingatkan secara berapi-api tentang pentingnya literasi. Saya tertegun karena penjelasan tentang literasi selain menekankan membaca dan menulis, ada pula hal-hal yang sifatnya karakter dan tindakan pembiasaan lain seperti baris-berbaris (apel pagi dan apel siang) di depan kelas. Padahal saya memahami literasi sebagai membaca dan menulis.

Terlepas dari itu, para guru pun bersemangat untuk berliterasi ria ketika kembali ke sekolah masing-masing. Sejauh mana mereka melakukannya? Saya mengamati, adem-adem saja.

Literasi di Buraen
Ketika berada di SD Inpres Buraen, kami sangat termotivasi untuk mengintensifkan kegiatan literasi dalam pengertian sempit, baca-tulis. Maka, dungibuatlah rangkaian percobaan menulis cerita bergambar berhubung sekolah belum mempunyai perpustakaan. Satu lembar kertas ukuran F4 diseting secara booklet lalu saya menyusun 4 gambar dengan teks dalam dua Bahasa, yaitu Bahasa daerah Amarasi dan Bahasa Indonesia (sederhana). Kepada para siswa dibagi-bagikan kertas bergambar itu untuk berlatih menulis dan membaca. Kegiatan ini telah berlangsung antara September – November 2017 ini.

Para siswa termotivasi. Mereka menyambut gembira dan antusias dan mulai rajin membaca dan mencoba menulis, khususnya pada siswa kelas enam. Khusus untuk membaca, mereka “mengejar” para guru untuk mendapatkan buku bacaan. Sangat disayangkan, guru tidak dapat menyediakannya. Ketika para penjaja buku melakukan “bazar” buku di halaman sekolah, mereka berebutan sekedar membaca, walau hanya beberapa orang yang membeli.

Selanjutnya, saya mencoba hal lain. Saya menulis surat terbuka, yang isinya mengajak pembaca untuk melakukan donasi buku. Masyarakat sekitar sekolah menganggap program ini baik. Sayangnya belum ada tindakan nyata dari mereka. Lalu, saya secara mingguan menerbitkan semacam pamphlet, di dalamnya selain ada tulisan guru, ada pula tulisan siswa. Mereka berebutan untuk memiliki dan membacanya.

Sementara itu saya tidak tinggal diam. Saya mengirim cerita bergambar (cergam) ke penerbit. Sebelumnya saya tunjukkan pada pimpinan saya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang. Sang kepala dinas setuju dan mendorong penulisan dan penerbitan buku-buku yang muatannya lokal. Ia memberi kata pengantar pada buku cergam yang saya tulis. Saya mengirim melalui surel materi ini kepada Prof. Dr. Charles Grimes, Ph.D,  pakar linguistik dari Australian National University (ANU). Ia bersedia membaca cergam itu selaku editor.

Mengamati perubahan sikap siswa pada cergam buatan guru, saya berasumsi bahwa para siswa mempunyai motivasi yang kuat untuk membaca tulisan (buku cerita) yang ditulis oleh guru dan teman mereka sendiri. Mereka akan terus termotivasi bahkan ketika belum ada buku cerita tulisan guru mereka sendiri, maka mereka akan membaca apa saja yang mereka temui sebagai bacaan. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top