Menulis pun Juga Perjuangan

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Seiring dengan datangnya bulan November, maka seentaro negeri menyambutnya dengan suka cita. Bukan karena soal hujan melainkan karena perayaan hari pahlawan. Sehari sebelum tanggal 10, ditetapkan pula pahlawan nasional yang dikukuhkan melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia.

Ketikan ini bukan soal surat keputusan itu. Sekadar refleksi bahwa diantara para pahlawan, ada yang dikukuhkan karena jasanya dalam soal tulis menulis. Raja Ali Haji salah satunya. Sang Pujangga yang juga peletak dasar-dasar tata bahasa Melayu patut dijadikan contoh betapa dengan menulis merupakan bagian dari perjuangan.

Untuk menorehkan gagasan, setara dengan energi yang dikeluarkan para tentara yang bertempur di medan juang. Mereka bersama-sama memilih perjuangan walau di lahan yang berbeda. Menulis juga perlu kerja keras. Saat berusaha merumuskan sebuah ide sampai selesainya sebuah tulisan, rangkaian itulah yang juga perjuangan. Maka, mengapresiasi sebuah karya tulis sebagai bagian perjuangan, Raja Ali Haji dinobatkan juga sebagai seorang pahlawan nasional.

Jikalau Raja Ali Haji di pulau Sumatera, sisi lain Indonesia adapula RA Kartini. Sang Putri, dianugerahi pahlawan nasional dimulai dari surat-suratnya yang diwujudkan dalam bentuk aksi nyata. Tidak hanya tentang ide yang didialogkan dengan kawannya yang jauh di negeri Belanda sana tetapi juga kemampuannya mengartikulasikan pendapat yang dipegangnya untuk diwujudkan menjadi sebuah karya. Berjuang untuk mendidik putri-putri yang ada dalam lingkungannya. Walau tujuannya bukan untuk mendapat pengakuan, akhirnya kerja kerasnya diberikan salah satunya dalam bentuk pengakuan sebagai pahlawan nasional.

Jikalau di masa lalu, menulis perlu perjuangan, maka saat ini juga tetap perjuangan. Melimpahruahnya informasi dan tersedianya flatform tulisan yang beragam sehingga godaan untuk melakukan plagiat dan salin-tempel meningkat juga. Padahal, dengan teknologi yang sama justru kemudahan untuk menulis juga tersedia. Tidak perlu lagi berpindah ruang sekadar untuk mendapatkan referensi. Semuanya menjadi mudah, cukup dengan ketikan saja, langsung tersedia dengan biaya yang sangat murah. Hanya perlu akses internet saja.

Maka, pilihannya tinggal di tangan para penulis. Terjerembab pada kehinaan karena plagiat yang tentunya tidak dapat disembunyikan. Cepat atau lambat akan juga terkuak. Minimal membohongi hati nurani.

Pada saat yang sama, menulis dengan kesungguhan, ketelatenan mengolah data, mengecek kembali kredibilitas referensi, semuanya adalah perjuangan menuju kemuliaan. Turut dalam menyumbang bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Bonusnya menanti, karya akan menjadi pintu-pintu untuk mendapatkan keberkahan. Bukan soal materi, tetapi banyak hal lain yang bukan ukurannya pada sebuah koin ataupun poin. Pada saat bisa melepaskan diri dari semua itu, maka jalan untuk menghasilkan sebuah karya akan terbentang lurus dan semakin mudah. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top