Menulis dengan Mengatasi Keterbatasan

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Sebuah komitmen menulis, selalu saja dengan mudah dinyatakan. Hanya saja, seiring dengan perjalanan waktu bisa berubah. Salah satunya karena tantangan untuk mengatasi keterbatasan.

Selalu saja ada kendala. Begitu tulisan selesai disempurnakan, ada saja kendala koneksi internet. Akhirnya, tulisan mengendap dan tidak terkirim. Dalam satu kesempatan, saya akhirnya harus mengirim tulisan dalam compact disk yang dititipkan ke kawan yang berprofesi pramugara.

Belum lagi, saat menulis memerlukan literatur. Sementara penelusuran literatur hanya menggunakan koneksi internet. Lagi-lagi, ini menjadi penghambat sehingga aktivitas menulis tidak bisa berlanjut.

Itu hanya tangangan kecil. Belum lagi, saat mulai mengetik, arus listrik tidak mendukung. Tiba-tiba saja mati lampu. Sementara cadangan batrei di laptop tidak bisa lagi digunakan untuk mengetik. Akhirnya, aktivitas menulis berhenti.

Jalan keluarnya, menulis dengan cara konvensional. Makalah atau artikel ditulis secara manual. Tidak lagi menggunakan komputer tetapi dengan alat yang paling sederhana, kertas dan pensil. Agak susah menemukan lagi mesin ketik manual. Draft artikel akan diketik pada kesempatan berikutnya saat listrik sudah tersedia.

Begitu juga dengan kendala lain seperti tidak adanya kesempatan yang luang untuk mulai menulis. Aktivitas mengajar, meneliti, dan tugas menjadi panitia dilaksanakan silih berganti. Sehingga untuk menulis, susah untuk menemukan waktu yang tepat. Ini berakibat pada tulisan yang tidak dapat dimulai walaupun ide yang dikumpulkan sudah bertumpuk.

Olehnya, menulis sejatinya adalah soal menyesuaikan waktu. Saat menunggu boarding atau saat di pesawat sekalipun, aktivitas menulis dapat dilaksanakan. Begitu pula dengan mengintegrasikan kegiatan yang ada dengan proses menulis. Apalagi bagi guru atau dosen, aktivitas kelas dapat digunakan secara bersamaan dengan menulis.

Semua halangan hanyalah sekadar cerita jikalau ada kemauan untuk mengatasinya. Bahkan, seberat apapun tantangannya justru menyelesaikannya semakin mudah. Gawai dan instrumen teknologi tersedia untuk mendukung aktivitas menulis.

Akhirnya, tak ada tantangan yang tidak bisa diatasi. Semuanya hanya pada soal melihatnya sebagai peluang. Mengeluh dan mengemukakan tidak bisa menjadi solusi. Satu-satunya cara penyelesaian, tetap berusaha agar masalah tersingkirkan dan luaran tulisan dapat dinikmati. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top