LESTARI BAHASAKU JIKA ADA UPAYA MELESTARIKANNYA

Rubrik Opini Oleh

Beberapa konferensi internasional yang menyoroti perkembangan Bahasa, khususnya Bahasa daerah/local/etnis pernah saya hadiri. Di antaranya, 1st Malaysian Indigenous Peoples’ Conference on Education (MIPCE, 2007), 5th ENUS Conference International (2007) 6th ENUS Conference International (2010) Heritage Language Literacy Development in South East Asia (2008), International Conference on Language Documentation and Conservation (2011).

Dari konferensi-konferensi itu saya mendapat pengetahuan tentang Bahasa daerah, terlebih pada usaha-usaha yang dilakukan oleh pemilik Bahasa dan para linguist untuk mempertahankan dan melestarikan Bahasa-bahasa daerah itu di berbagai penjuru dunia.

Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa bahasa daerah yang saya pakai di kampung kelahiran saya, adalah bahasa yang patut terus dipakai bahkan harusnya dapat ditulis sebagai upaya pelestariannya. Oleh karena itu, saya selalu menggunakan dua bahasa dalam pergaulan, Bahasa daerah saya sendiri, yaitu Uab Amarasi gaya Kotos dan Bahasa Melayu Kupang sebagai Bahasa pergaulan. Lalu saya juga menggunakan Bahasa Indonesia pada situasi legal-formal.

Penerjemahan kitab suci (2000-14) sebagai upaya paling nyata pertama kali kami lakukan bersama para ahli, dari lembaga-lembaga seperti, Wycliff Bible Translation, SIL Internasional dan The Seed Company bersama-sama dengan para pemerhati bahasa yang hampir punah dan konsultan penerjemahan. Saya yang terlibat di dalamnya, berpikir dan bersikap, tidak berhenti hanya pada penerjemahan kitab suci. Saya mengambil sikap pelestarian dengan menggunakan bahasa daerah setiap hari, saya tidak melarang anak (dan siswa) berbahasa daerah, saya menulis teks tutur dalam bahasa daerah, dan teks renungan (khotbah keagamaan) dalam Bahasa daerah.

Semua yang saya lakukan itu dimaksudkan untuk melestarikan Bahasa Amarasi gaya Kotos yang berinduk pada Uab Meto’.
Beberapa contoh dapat dilihat pada rubrik Bahasa daerah Amarasi weblog https://infontt.com/. Selain itu, pernah dalam tiga tahun (2013-15) diterbitkan serial renungan yang disasarkan pada angota presbiter di gereja. Serial renungan itu ditulis dalam tiga Bahasa: Amarasi, Melayu Kupang dan Bahasa Indonesia.

Sudah banyak pemberitaan tentang banyak Bahasa daerah yang hampir punah, bahkan sudah lenyap. Tengok saja media dalam jaringan yang mengabarkan terancam punahnya Bahasa-bahasa daerah di Indonesia dan masih banyak lainnya yang pemberitaannya sudah dilakukan sebelum tahun 2017. Hal pemberitaan tentang ancaman punahnya Bahasa-bahasa daerah itu agar segera ada kesadaran untuk bangkit dari keteledoran sikap yang salah terhadap Bahasa daerah.

Sikap dan tindakan saya dalam kerangka berpikir pelestarian bahasa daerah, beberapa waktu lalu mendapat tempat di hati seorang penggubah lagu. Satu teks tutur yang saya tulis dijadikan lagu oleh sang penggubah. Lagu itu kemudian dinyanyikan di hadapan para petinggi kabupaten Kupang ketika perayaan hari ulang tahun kota Oelamasi ke-XI. Kota Oelamasi, ibukota Kabupaten Kupang yang baru dipindahkan dari kota Kupang.
Kesadaran berbahasa daerah mulai nampak, misalnya pada kendaraan angkutan umum di kota Kupang. Ada tulisan-tulisan yang menggunakan kata-kata berbahasa Melayu Kupang. Ini membanggakan. Di Kabupaten Kupang, bupati Kupang ketika berada di pedesaan, ia menyapa masyarakat dengan menggunakan Bahasa daerah(Uab Meto’). Di Kabupaten Rote-Ndao, bupati mewajibkan penggunaan bahasa daerah di kantor-kantor pada setiap hari jumat. Ini tindakan dan sikap yang patut dihargai sebagai upaya mempertahankan bahasa daerah dan sekaligus melestarikannya. Upaya mempertahankan dengan cara penggunaan bahasa itu secara lisan oleh pemiliknya, patut diikuti dengan tindakan menulis bahasa lisan menjadi tulisan.

Sungguh, upaya untuk melestarikan Bahasa harus dimulai dari kesadaran pemilik bahasa itu sendiri. Sadar: penggunaan dalam keseharian, ortografi agar mengubah yang lisan menjadi tulisan dan pembiasaan untuk menulis. Sesuatu yang digurat pasti berbekas, bukan? ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top