Guru, Kau Goreskan Luka dan Duka?

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen Heronimus Bani

Hari itu, hari Minggu. Serombongan keluarga mengenakan kain kabung bergegas di jalanan beraspal kasar di bibir pasar Oesao. Pasar Oesao, salah satu pasar yang menggeliatkan perekonomian di Kabupaten Kupang. Nampak sangat jelas pada air muka mereka kekecewaan berbalut duka. Emosi hendak meledak. Tiada kabar sakit, tiada berita buruk dari anggota keluarga terdekat, bahkan dari yang tersayang sekalipun.

Telah meninggal dunia seorang anggota keluarga. Ia seorang suami dari satu orang isteri, dan ayah dari tiga orang. Ia tidak sempat mengucapkan kata-kata bertuah sekedar pesan terakhir. Hanya satu untaian kata keluhan, “beta pung badan sakit!”  Begitulah si bapak menyampaikan kepada isteri dan anak-anaknya.

“Bapa, makan ko istirahat dolo. Mangkali talalu cape’. Ini minggu talalu sibuk, to. Pi ka ka ge, ais karja sama-sama deng kawan dong di sakola yang paling jao, wuang? Balom lai, mesti mengajar,” sang isteri mengingatkan.

Sang Guru mendengar peringatan isteri tercinta. Tanpa memberi komentar apapun, ia melakukan apa yang dimintakan isterinya. Makan. Telah obat. Berbaring sejenak.

Beberapa menit kemudian terdengar suara rintihan. Suara itu datang dari kamar tidur sang Guru.

“Oh… akh…, akh…, akh…, ibu…, ibu…! “ sang Guru merintih menahan sakit.

Nina, si sulung tiba lebih awal di kamar tidur orang tua mereka. Ia menyaksikan ayahandanya merintih menahan sakit. Sekujur tubuhnya gemetaran. Ia mendekati ayahandanya. Memeluk erat. Ibunya tiba. Kepanikan terjadi. Tubuh sang Guru kejang. Kejang. Kejang. Lalu…

hhhh… aaahhhhh….”

Terdengar napas mendesis, lalu diam. Raut muka sang Guru yang tadinya masih kelihatan agak memerah, kini berubah putih dan kaku.

“Bapa… bapa… bapaaaa… “ si sulung memanggil. Suara panggilan yang sama lebih keras dari sang isteri. Di ruang tamu sudah sesak. Tetangga dan kerabat terdekat telah memenuhi ruang tamu yang hanya dua belas meter persegi. Berkali-kali anak dan isteri memanggil-manggil. Tidak ada lagi suara, bahkan  desis sekalipun.

“Ama ee… ama ee…!” pecah suara tangis dari anggota keluarga.

Dari kata yang diucapkan jelas, mereka etnis Sabu/Hawu. Orang Sabu memanggil laki-laki dengan sebutan ama, dan ina untuk sebutan perempuan. Hampir serupa dengan orang etnis Timor, aam atau ama’ dan ain, aina’ ena’.

Seseorang mendekat. Rupanya ia dikenal sebagai petugas kesehatan. Namanya, Ema. Ia mendapat ruang sempit untuk dapat mendekati jenazah yang masih didekap erat sambil ditangisi sang isteri dan si sulung. Ema, sebagai petugas kesehatan hendak memastikan, apakah sang Guru telah meninggal atau masih mungkin untuk dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat. Beberapa saat kemudian, ia berdiri. Menarik nafas. Melempar pandang ke seluruh anggota keluarga yang ada di dalam ruangan itu. Hening. Suara tangisan pun berhenti.

“Pak Guru sonde ada lai. Botong sonde bisa bawa pi ruma sakit!” begitu penjelasan Ema.

“Bapa… bapaaa… bapaaa…” suara tangis pecah kembali.

Kabar pun disebar. Seluruh jaringan media sosial milik para tetangga menempatkan status di dinding masing-masing. Kabar meninggalnya sang Guru beredar hanya dalam beberapa detik saja. Ya. Inilah kecanggihan manusia milenial. Tidak perlu menggunakan kuda pembawa kabar duka sebagaimana di Tana Hawu. Tidak butuh membuang-buang biaya besar untuk menyewa pembawa kabar duka yang berkendaraan sepeda motor. Kaum kerabat di nusa kenaripun telah mengetahui akan kabar meninggalnya sang Guru.

Oh….!

Sang Guru berasal dari etnis Alor. Isteri yang dipilih dan dicintainya berasal dari etnis Sabu/Hawu. Perkawinan antaretnis. Saling berterima antardua etnis dan entitas yang berbeda. Rukun-rukun saja. Itulah Nusa Tenggara Timur. Itulah Indonesia. “Mengawinkan” perbedaan? Itu sudah biasa.

Tangisan pecah di antara gladi tarian lego-lego yang dipersiapkan untuk memasuki upacara persiapan musim tanam, pate baloi. Para penari lemas, terlebih pada Nora, saudari sang Guru. Ia berkali-kali memelototi smartfon milik temannya. Di sana lewat media wats aap ia melihat sebagian tubuh saudaranya telah dibalut pakaian duka. Ya. Ia telah meninggal.

Mahari segera turun dari puncak pohon lontar. Ia sedang mengiris mayang lontar yang memberinya bahan baku pembuat gula kental khas Do Hawu. Mereka telah melakukan ritual Dabu dan Bange Liu beberapa minggu sebelumnya untuk memanggil mayang lontar muncul, dan mempersiapkan lahan untuk musim tanam tahun ini. Ia mendapat kabar lewat pesan singkat yang masuk pada telpon genggam yang ia bawa sampai di puncak pohon lontar. Setelah membaca, ia berlagak santai. Ia masih berada di tempat yang beresiko tinggi.

Mahari terdiam sesaat setelah menginjakkan kaki kembali di tanah. “Madoke made ke!” (terjemahan: Madoke sudah meninggal).

Oh… ternyata sang Guru diberi sapaan layaknya para lelaki di pulau Sabu. Madoke ucapan pendek dari Ama Doke. Sebagaimana Mahari, dari Ama Hari. Kaum lelaki yang tidak berasal dari Sabu, tetap mendapatkan tempat di hati para Do Hawu untuk mendapatkan nama menurut tata cara pemberian nama pada masyarakat Sabu.

Menarik. Sang Guru yang datang dari Nusa Kenari Tribuana mendapat nama sebagaimana layaknya orang Sabu. Madoke. Itulah namanya. Dengan nama itu, ia diterima dan disayangi, bukan sekedar kunyadu, kela, a’a, ari, tiwu menyi dan menantu, tetapi menjadi bagian yang seakan-akan terlahir dari suku Sabu. Itulah cara etnis Sabu/Do Hawu menerima etnis lain di sekitarnya masuk ke dalam entitas mereka.

Upacara pemakaman berlangsung. Upacara menurut agama yang dianut Madoke dan Nateru, dan menurut cara kedinasan berhubung sang Guru masih aktif sebagai seorang abdi negara dan guru professional. Hujan memberi warna pada kedua upacara ini. Langit seakan turut menangis. Upara berakhir, hujan berhenti.

Rekan-rekan guru berpakaian khas persatuan guru mengusung keranda jenazah menuju mobil jenazah. Barisan pelayat mulai dari pejalan kaki, berkendaraan roda dua, dan roda empat perlahan-lahan semuanya dirundung duka menuju ke tempat pemakaman umum Oesao. Di sanalah sang Guru dimakamkan.

Tubuh dan jasadnya ditanam. Semasa hidupnya, ia menanam pengetahuan dan ketrampilan pada anak didiknya. Kini, ia tinggal kenangan. Selamat jalan a’a; ari, kaka, bapa dan tuwu menyi. Kami mengenang dirimu. Kami berduka dalam guratan kenangan manis ketika kau berada di sekolah bersama rekan dan anak didikmu. Kami berduka dalam warna lukisan ayah, ibu dan anak.

Apakah engkau meninggalkan luka dan duka selamanya pada kami, hai sang Guru?

Tuhan… jadikan kami anak-anak-Mu yang ikhlas melepas kepulangannya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Cerpen Hadi Sastra Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya
Go to Top