Bagaimana Menulis Dengan Mudah?

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat

Menjelang senja di kota paling timur tanah air, dokter muda yang lagi internship bertanya “bagaimana menulis dengan mudah?”. Mendengar pertanyaan itu, saya jadi terdiam, bungkam, dan bahkan tidak mampu menjawab soalan itu sama sekali. Setelah menghela nafas beberapa kali, saya mulai bertutur.

Menulis tidaklah pernah mudah. Aktivitas seperti tidurpun bahkan tidak mudah, apalagi kalau menulis. Ilmu biologi menjelaskan bahwa setiap makhluk hanya nyaman dalam kesenangan. Sementara menulis bukanlah pekerjaan menyenangkan. Lebih banyak pekerjaan lain yang menyenangkan berbanding dengan menulis.

Sejatinya, menulis dimulai dari observasi atau wawancara, bisa juga dengan bahasa lain, obrolan. Setelah itu, merangkai kata dan berupaya menuangkan dalam bentuk kalimat. Rangkaian kalimat itu mesti kohesi dan koheren. Tidak bisa terpisah satu sama lain. Harus hadir dalam satu rangkaian seperti gerbong kereta. Walau terpisah-pisah tetapi utuh dan satu dalam satu kali pembacaan.

Selanjutnya, menulis juga perlu memperhatikan media. Sejak awal, media untuk menumpahkan tulisan tidaklah beragam. Hanya ada majalah, koran, tabloid, atau buletin. Perkembangan digital kemudian memberikan piliahan yang semakin banyak. Bahkan dengan media sosial sekalipun, sebuah tulisan dapat menjumpai pembacanya. Dengan tak ada lagi sekat jarak, waktu, dan semuanya gratis.

17 tahun yang lalu ketika akses teknologi komunikasi belum semerata saat ini, di sudut-sudut kota tersedia majalah dinding. Koran yang ditempel di kantor kelurahan untuk dibaca bersama. Kedai koran di kawasan kampus menyediakan bahan bacaan yang murah. Hanya dengan Rp. 1.000, bisa membaca sepuasnya. Semua koleksi koran yang ada dapat dibaca di tempat.

Ketersediaan sarana menulis diantara bagian penting minat untuk menulis. Ketika zaman koran yang hanya cetak, seleksi untuk terpilih dalam kolom opini sangat ketat. Hanya penulis yang sudah dikenal yang mampu menembus meja redaksi. Sehingga menumbuhkan minat menulis di koran perlu usaha ekstra. Sekarangpun tetap sama walau dalam bentuk berbeda.

Kini, menulis untuk koran tetap mesti melalui seleksi. Hanya saja, jikalau ditolak di sebuah koran, masih banyak pilihan lain. Bahkan mengunggahnya ke sebuah blog dapat dilakukan dalam hitungan detik tergantung pada kecepatan koneksi internet yang dipergunakan. Dengan demikian, untuk menulis dapat menggunakan pilihan media yang beragam. Kemauan untuk menulis dapat saja ditumbuhkan karena wadahnya tersedia.

Kembali ke pertanyaan awal, menulis tidak akan pernah mudah. Diperlukan pengorbanan, termasuk mengorbankan kesenangan lainnya untuk fokus dalam menghasilkan sebuah karya. Jikalau ini sudah dipilih, maka menulis bisa jadi meningkat ke aktivitas yang menyenangkan tetapi tetap saja tidak mudah. Apalagi kemampuan menulis bukanlah bawaan sejak lahir. Perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk terus menulis.

Saya menduga bahwa penulis seperti Goenawan Mohamad tetap saja perlu bekerja keras setiap kali menuliskan Catatan Pinggir di Tempo. Ide yang akan dituangkan perlu dipilah terlebih dahulu. Di tengah melimpahruahnya obrolan, maka sangat tidak mudah untuk memilah apa yang perlu ditulis dan bagian tertentu yang layak diabaikan. Maka, tidaklah mengherankan kalau seorang jurnalis kemudian memilih berpindah ke profesi lain karena aktivitas menulis tidaklah pernah mudah.

Terakhir, penulis bukanlah profesi tunggal. Bisa saja seorang dokter juga penulis. Dengan demikian, menulis adalah pekerjaan komplementer. Jika dokter menulis, tentu akan memberikan kesempatan kepada khalayak untuk mendapatkan catatan-catatan yang terkait pengalaman dokter saat menangani pasien, baik saat perawatan maupun di instalasi gawat darurat. Bahkan ini bisa mengabadi sekalipun sang dokter sudah tidak di dunia lagi.***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top