Tiap Penulis Adalah Pahlawan

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Jika tak salah definisi, kata “pahlawan” diambil dari dua kata: pahala (kebaikan) dan wan (tambahan yang berarti “orang”). Berarti, jika ini betul: pahlawan adalah orang yang banyak pahala-nya, atau banyak kebaikannya.

Jika definisi itu dipakai, maka para penulis juga bisa disebut sebagai pahlawan, karena mereka telah memberikan kontribusi untuk menyebarkan ide, wawasan, pengetahuan, dan telah mendokumentasikan hal-hal baik buat masyarakatnya. Mungkin, dalam definisi luasnya, semua orang yang telah memberikan kontribusi bisa disebut sebagai pahlawan–entah sedikit atau banyak, besar atau kecil.

Maka, dalam momentum hari Pahlawan dapatlah kita berkata bahwa tiap penulis adalah pahlawan dengan beberapa alasan. Pertama, para penulis adalah orang yang mengorbankan waktu dan idenya untuk tersebarnya pengetahuan di tengah-tengah komunitas dan masyarakat. Kata Buya Hamka, di zaman yang telah maju pengaranglah atau penulislah yang memberi isi kebudayaan bangsa. Berarti, peran para penulis sangatlah strategis dalam kebudayaan bangsa. Itu bentuk dari kerja-kerja para pahlawan.

Kedua, para penulis juga berpikir panjang untuk masa depan. Ya, menulis itu tidak mudah, apalagi menulis karya-karya besar bahkan yang menjadi warisan sejarah. Kisah La Galigo dari tanah Bugis sampai sekarang adalah karya terpanjang di dunia, melewati Ramayana dan Mahabharata. Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno, adalah karya penting atau masterpiece dalam melihat bagaimana pergulatannya dalam revolusi dan pencarian identitas bangsa Indonesia.

Pekerjaan jangka panjang tersebut tentu saja tidak bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki mental biasa-biasa saja. Ini hanya bisa dilakukan oleh meraka yang punya mental baja, bervisi jangka panjang, dan berorientasi untuk menciptakan damai dan maslahat bagi banyak orang.

Di hari Pahlawan ini dapatlah kita katakan bahwa tiap penulis adalah pahlawan. Ya, mereka adalah pahlawan yang rela mengorbankan waktunya untuk kemaslahatan dan tersebarnya ilmu dan pengalaman bagi orang lain. Semakin mereka perdalam karya tulis mereka, semakin mereka menjadi pahlawan yang berkontribusi besar dan terus diingat banyak orang. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top