Home » Opini » Mana Pahlawanku? » 49 views

Mana Pahlawanku?

Rubrik Opini Oleh

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia, khususnya di instansi pemerintah dan sekolah-sekolah diadakan upacara yang khusus untuk mengenang jasa dan nilai-nilai kepahlawanan para pahlawan.

Di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh nasional (kompas.com). Penganugerahan itu dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Mereka dinilai telah memenuhi semua ketentuan penggelaran itu.

Pertama, pernah memimpin dan melaksanakan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Ketiga, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebih tugas yang diembannya. Keempat, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara. Kelima, pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat martabat bangsa. Keenam, memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi. Terakhir, melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Penggelaran Pahlawan kepada tokoh tertentu sampai saat ini masih menuai polemic di ruang publik. Ada sementara pihak menganggap sudah tidak zamannya lagi untuk memberi gelar Pahlawan Nasional, tetapi baiknya dibukukan saja (Metro TV, 9/11).

Bani (2015:89) mengutip Budiarto (seorang wartawan), bangsa ini bila ingin mengenang tokoh-tkoh nasionalnya yang dianggap berjasa besar, bangunlah sesuatu yang memudahkan kesan positif bagi mereka, seperti kepada Ali Sadikin dibuatkan Universitas Ali Sadikin, Soeharto dibuatkan perpustakaan Soeharto, Gur Dur dibuatkan sesuatu di Surabaya sebagai tanda untuk mengenang almarhum.

Pendapat Budiarto ada benarnya. Sudah banyak nama jalan, nama monument, nama perpustakaan, nama Rumah Sakit, nama ruang kuliah, nama gedung, penghargaan (award) dan lain-lain disematkan dengan nama tokoh tertentu. Tokoh nasional yang masih hidup pun sudah mempunyai institusi dengan tujuan dan gerak kerja riset social, politik, ekonomi dan lain-lain. Lihatlah sudah ada The Yudhoyono Institute, the Wahid Institute, the Habibie Centre, Megawati Institute, dan masih banyak lainnya institusi/wadah yang dibentuk dengan nama tokoh nasional maupun daerah.

Dua okoh nasional asal Nusa Tenggara Timur, telah mangkat. Hendrik A. Koroh dan Frans Seda. Dan masih banyak tokoh nasional asal Nusa Tenggara Timur. Hendrik A. Koroh telah pernah diusulkan agar  digelari Pahlawan nasional sebagaimana sejawatnya I. H. Doko, tapi sampai saat ini rupanya kajian-kajian dari para ahli di perguruan tinggi belum cukup meyakinkan para pengambil keputusan di Kementerian Sosial. Untuk mengenang Hendrik A. Koroh, di kota Kupang ada nama jalan H. A. Koroh, dan monument Tirosa dimana H. A. Koroh satu di antaranya.  I. H. Doko sendiri telah digelari Pahlawan Nasional.

Frans Seda, lengkapnya Fransiscus Xaverius Seda, tokoh nasional yang mungkin layak dianugerahi pahlawan. Ia seorang pekerja keras pada zaman Orde Lama, Orde Baru maupun Reformasi. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mengubah satu nama jalan utama di kota Kupang yang dulunya Jalan El Tari I, II, dan III. Satu di antaranya menjadi Jalan Frans Seda. Rasanya penamaan jalan saja tidak cukup.

Harian pagi Pos Kupang edisi Sabtu (11/11/17) pada halaman 9 menyajikan berita, bahwa Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur terus berupaya keras mengumpulkan bukti-bukti yang valid untuk maksud pengusulan Frans Seda tokoh asal NTT untuk digelari pahlawan. Hal mendapatkan bukti, harus ditunjang pula dengan adanya saksi-saksi. Tahapan lainnya adalah kajian-kajian ilmiah melalui seminar-seminar oleh perguruan tinggi. Tokoh yang sudah digelari Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Timur sebanyak 3 orang; Prof. Herman Johannes, Isaac Huru Doko, dan Prof. W. Z. Johannes, dan ada seorang Pahlawan Perintis Kemerdekaan yakni Tom Pello.

Menarik. Provinsi Nusa Tenggara Timur telah memberi andil dengan sejumlah tokoh pada masanya dengan perjuangannya. Mereka telah disejajarkan dengan tokoh nasional dari daerah lainnya di Indonesia. Kebanggaan merayapi dada dan mengaliri darah insan Nusa Tenggara Timur ketika mengetahui bahwa ada 4 tokoh yang sudah digelari pahlawan, (Pahlawan Nasional dan Pahlawan Perintis Kemerdekaan); dan ada usaha untuk menambah barisan pahlawan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, di antaranya Frans Seda dan Riwu Gah.

Lantas, pagi hari ketika upacara hari pahlawan berakhir, seorang siswa berceloteh dengan temannya, “Mana Pahlawanku?” Sebagai guru, saya tersentak. Jika pertanyaan itu hanya celoteh antarsiswa, tidak bagi seorang guru yang peka. Saya menyadari bahwa Prof. Herman Johannes, Isaac Huru Doko, dan Prof. W. Z. Johannes, dan Tom Pello telah bergelar Pahlawan; tetapi buku-buku pelajaran di sekolah dasar (IPS) belum menyentuh mereka. Lalu, dari mana para guru membelajarkannya? Mari, rekan-rekan guru. Ini saatnya kita beraksi menulis. Bila menyusuri dunia maya dan dunia nyata perbukuan lalu memperoleh data dan informasi tentang para pahlawan, tulislah. Tulislah tentang Prof. Herman Johannes, Isaac Huru Doko, Prof. W. Z. Johannes, dan Tom Pello. Itulah Pahlawan asal Nusa Tenggara Timur. Belajarkan! ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*