Senandung Cinta di Lalao

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen: Heronimus Bani

Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar manek siang sang mentari ke balik peraduannya. Menara di pantai Ba’a sebagai simbol keberhasilan dan tanda adanya sebuah pulau terselatan di republik ikut memberi nuansa indah di pantai Ba’a. Lampu di menara bibir pantai Ba’a dinyalakan. Ombak kecil beriak-riak memukul bibir pantai. Suasana yang teramat nyaman.

Sore itu, Messakh, galau hatinya. Ia berada di pantai itu untuk sekedar menenangkan hati agar ia dapat bertemu gadis idolanya.

“Bagaimana memulainya?” Messakh membatin.

Setelah tiga tahun berteman dengan Beti gadis manis di ujung timur pulau Rote, Messakh ingin menyampaikan isi hatinya. Ia bertekad untuk tidak gagal. Ia harus memiliki kekuatan yang prima untuk menyatakan cintanya pada Beti.

Messakh beranjak dari pantai Ba’a. Sebelum berangkat ia memeriksa dan memastikan bahan bakar pada sepeda motornya agar cukup untuk tiba di sana. Ia tidak sempat mengisi bahan bakar pada siang hari. Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) sudah tutup pada jam dua siang. Messakh meyakinkan diri bahwa bahan bakar di dalam tangki sepeda motornya cukup untuk sampai di Bilba. Onderdil kendaraan yang vital seperti rem dan rantai, serta kecukupan angin pada ban pun diperiksanya agar tidak ada resiko di perjalanan yang cukup jauh antara Ba’a ke Bilba.

“Bbmmmm…..bbbmmmm….. bbbbmmmmmmmm……”

Messakh mencoba mesin sepeda motornya. Ia bertekad. Malam ini berangkat dan tiba di rumah sang gadis idola.

Kurang lebih jam setengah tujuh malam ia mulai melakukan perjalanan itu. Hatinya membara dengan cinta dan dipenuhi bunga-bunga cinta.  Dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga sangat terasa laju sepeda motornya, namun ia tetap penuh dengan kewaspadaan agar tidak terjadi kecelakaan. Sepanjang perjalanan ke Bilba beberapa lekukan cukup berbahaya sehingga ia harus berhati-hati. Masih terdapat sisa-sisa pasir di tengah jalan beraspal yang belum tersapu habis oleh aliran air atau oleh angin kencang baik oleh kendaraan yang lalu-lalang maupun oleh angin natural. Kewaspadaan tinggi dimainkan indra penglihat dan insting Messakh.

Di beberapa tempat Messakh harus ekstra waspada berhubung ternak sapi, kerbau dan kambing yang dilepas oleh para pemilik. Mereka tidak mengandangkan berhubung pakan ternak yang terbatas di daerah itu, sekalipun sudah terbit peraturan yang mengatur agar ternak-ternak milik masyarakat Rote-Ndao dikandangkan. Aturan itu berlakunya tidak efektif. Bagaimana dapat efektif dalam pelaksanaannya, sedangkan Rote beriklim kering, selanjutnya terdapat pengaruh angin muson dan musim hujan yang relatif tidak lama.

Penduduk Rote-Ndao yang mencapai angka di atas seratus ribu jiwa dan populasi ternak butuh tempat dan makanan. Bila masyarakat mengandangkan ternak, bagaimana mendapatkan makanan untuk jumlah ternak sapi saja yang mencapai hampir lima puluh ribu ekor, kerbau di atas angka dua belas ribu ekor. Belum terhitung ternak babi, kambing, dan domba yang juga dilepas untuk mencari, menemukan dan menikmati sendiri makanan yang ditemukan. Betapa beratnya pulau Rote memikul semua itu. Tapi rasanya Rote dan Ndao serta pulau-pulau kecil sekelilingnya sedang mulai menyunggingkan senyuman manisnya.

Gula aer, gula lempeng, susu goreng, dan banyak lagi hasil yang trend nan populer yang mengangkat citra masyarakat Rote-Ndao. Kerajinan rakyat seperti para perajin tenun yang didominasi kaum Hawa di Ndao, perajin perak juga oleh masyarakat Ndao. Belum lagi vi si oo sion yang sudah kesohor. Akh… rasanya pulau Rote, dan adik-adik pulaunya akan bersorak dan disoraki.

Messakh memainkan stang gas agar mesin sepeda motornya terdengar bunyi yang menderu dan mendayu-dayu di area yang sangat rata di sekitar Danau Laut Mati ketika ia melintasi daerah itu.

Messakh terus melajukan sepeda motornya. Sesekali ia berpapasan dengan ternak sapi atau kerbau. Sesekali bersilangan dengan kendaraan atau melihat penggembala memegang senter di beberapa ruas jalan. Rupanya penggembala hendak menghalau ternak mereka agar tidak berbaring di jalan yang sudah mulus berhot mix. Dengan cara itu mereka akan terhindar dari kecelakaan karena tertabrak kendaraan yang lalu-lalang ke kota Ba’a atau tempat-tempat di sekitarnya. Sesekali Messakh berkhayal, tapi berusaha matanya tetap awas.

Beti… sebenarnya beta suka… cuma ….,” Messakh berujar

“Botong su bakawan lama to. Andia ko kalo bisa na, beta … … .”

Messakh tidak dapat melanjutkan kata-kata dalam khayalannya.

“kiiikkk…………… kiiikkk……………… kiiiiiiiiiiiiiiiiik……….”  bunyi klakson satu unit truk.

Messakh nyaris menabrak truk. Secepat kilat Messakh berbelok menghindar dari tabrakan. Ia terus melajukan sepeda motornya. Sambil menggeleng-geleng kepala. Khayalannya buyar.

Jam delapan malam Messakh tiba di Lalao. Sepeda motornya diparkirkan di depan sebuah rumah teramat tua. Rumah itu dibangun pada tahun 1901. Ternyata rumah itu sebuah bangunan bersejarah. Manek Nusak Bilba membangunnya untuk tempat pertemuan umum rakyatnya. Di sana Manek mengendalikan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di Nusak Bilba.

Bilba menurut penuturan leluhur sebenarnya adalah Belu ba, yang maknanya adalah Belu sudah meninggalkan satu tempat, atau Belu sudah tidak nampak, sudah pergi … .

Messakh berdiri dan merenung sejenak. Helm yang dipakainya terlihat seperti miliknya para pembalap sepeda motor di kepalanya.

“Belu ba… belu ba… “

Messakh tersenyum sendiri mengingat masa kecilnya di kota Ba’a ketika mereka sering bermain tutup mata dengan kata-kata itu. Norma, kakak perempuannya sering memainkan itu selalu bila mereka berdua.

“Belu ba… belu ba… .”

“Akh… .”

Messakh melangkah pasti mengarah ke rumah yang ditujunya malam itu. Hatinya bergetar. Denyut jantung terasa lebih kencang dari biasanya.

“Hhhmmmm….. “ Messakh menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya.

Di teras rumah ia membuka sepatunya dan meletakkan helm yang dipegangnya. Satu kebiasaan itu sudah umum karena rumah-rumah penduduk berlantai licin mengkilat. Mudahnya membersihkan namun mahalnya porselin menyebabkan orang harus melepas seluruh alas kaki bila memasuki rumah orang yang berlantai seperti itu. Hal ini sudah jamak di peradaban baru soal bangunan tempat tinggal.

“Tok… tok… tok… .” Messakh mengetuk pintu.

“Selamat malam.” Messakh memberi salam sekalipun tidak ada yang duduk di teras ataupun di ruang tamu.

“Selamat malam. Sapa ko?” terdengar suara dari dalam rumah.

“Beti. Lu pi lia sapa yang ketok pintu di muka do.” Ada suara seorang perempuan dewasa memberi petunjuk.

Beti menuju ruang depan.

“Messakh… !” Beti terperanjat ketika yang dilihat berdiri di muka pintu adalah teman yang diidolakannya selama ini pula.

“Lu perlu apa datang malam-malam bagini? Mai… .  Mai so… “ begitu Beti berbicara dalam dua bahasa, Melayu Kupang dan Rote.

“Sapa yang datang, Beti?” suara dalam nada tanya itu datang dari seorang perempuan dewasa yang tidak kelihatan.

“Messakh, Mama,” jawab Beti kepada suara itu yang ternyata ibunya.

Sejurus kemudian, ibu Beti sudah berada di ruang tamu.

“Hei, Messakh. Lu parlu apa ko datang jao-jao deng malam-malam bagini. Lu sonde taku jalan sandiri bagini jao ni… .”

Messakh berdiri menyodorkan tangannya untuk memberi salam pada ibunya Beti. Tangan itu diterima dan ia dapat menjabat tangan itu. Sentuhan tangan orang tua itu dirasakannya sebagai tangan ibunya sendiri.

“Beti, lu pi hopo gula aer kasi Messakh do. Pasti dia aus. Kalo sonde na bekin kasi dia kopi pake gula lempeng. Itu ada gula lempeng di tofles itu. Gula baru itu.”  Ibu Beti menyuruh Beti melakukan itu salah satu dari kedua bakal suguhan itu untuk diberikan pada Messakh, si idola.

“Messakh, lu suka yang mana?” tanya Beti.

“Mana-mana sa!” jawab Messakh

Beti beranjak ke dapur. Ia mengambil sebungkus kopi lalu dicampur dua lempeng gula yang dipadatkan dari gula cair produksi masyarakat lokal di Rote. Ia menyeduhnya dengan air panas. Diaduk-aduk. Menggunakan tutup gelas, segelas kopi terseduh sudah dan siap untuk dihidangkan pada pemuda idamannya. Ia menempatkannya di atas baki, lalu membawanya kepada Messakh. Senyuman khas gadis Rote Bilba disunggingkan ketika ia kembali ke ruang tamu. Didapatinya ibunya sedang memasang wajah angker. Tetapi, ketika Beti tiba, ibunya memasang muka senyum.

“Sudah…?” tanya ibu Beti

“Ia, Ma’… .” jawab Beti

“Lu bekin kasi apa ini?” tanya itu Beti lagi.

“Ini kopi yang tadi mama bilang. Beta campor deng gula lempeng.” jawab Beti.

“Coba lu minum Mess… Kalo masi pait na, kastau ko beta taro tamba gula ee… .”  Beti menyilahkan sambil mengingatkan tentang rasa air kopi yang telah diseduh dan disuguhkannya itu.

“Makasi… su bekin repot ini,” jawab Messakh.

“Wui. Itu sa ju sama ke karja barat apa ko? Hanya putar kopi sa ju. Minum su,”  kata Beti.

Sebelum Messakh mengambil kopi yang telah ada di hadapannya di atas meja, ia meminta isin pada ibunya Beti untuk dapat meminumnya. Sudah kebiasaan umum pada masyarakat untuk memberi tegur sapa bila hendak menikmati makanan atau minuman.

Senyum kemunafikan Messakh nampak di wajahnya. Ia berharap ibunya Beti dapat memberi sekedar tanda agar ia dapat menikmati segelas kopi itu, dan sekaligus ada sinyal baik agar ia dapat mengutarakan isi hatinya pada Beti malam ini dalam keadaan berdua.

“Minum su… .”  kata ibu Beti tanpa ekspresi berarti.

“Rupanya tadi dong dua ada ba’omong apa ko ini mamtua pung muka asarang mati pung. Ba’omong sa sama ke apa ko?” Beti membatin.

“Mama, beta deng Messakh mau ba’omong sandiri di emper bisa ko? pinta Beti.

“Mau omong apa? Tadi beta su tanya. Beta paksa Messakh ko kastau beta dia parlu apa? Dia su kastau. Beta sonde mau.” jawab ibu Beti tegas.

“Bukan bagitu, mama. Nanti botong dua ba’omong do… .”

Memang sudah tiga tahun ini dua muda-mudi ini berteman baik. Mereka tidak saling mengungkapkan isi hati. Tetapi, kata, sikap, tindakan dan perasaan sudah mulai terasa menyatu. Waktu yang tepat untuk menyatakan cinta itu belumlah tepat. Belum lagi siapa yang harus memulainya.

Beti sendiri pernah berpikir untuk menyatakannya, ketika mereka berada di sebuah acara tradisional huss.  Huss dalah pacuan kuda khas masyarakat Rote.

Pada beberapa kesempatan sebagai kaum muda dalam satu kelompok, mereka menamakan diri Pemuda Ita Esa. Mereka melakukan tur wisata beberapa lokasi wisata di Rote. Di Danau Laut Mati, dalam kesempatan mereka berdua menyendiri, hati dan perasaan Messakh berkobar-kobar untuk menyatakan cintanya. Sayang sekali, ia merasa belum berdaya untuk menyatakannya. Sampai malam ini, ia bertekad bulat untuk menyatakannya, jika perlu di depan orang tuanya.

Saatnya sekarang tiba. Di rumah ini dengan disaksikan cahaya lampu listrik yang agak suram karena warna tembok rumah yang menyerapnya. Sementara di luar roh para leluhur sedang menanti-nanti dengan mata awas.

“Messakh. Lu jang pulang. Tidor su… Nanti besok pagi baru lu pulang …” kata ibunya Beti sambil beranjak masuk ke dalam rumah.

“Beti, siap itu kamar di sabla tu, ko Messakh tidor… . Ais lu siap makan ko bosong dua makan. Mama dong ada mau pi persekutuan do’a.” kata ibu Beti.

Beti bergirang hatinya. Ibu dan bapaknya akan keluar rumah. Di rumah tetangga yang berjarak kira-kira dua ratusan meter ada kelompok persekutuan do’a dimana orang tua Beti menjadi anggotanya.

Messakh merasa serba salah. Ia belum sempat berbicara dengan Beti sendirian, ibunya Beti sudah memintanya untuk bermalam. Tetapi, hatinya kembali bergemuruh manakala ia mengetahui kalau orang tua Beti akan keluar rumah beberapa saat untuk menghadiri ibadah persekutuan do’a.

Orang tua Beti rajin mengikuti persekutuan do’a. Di sana mereka dapat berbagi pengalaman dan kesaksian atas hidup dan penghidupan yang Tuhan buat kepada orang pribadi, keluarga dan komunitas. Mereka saling mendo’akan. Saling menghibur dan menguatkan bila ada yang merasakan sesuatu yang dianggapnya kesulitan hidup. Manakala mereka merasakan nikmat Tuhan secara luar biasa, mereka pun memuliakan Tuhan dan memberi rasa syukur dengan beragam cara. Satu pertemuan yang indah selalu ketika berada di persekutuan do’a seperti itu.

“Beti… . Sebenarnya beta pung maksud datang ini malam, pasti lu su tau. Botong dua bakawan bagini lama ni… beta … .”

Messakh membuka percakapan ketika keduanya di meja makan.

“Makan do… Ais itu baru ba’omong.”  jawab Beti.

“We… pas lu pung bapa mama sonde ada to… andia ko beta mau omong kusus… .” sambung Messakh sambil mengambil secentong nasi di tempat nasi di atas meja. Dengan sepotong daging ayam dan sejumput sayur diselingi lu’at sayur laut, masing-masing piring telah terisi, sehingga keduanya mulai menikmati makanan itu yang didahului do’a oleh Beti.

Keduanya makan teramat perlahan. Rasanya rahang tidak kelihatan sedang bekerja. Lampu di ruang makan malam itu agak temaram. Rupanya aliran listrik malam itu sedang tidak stabil.

“Ini lampu kurang tarang. Spaning turun ini malam. Sonde sama ke biasa.”  Beti menjelaskan tentang suramnya cahaya lampu listrik malam itu.

Messakh menunduk sambil menikmati makanan di piringnya. Sesekali Beti mencuri pandang pada Messakh. Messakh mencoba menenangkan diri untuk menyatakan isi hatinya. Makanan di piring telah selesai disapunya. Segelas air yang dicampur gula cair pun telah disambarnya.

“Begini sa, Beti. Botong dua duduk di emper ko dapa angin sadiki ko?” saran sekaligus tanya dari Messakh.

“Lu pi duluan. Beta urus meja do,” jawab  Beti.

Beti merapikan kembali meja makan. Perlengkapan makan yang dipakai keduanya dirapikan pada tempatnya setelah dicuci terlebih dahulu. Ini sudah kebiasaan baik gadis manis ini.

Lima belas menit kemudian ia menghampiri Messakh yang sendirian duduk di teras rumah sambil mengapit sebuah gitar. Messakh sedang memainkan melodi lagu yang sudah teramat populer di telinga masyarakat Rote dan umumnya Nusa Tenggara Timur.

Bolelebo.

Melodi yang dimainkannya syahdu. Nada-nadanya indah mendayu diantarkan oleh semilir angin malam menembus hingga menyejukkan hati. Lagu itu mengingatkan Messakh akan kecintaannya pada tanah Rote, nusa Lote yang telah membesarkannya. Nusa Lote yang telah mengharumkan bangsa Indonesia dengan orang-orang beken seperti Foeh Mbura, W. Z. Johannes; Herman Johanes, Tompelo, dan beberapa tokoh nasional dan daerah yang mengukir prestasi pada masing-masing bidangnya. Kelak Rote-Ndao pun akan menghasilkan orang-orang luar biasa lagi untuk berkarya dan memberi warna berbeda yang merajut warna indah di republik ini.

Melodi itu terus dimainkannya sambil berkhayal. Seandainya pemerintah kabupaten Rote-Ndao memberikan satu penghargaan kepada para guru dengan sebutan Foeh Mbura Award, pasti banyak guru di Rote-Ndao bersaing meningkatkan kinerja dan prestasi. Banyak siswa di segala tingkatan sekolah akan berprestasi di sekolahnya, mengerucut ke level yang lebih tinggi hingga berpuncak pada prestasi internasional. Ini mimpi. Sebuah trofi Foeh Mbura Award dengan sejumlah uang sebagai pendorongnya bila dipertontonkan dalam kadar mumpuni bagai mas dua puluh empat karat, akan menjadi daya dorong yang teramat sangat kepada para guru. Satu yang pasti, Messakh mencintai Rote, Au Sue Lote

“Woe.. pak guru… Lu main melodi lagu Bolelebo ko, lu malamun?” tanya Beti.

Lamunan Messakh terhenti. Tarian jari-jemari yang dipertontonkan di terjelan wajah gitar dihentikan. Messakh tersenyum ketika dipanggil dengan sebutan pak guru.

Ternyata Messakh seorang guru. Guru sekolah dasar di salah satu sudut selatan pulau Rote. Mencapai lokasi itu butuh nyali juga. Ia harus melewatinya dengan berdegup jantung ketika ia pergi ke tempat tugas itu pada awalnya. Namun, kini hal itu sudah bukan sesuatu yang harus dipersoalkan. Beberapa tikungan tajam ketika mendaki sudah diaspal. Ia tidak lagi memperhitungkan semua itu. Ia melakukan tugasnya dengan tanggung jawab dan menerapkan seluruh kemampuan yang ada padanya untuk mengangkat dan menaikkan derajat kemanusiaan manusia Rote-Ndao pada masa ini dan masa yang akan datang.

Mesaakh dan Beti saling pandang di teras rumah. Messakh masih mengapit gitar. Ia hendak mencoba sekali lagi memainkan melodi Bolelebo. Tapi, hatinya sedang gundah.

“Beti. Beta musti pulang. Besok pagi beta mesti pi skola. Lu tau to. Beta barangkat dari Ba’a pi selatan sana musti papagi. Nanti talat kapala sakola nanti maruak sang beta.”  kata Messakh.

“Ia. Lu bole pulang. Ma, bapa deng mama balom datang ni. Tadi mama bilang tidor. Na kalo lu pulang, trus dong datang ko lu sonde ada karmana? Mama maruak beta, pasti.” Beti menjelaskan.

“Beti… .” Messakh berujar dengan nada baritonnya.

Lama ia memandang pada Beti. Beti tertunduk. Melodi Ofa Langga dimainkan Messakh.

Orang tua Beti tiba kembali. Mereka pulang dengan wajah berseri-seri. Rupanya di persekutuan do’a itu ada penguatan-penguatan yang membuat hati mereka bersuka sehingga tergambar di wajah kedua orang tua itu.

Percakapan basi-basi dengan Messakh tentang tugas yang diembannya di wilayah Lole. Orang tua Beti berusaha agar Messakh tidak canggung dalam percakapan itu.

Messakh mengisahkan bagaimana dulu sulitnya jalan masuk ke wilayah selatan itu. Ada el es em yang membantu membuka isolasi dengan membuat jalan baru. Ada program dari kementerian kesejahteraan rakyat yaitu pe en pe em infrastruktur yang melanjutkan. Dilanjutkan pula oleh peningkatan status dan kualitas jalan pada masa pemerintahan bupati pertama di Rote-Ndao, dan kini dilanjutkan oleh bupati berikutnya. Sungguh suatu kemajuan bidang infrastruktur yang menonjol.

Messakh sendiri menyadari pasti pemerintah Kabupaten Rote-Ndao begitu sibuk mengurus berbagai hal, sehingga harapan masyarakat belum dapat terjawab pada hari ini. Bupati Rote-Ndao yang sedang memimpin sekarang pun bermimpi suatu hari nanti ketika ia sudah tiada, masyarakat Rote-Ndao berkendaraan darat dari pulau Rote ke Kota Kupang. Bila ada Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura, maka pasti suatu ketika ada jembtan Kupang – Ba’a entah dengan nama apapun. Mungkin Jembatan Kuba, atau Jembatan Tironda, atau jembatan Bolok-Ba’a disingkat Bolba atau apapun, yang pasti akan terwujud pada kira-kira sebelum mengakhiri abad dua puluh satu. Semua perbicangan berkualitas cukup baik ini dilakukan antara Messakh dengan ayah Beti di teras rumah itu.

Ayah Beti seorang tokoh masyarakat di desa Lalao. Ia bercerita pada Messakh tentang ritual-ritual di Nusak Bilba seperti Pengo Dua do Helu Telu, Dolu Pua do Lona Huni, Keka Hitu do Tua Lima, Oka Bete do Dae Hade, Fani Oe do Batu Leli dan yang lainnya.

Sang tokoh masyarakat ini bercerita dalam bahasa Rote yang diselingi bahasa Melayu Kupang. Ia sadar bahwa para pemuda zaman ini lebih suka menggunakan bahasa Melayu Kupang daripada bahasanya sendiri. Ia sadar pula bahwa bupat Rote-Ndao sedang memberi instruksi agar masyarakat kembali berbahasa Rote agar tidak hilang jati diri.

Sekelumit ayah Beti bercerita tentang Manek Lamaketu Liu Lai yang membagi wilayah itu menjadi Bilba dan Ringgou sehingga ada cerita tentang Pengo Dua do Helu Telu. Menarik sekali cerita ayah Beti sampai-sampai Beti sendiri harus menghentikan ayahnya.

“Bapa ni, su tenga malam. Nanti Messakh mau pi sakola jam barapa besok pagi? Bagini lama bapa sonde carita kasi beta. Ini malam pak Messakh datang na, bapa pung rajin lai.” Beti seakan memelas padahal sedang bermanja.

“Beti, lu sonde tau. Ini sejara yang beta bisa kasi di ana-ana dong di sakola. Balom ada buku ju beta bisa carita ko jadi sama ke mulok ee.” jawab Messakh

“Lu dengar Beti, Messakh sa ada sanang. Yang bapa carita tadi ni, jadi bahan ko dia ajar di ana sakola dong. Na, lu yang guru di sini su carita kasi ana skola ko balom?” tanya ayah Beti.

“Carita apa? Ko ini malam baru beta dengar carita panjang lalolak deng pak Messakh. Bapa pung bae lai…” balas Beti.

Ternyata Beti pun seorang guru. Ia bertugas di timur pulau Rote di kampung kelahirannya Lalao. Ayahnya tokoh masyarakat di sana.

Mereka pun bubar dari teras rumah itu. Beti dan Messakh saling berpandangan penuh makna. Di hati keduanya ada bunga-bunga bersemi. Wajah mereka bersinar sekalipun malam telah larut untuk menghantar tubuh lelah ke nusa boslak si kasur empuk.

Semalamam Messakh tak dapat memejamkan matanya. Ia tidak mengetahui bahwa di ruangan lain sedang ada diskusi segitiga yang hangat antara orang tua Beti dengan Beti. Diskusi yang menghasilkan keputusan bahwa ayah dan ibu Beti merestui hubungan pertemanan Messakh dan Beti yang dapat ditingkatkan kualitas pertemanan mereka.

Beti tidak sabar menunggu hari pagi tiba. Bintang fajar telah terbit di ufuk timur. Ayam-ayam jantan memperdengarkan suara kejantanan mereka ditingkahi suara kerbau dan sapi di sekitar desa Lalao pertanda hari menjelang pagi.

Bunyi deru mesin-mesin sepeda motor di kejauhan kedengaran sampai ke telinga Beti. Ia segera mengetahui bahwa kehidupan di pagi hari berikutnya telah tiba. Bunyi deru sepeda motor adalah satu pertanda baru yang memberi warna dalam budaya  masyarakat yang mengalami pergeseran budaya. Setiap pagi dipastikan ada deru sepeda motor. Istilah umum yang dikenal adalah kasi panas motor.

Messakh telah berdiri di teras rumah. Ia meraih jaket, helm dan kunci kontak sepeda motornya. Menunggu dengan harapan yang mencemaskan dan menggemaskan.

Beti menghampirinya. Memandangnya dalam tatapan penuh arti. Ia mendekatinya. Beberapa saat kemudian dengan disaksikan tiang beton penyangga teras rumah, dan diiringi nyanyian pagi dari alunan melodi natural kicau burung pagi dan suara kokok ayam jantan, hidung dan pipi keduanya bersentuhan yang diracik dengan cinta mendalam. Messakh memeluk erat Beti, dan sebaliknya Beti berpasrah pada pelukan hangat Messakh.

Di keremangan pagi, di depan rumah adat yang kokoh berdiri sejak 1901, ayah dan ibu Beti tersenyum ceria. Temaram suasana pagi menghalangi Messakh dan Beti yang tidak menyadari bahwa ada orang tua yang turut menyaksikan perwujudan cinta sepasang kekasih di pagi buta itu. Roh-roh para leluhur pun bersenandung ofa langga dan menari di alam yang tidak terlihat oleh Beti dan Messakh. ***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Cerpen Hadi Sastra Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya
Go to Top