Saat Liburan Panjang Tiba

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Oleh Sardono Syarief

Andra segera menyimpan buku bacaan yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah ke dalam tas. Sebagai anak yang rajin dan pandai, dia ingat betul nasihat Pak Yunan, guru kelasnya. Bukankah satu jam sebelum membagikan buku rapor kenaikan kelas kemarin, Pak Yunan telah berpesan demikian?

“Anak-anak,”ujar pak guru kelas 5 SD itu. “Di dalam menikmati liburan panjang yang bakal dimulai besok,”sambungnya. “Jangan lupa manfaatkan waktu kalian sebaik-baiknya! Gunakan waktu liburan panjang kalian untuk kegiatan yang bermanfaat!”

“Kegiatan apa saja, misalnya, Pak?”sela Nety dari bangku depan.

“Misalnya…,”sahut  Pak Yunan. “Membantu kerja orang tua di rumah. Atau membantu kerja Kakek, ini bila kalian berlibur ke rumah Kekek. Kalian bantu dengan ikhlas agar Kakek dan Nenek senang atas liburan kalian di rumahnya.”

“Baik, Pak!”seru anak-anak. “Kami akan memanfaatkan liburan panjang besok dengan sebaik-baiknya,”demikian janji serempak Andra dan kawan-kawan.

Mendengar janji anak-anak, Pak Yunan tersenyum gembira.

“Namun,”ujar Pak Yunan menambahkan. “Pak Guru juga akan memberi tugas buat kalian.”

“Tugas apakah kiranya, Pak?”tanya Riandri seraya berdiri dari tempat duduknya.

“Tugas untuk menyusun laporan tentang kegiatan kalian selama liburan tersebut.“

“Waduuuhhh…!”rajuk anak-anak seperti koor.

“Tidak usah sajalah, Pak!”tawar Rika penuh harap.

“Memangnya kenapa?”tanya pak guru muda yang berhidung mancung itu sembari tersenyum.

“Kami tidak mampu membuatnya, Pak,”jawab Rika apa adanya.

“Membuat laporan tidak bisa?”kening Pak Yunan berkerut dalam.

“Tidak, Pak…!”sahut anak-anak, ramai.

“Ah, masa iya? Bukankah Pak Guru sudah pernah membimbing kalian tentang tatacara menyusun laporan?”

“Betul, Pak. Tapi kami tak bisa membuatnya. Kami sudah lupa, Pak,” Melati ikut ambil bicara seperti mewakili teman-temannya.

Pak Yunan, guru yang ramah itu, tersenyum sesaat. Kemudian beliau berkata,”Begini, Anak-anak,”ujarnya. “Dari tugas yang akan Pak Guru berikan ini,”lanjut Pak Yunan. “Nantinya akan Bapak pilih tiga laporan yang tergolong baik.”

“Maksud, Pak Guru?”sela Radin ingin mengerti.

“Maksud Pak Guru,”timpal Pak Yunan. “Dari ketiga karangan yang tergolong baik tersebut akan Pak Guru usulkan untuk bisa mendapat hadiah Tabanas bagi masing-masing penulisnya.”

“Maaf, Pak,”sela Mirzad seraya mengacungkan tulunjuk jari tangan kanannya.

“Iya? Apa yang hendak kautanyakan, Zad?”

“Tabanas itu kependekan dari apa, Pak?”demikian Mirzad bertanya.

“Oh…?”mulut Pak Yunan membentuk huruf O bulat-bulat. “Siapa yang tahu, Anak-anak?”

“Saya, Pak!”Naning mengacungkan telunjuk tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Iya. Coba kamu sebutkan, Naning!”

“Tabanas kependekan dari Tabungan Nasional, Pak.”

“Betul!”sahut Pak Guru muda itu. “Jadi, bagi ketiga penulis yang karyanya tergolong bagus,”sambungnya.“Akan Pak Guru  usulkan untuk bisa mendapat Tabungan, Anak-anak.”

“Ah, yang benar, Pak?”Radin kurang yakin.

“Benar, Din,”sahut Pak Yunan meyakinkan. “Tabanas ini asalnya bukan dari Pak Guru,”lanjutnya. “Melainkan dari Panitia Sayembara Mengarang Laporan Perjalanan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten.”

“Betulkah itu, Pak?”potong Listyani penuh penasaran.

“Betul, Lis,”jawab Pak Yunan mantap. “Dalam rangka mengisi kegiatan liburan panjang tahun ini,”ujar Pak Guru kelas 5 itu lebih lanjut. “Dinas Pendidikan Kabupaten sengaja menyelenggarakan sayembara mengarang laporan perjalanan bagi anak-anak sekolah dasar. Dari sejumlah karangan laporan yang masuk ke panitia, nantinya akan dipilih 6 karangan terbaik. Masing-masing akan diranking sebagai juara I, II, III, dan juara harapan I, II, III. Bagi penulisnya, akan diberi Tabanas yang cukup banyak jumlahnya.”

“Dapat diandalkan itu, Pak?”tanya Andra meminta keyakinan.

Pak Yunan mengangguk. Meyakinkan.

“Kalau begitu, baiklah, Pak. Tugas Pak Guru kami terima dengan senang hati. “Bagaimana, Teman-teman?”

“Oke, Bos..!”sahut semua teman Andra serempak.

Usai itu, Pak Yunan menyuruh Andra menyiapkan teman-temannya untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kini hari pertama liburan panjang tiba. Pada hari itu Andra tidak jadi membaca buku cerita yang dipinjam dari perpustakaan sekolahnya kemarin. Melainkan segera saja anak itu berkunjung ke rumah nenek yang tinggal di bantaran Kali Loji.

“Selamat pagi, Nek!”salam Andra ketika tiba di rumah neneknya.

“Selamat pagi,”sahut neneknya setelah sesaat ditolehnya ada Andra, seorang cucunya yang datang. “Dari mana saja kau, Cucuku?”sapa nenek Andra kemudian dengan ramah.

“Dari rumah saja, Nek. Sengaja kemari. Boleh bukan, Nek?”

“Oh, tentu bolehlah…Tidak sekolahkah kau, Andra?”

“Tidak, Nek. Hari ini mulai libur panjang,”jawab Andra menjelaskan.

“Oh, ya?”ujar neneknya mengerti. “Sudah makankah kau, Cucuku?”

“Sudah, Nek.”

Setelah agak lama bermain dan berbincang dengan neneknya, maka mulailah Andra mewawancarai neneknya demikian.

“Maaf, Nek. Apa sebabnya Pekalongan ini dijuluki sebagai Kota Batik? Apakah Nenek tahu alasannya?”

“Oh, jelas tahu, Ndra!”jawab nenek Andra sembari mengambil duduk di kursi. “Bisanya Pekalongan dijuluki Kota Batik,”lanjut perempuan yang berambut sudah banyak ubannya tersebut dengan pelan. “Sebabnya dari kota ini banyak dihasilkan kerajinan batik, Cucuku.”

“Mengapa sebabnya air di Kali Loji bisa bergonta-ganti warna, Nek? Kadang coklat, kadang merah, kadang biru, kadang kuning, dan kadang hitam?”

“Sebabnya,”sahut nenek yang ditanya. “Air di Kali Loji sudah banyak tercemar obat batik sablon. Para pengusaha batik di kota Pekalongan ini tak sedikit yang membuang limbah sablon ke Kali Loji. Kali yang semasa Nenek kecil dulu airnya bening lagi jernih.”

“Kalau begitu, siapa sebenarnya yang harus menjaga kejernihan air di Kali Loji ini, Nek?”

“Ya tentu kita semua,”sahut nenek cepat. “Sebagai manusia, kita harus bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Baik yang berupa air, hutan, tanah, maupun udara sebagaimana yang dianugerahkan Tuhan kepada kita semua, Cucuku.”

Mendengar penjelasan neneknya seperti itu, mengangguk-angguklah Andra berulangkali. Anak lelaki itu jadi paham benar akan apa yang dimaksudkan neneknya.

“Terima kasih atas semua keterangan Nenek.”

“Untuk apa kamu bertanya tentang Kali Loji, Andra?”dengan rahut wajah keheranan, orang tua itu bertanya.

Andra tersenyum.

“Untuk Andra tulis sebagai laporan kepada Pak Guru, Nek.”

“Mengapa kau harus menulis laporan tentang Kali Loji? Bukan kali yang lain?”

“Karena Andra tertarik dengan kali yang airnya tak pernah jernih. Kali yang membentang di tengah-tengah kota Pekalongan. Kali yang unik dengan airnya yang senantiasa berubah-ubah warna itu, Nek.”

“Oooh?”mulut Nenek Andra membentuk huruf O bulat seraya mengangguk-angguk paham.

“Baik, Nek. Andra pamit pulang dulu, ya!”

“Sebentar! Nenek titip kue klepon kesukaan Ibumu dulu, Ndra!”cegah nenek.

Setelah Andra menerima titipan dari neneknya, pulanglah ia.

Dengan hasil wawancara yang diperoleh dari neneknya yang pensiunan guru SD tadi, Andra bermaksud menyusun laporan tentang kelestarian lingkungan hidup di sepanjang Kali Loji.

“Mudah-mudahan laporan yang hendak kususun nanti bisa menjadi naskah pilihan  Pak Yunan. Syukur lagi jika laporan ini bisa keluar sebagai pemenang pertamanya. Betapa senangnya rasa hatiku!”demikian kata hati Andra penuh sejuta angan. ***

Sardono Syarief
Guru SDN 01 Domiyang, Paninggaran, Pekalongan 51164

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,

KEJUJURAN YANG PERNAH HILANG

Cerpen: Sardono Syarief (Guru SDN 01 Domiyang-Paninggaran-Pekalongan, Agupena Jawa Tengah) “Reno! Tunggu!”seru
Go to Top