Merawat Budaya Tutur di Pah Meto’

Rubrik Opini Oleh

Oleh Heronimus Bani

Sekilas Budaya Tutur
Pulau Timor, sebelum didatangi Portugis, ia dikenal dengan nama Pah Meto’. Penduduknya menggunakan Uab Meto’, ada yang menyebut Bahasa Dawan, sekalipun banyak linguist dalam penelitian tidak menemukan fonem /d/ dalam perbendaharaan kata-kata yang dipakai masyarakat Timor, kecuali yang diadopsi. Tapi, apa yang hendak dikata, Uab Meto’ telah dikenal pula dengan Bahasa Dawan. Tidak perlu dibahas disini.

Sebagai Bahasa, pemilik dan penggunanya menempatkannya dalam strata tertentu. Bila berkomunikasi antaranggota masyarakat, gaya yang digunakan seturut kelas masyarakatnya. Bila antara masyarakat dengan kalangan atas (usif, amaf), maka gaya berbahasanya diperhalus, lebih kepada yang sopan dan butuh terjemahan. Mengapa? Karena penggunanya menempatkan metafora-metafora tertentu sehingga harus segera dapat diterjemahkan dalam benak sambil terus mendengarkan penuturnya.

Di Timor, Pah Meto’ orang mengenal istilah a’asramat, natoni, takanab, dan basan. Secara harfiah semuanya bermakna sama yaitu tuturan adat. Masyarakat pengguna Bahasa Amarasi menggunakan a’asramat, pengguna Uab Meto’ di sekitar Timor Tengah Selatan, dan sebagian Kabupaten Kupang menggunakan istilah natoni. Pengguna Uab Meto’ di Kabupaten Timor Tengah Utara dan sebagian Belu Selatan menggunakan istilah, takanab, dan pengguna Bahasa Helong di Semau menggunakan istilah basan.

Tutur adat ini pada masa lampau dipakai untuk berkisah, tentang asal-usul leluhur, silsilah, kepercayaan, ladang, ternak peliharaan, hingga menyambut petinggi ke-usif-an yang datang dari pusat pemerintahan yaitu Sonaf. Dewasa ini tutur adat ini lebih dominan dipakai untuk menyambut para pejabat negara, daerah dan pejabat keagamaan, dengan diselingi tarian penyambutan.

Apa dan Bagaimana Budaya Tutur itu?
Satu kata yang paling mudah diingat dan dikenal luas adalah natoni, sekalipun itu bukan satu-satunya istilah untuk budaya tutur. Masih ada yang lain yang disebutkan menurut daerah asalnya sebagaimana telah diuraikan di muka. Tetapi, untuk kebutuhan tulisan ini, istilah natoni yang sudah umum itulah yang digunakan.

Dalam natoni ada satu pemimpin yang disebut A’a’at (penutur) dan kelompok pengiringnya yang disebut Atonis atau Aseter. Tugas A’a’at adalah mengucapkan/mengungkapkan hal yang berhubungan dengan upacara seremoni dan para pengiringnya mengucapkan satu kata penegas setiap kali ada tanda dari A’a’at. Menariknya, A’a’at sebelumnya tidak akan memberitahukan kepada kelompok pengiringnya apa yang harus dinyatakan sebagai penegas. A’a’at pada dirinya sendiri yang mengetahui apa yang akan disampaikan sehubungan dengan upacara seremoni yang akan berlangsung itu.

Cara bernatoni yang demikian sangat sulit untuk dibelajarkan di lembaga pendidikan formal. Gambaran apa yang mesti diungkapkan tergurat di benak A’a’at semata. Para pengiring pun tidak pernah akan mengetahui. Oleh karena itu, seringkali anggota pengiring tertentu tidak ikut serta mengucapkan kata-kata penegas itu, sehingga kelihatan jelas bahwa ada ketidaktahuan padanya. Padahal, semua orang yang menyaksikan percaya bahwa para pengiring benar-benar mengucapkan. Sesungguhnya hal itu tidaklah demikian.

Upaya Merawat Budaya Tutur
Pemanfaatan natoni sudah sangat trend dalam setiap seremoni daerah di Timor Barat. Bila ada upacara dimulainya pembangunan suatu bangunan pemerintah dan keagamaan atau pengresmiannya, satu tim dipersiapkan untuk maksud menyambut pejabat daerah dengan tutur adat itu. Bila suatu upacara keagamaan dihadiri oleh pejabat gereja dan pemerintahan, maka tutur adat selalu ditempatkan sebagai prioritas upacara penyambutan.

Bukan hanya itu, bahkan berbagai kegiatan yang sifatnya seremoni selalu ada tuturan awal sebelum dimulainya kegiatan inti. Hal ini seakan-akan sebagai suatu awal pentahbisan kegiatan itu yang dilakukan oleh masyarakat, yang diwakilkan kepada kelompok penutur (A’a’at dan Atonis/Aseter).

Melihat fenomena itu, (sejak saya menjadi guru) ada upaya merawat budaya ini dengan cara menulis sya’ir-sya’ir adat yang disesuaikan dengan upacara seremoni yang dimaksudkan. Selanjutnya para siswa sekolah dasar berlatih mengucapkan sebagaimana para tokoh adat melakukannya bila ada upacara-upacara penyambutan pejabat daerah.

Dua puluhan tahun sudah hal ini berlangsung. Para siswa silih-berganti menjadi A’a’at dan Atonis/Aseter. Para siswa yang terlatih ini tidak saja untuk menyambut para pejabat daerah, tetapi pula untuk kegiatan-kegiatan keagamaan. Di beberapa sekolah, teks-teks yang disebar disimpan menjadi materi  ujian praktik muatan lokal. Ada semacam virus natoni menyebar, hingga ada lomba antarsekolah untuk hal ini. Sayangnya, hanya orang tertentu saja yang dapat bertutur dalam gaya bahasa yang halus sopan dan bersayap-sayap terlebih bermakna mendalam dan luas.

Berikut ini satu contoh di antaranya yang diucapkan satu kelompok siswa Sekolah Dasar di kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Tuturan ini diucapkan untuk menyambut bupati Kupang yang akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan monument Victor H. R. Koroh.

Teks ini terbagi atas 4 bagian pernyataan. Pertama, penyampaian penghormatan dan ucapan selamat datang kepada pejabat daerah dan rombongannya, kedua, pernyataan bahwa pertemuan yang terjadi ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, ketiga, pernyataan tentang maksud dari upacara yang dihadiri oleh pejabat daerah, keempat, pernyataan sebagai permohonan agar pejabat daerah sudi menyampaikan “sesuatu” baik dengan pernyataan (sambutan) maupun tindakan; dan di  akhir semua itu a’a’at akan membuat pertanyaan kepada segenap hadirin, apakah mereka mendengar tuturan? Pertanyaan itu diucapkan tiga kali, dan dijawab yang disambut dan hadirin.

Kira-kira begitulah upaya Merawat Budaya Tutur di Pah Meto’.

Anak-anak Paud bertutur menyambut Pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Melawan” kodrat, semestinya A’a’at, laki-laki; di sini yang membaca teks dan bertindak sebagai A’a’at, seorang perempuan (siswi Kelas V)
Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top