Segenggam Cerita ‘Sobe Spai

Rubrik Cerpen Oleh

Oleh Heronimus Bani

Perkenalkan, namaku ‘Sobe Spai. Aku berasal dari satu kampung kecil bernama Koro’oto. Kampung itu sangat jauh di selatan pulau Timor. Kampung itu berada di tengah-tengah hutan yang dulunya disebut Kofnoe’-Sismeni’. Sebutan lainnya Kopan-Taimetan, tetapi sejak tahun 1998 diubah namanya menjadi Taman Hutan Raya (tahura). Tahura ini sendiri menggunakan nama Pahlawan Nasional Prof. Herman Johannes. Tahuran  Herman Johannes dijadikan hutan wisata dan hutan pendidikan. Para siswa/mahasiswa kehutanan sering belajar di tempat ini.

Di hutan ini pada zaman ke-usif-an dulu, dikeramatkan sehingga banyak satwa liar hidup dengan aman. Burung kakatua putih, rusa, monyet, dan babi hutan dan jenis-jenis unggas lain serta binatang liar merayap hidup aman pada masa ini. Cendana, kayu merah dan berjenis-jenis pepohonan tumbuh dengan aman pula. Itulah situasi Sismeni’ pada masa lampau. Lalu, zaman ini, jangan bertanya tentang binatang liar dan cendana? Mereka telah tiada. Tangan-tangan jahil telah menggerayang dan membawanya pergi, entah kemana.

Aku, sendiri berasal dari satu jenis tanaman yang ketika kecil layaknya semak, tetapi ketika besar batangku besar pula dan berbunga. Tetapi mereka tidak mengambilku untuk kebutuhan yang lebih besar. Isi batangku disebut putak yang dijadikan pakan ternak, baik untuk babi maupun sapi. Tetapi, di beberapa tempat di pulau Timor putak diolah menjadi makanan. Akh… aku mau bercerita tentang diriku sendiri yaitu, ‘Sobe Spai.

Aku dibentuk dari sejenis tanaman paleman yang oleh masyarakat local disebut gewang. Pucuk-pucuk gewang diambil oleh pengrajin, lalu dibentuk menjadi topi, topi itulah yang disebut orang di kampungku dengan nama ‘Sobe Spai.

Aku telah dikenal secara luas oleh masyarakat. Menurut cerita yang kudengar dari orang-orang, aku terlahir kembali, karena pada zaman dulu, orang mengenakan topi ini ketika mereka berladang. Kepala para peladang dilindungi dari sengatan terik matahari, dan rintik dan siraman hujan. Bentukku sederhana saja. Tapi, di tangan pengrajin topi aku dibelai-belai sedemikian rupa sehingga nampak menarik. Makanya aku disukai terutama oleh kalangan muda. Mereka suka mengenakanku di kepala mereka sekedar untuk menunjukkan bahwa pada masa ini mereka ingin tampil gaul dan trendi.

Aku perlu menyampaikan rasa terima kasihku, pada orang-orang yang pernah memperkenalkanku dengan dunia luar. Mula-mula serang guru mengenakanku di kepalanya. Ia hadir di suatu acara subat (upacara pemakaman orang Timor); kemudian ia membawaku di acara pesta kabin (pesta perkawinan orang Timor). Orang-orang menyukaiku. Mereka memintanya pada si bapak guru itu. Si bapak gurupun dengan senang hati menyampaikan bahwa, setiap orang dapat memiliki ‘Sobe Spai hanya dengan mengirim uang sekian rupiah kepada pengrajinnya.

Aku pertama kali ke Jakarta. Ketika itu ada rombongan perutusan daerah mengikuti Festival Budaya Nusantara. Menurut cerita, ada kamera person televisi yang sempat menyorot padaku yang bertengger di kepala utusan daerah dalam iring-iringan karnaval. Aku muncul di televisi. Orang-orang di daerahku meneriakiku. Aku tersenyum bangga.

Lalu, suatu ketika para muda gereja akan bertemu untuk suatu acara yang disebut musyawarah belajar pemuda gereja. Mereka berasal dari klasis-klasis di seluruh sinode gereja itu. Panitia local mengirim kabar kepada si bapak guru agar menyiapkan dan menggandakan diriku sebanyak dua ratus unit. Aku ‘Sobe Spai berbangga. Tubuhku digandakan sebanyak itu. Mereka yang datang jumlahnya mencapai 200 orang. Oh, aku akan bertengger di setiap kepala dan akan dibawa kemana-mana dan aku akan semakin dikenal. Padahal, tampilanku tidak seberapa bagusnya.

Hari-hari dimana para muda gereja itu bertemu, aku bertengger di kepala mereka. Mereka saling bercerita dan mencandaiku, ada yang menaruh tampilanku pada status feisbuknya dengan komentar yang katanya gaul. Akh, aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti tentang keberadaan diriku yang semakin dikenal, terutama ketika ada pejabat yang mewakili Walikota menyampaikan materi di pertemuan para muda gereja itu. Sang pejabat mendapat buah tangan berupa diriku. Lalu aku bertengger di kepala sang pejabat.

Sepulangnya si pejabat melaporkan kepada walikota. Pak Walikota kemudiaan memesankan agar diriku digandakan lagi sebanyak 100 unit. Oh… aku semakin dikenal. Aku dibawa kemana lagi?

Dan, pagi ini para muda gereja local akan menerima tamu. Mereka meminta pada pengrajin agar menggandakan diriku lagi. Mereka akan membagi-bagikan diriku kepada para tamu mereka. Lalu, tamu-tamu itu akan pulang dengan menempatkan diriku di atas kepala mereka.

Aku … ‘Sobe Spai. Aku rindu menjadi trend baru di kalangan muda, sekalipun aku datang dari kampung kecil bernama Koro’oto. Aku rindu meninggikan harkat kemanusiaan manusia-manusia di kampungku, dan sekaligus rindu pula mengingatkan mereka bahwa alam ciptaan Tuhan harus dipelihara dan dimanfaatkan secara bijaksana. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*