Menulis Tak Hanya Soal Pangkat

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Aktivitas menulis kadang dimulai karena itu kewajiban. Saat kali pertama belajar menulis, guru memberikan tugas untuk mengarang. Bahkan, ada sesi khusus untuk menulis indah. Itu untuk pembelajaran di sekolah dasar. Hanya saja, saat menggeluti profesi sebagai akademisi, sejatinya menulis dalam artian publikasi menjadi tanggungjawab profesi. Sehingga bisa saja diperluas menjadi “menulis bukan karena naik pangkat tetapi karna menulis bisa naik pangkat”.

Dahulu kala, dalam cerita kuno bahwa beberapa orang yang menjadi tenaga professional di perguruan tinggi hanya menulis karena kepentingan naik pangkat. Akhirnya, setelah menulis kemudian tidak lagi menulis sama sekali. Ini sebuah ironi, akhirnya negara antah berantah tersebut jikalau semua perguruan tinggi yang berjumlah 4.000-an dikumpulkan karya-karya warganya tidak mampu menyandingi negara tetangganya. Guru besarnya hanya menjadi GBHN (Guru Besar Hanya Nama). Dengan menyandang gelar-gelar jabatan fungsional padahal miskin karya. Semata-mata karena hanya untuk naik pangkat saja. Padahal, negara itu memiliki aset warga negara yang penduduknya sepuluh kali lipat dibandingkan negara tetangga.

Semoga cerita legenda tersebut tidak terjadi di negara kita, Indonesia. Sementara gurupun juga dibebani kewajiban untuk menulis. Mereka, wajib mengajukan karya ilmiah yang terbit di jurnal sebagai bagian dari tugas pokok. Apatah lagi, dosen dan peneliti. Bahkan salah satu beban kerja utamanya adalah publikasi ilmiah. Ini akan menjadi langkah awal dalam pengembangan keilmuan.

Menulis bisa jadi urusan wibawa dan marwah bangsa. Dalam konteks mikro, maka itu menjadi wibawa dan marwah seorang akademisi. Dengan demikian, mewariskan ilmu pengetahuan akan sangat berarti jikalau sudah tertulis dan terpublikasi. Dengan demikian, akan terus abadi untuk dibaca dan didiskusikan siapapun juga, termasuk orang-orang yang mengkaji ilmu pengetahuan setelah penulisnya wafat.

Dengan menulis pula, maka umur seseorang tidak terkait dengan jatah hidup. Secara biologis bisa saja sudah wafat tetapi secara sosiologis terus hidup dan dikenang. Ini memungkinkan terjadi jikalau mewariskan tulisan yang terpublikasi. Terkadang, hanya kepentingan pragmatis salah satunya karena pangkat. Maka, buku yang ditulis hanya dicetak secara terbatas. Sehingga bisa digunakan untuk kenaikan pangkat semata. Itu di masa lalu, sekarang ini semua buku yang terbit untuk digunakan sebagai syarat kepangkatan harus tersedia secara daring (online). Sehingga walaupun dicetak terbatas tetapi versi daring tersedia, dapat saja dinikmati khalayak publik.

Begitu pula soal reputasi lembaga. Dengan publikasi ilmiah para dosennya, akan memberikan dampak bagi ilmu pengetahuan dan bonusnya reputasi lembaga di lingkungan akademik akan mendapatkan pengakuan. Jikalau institusi pendidikan tinggi hanya berkutat pada soal-soal administrasi belaka, maka akibatnya akan tertinggal dan alumninya tidak berterima di pasaran kerja. Salah satu bentuk pengakuan masyarakat terhadap perguruan tinggi jikalau alumninya dapat bekerja pada pelbagai sektor pekerjaan. Termasuk para pemilih saat pemilu yang mempercayakan suaranya kepada seorang politisi salah satu faktornya karena reputasi bangku kuliah sang politisi.

Dengan menulis pula, maka ide-ide para akademisi dapat terbaca oleh masyarakat luas. Ini kesempatan untuk mengabdikan ilmu tidak hanya saat mengajar tetapi merentasi ruang dan tembok perkuliahan. Melalui tulisan, maka akan membantu masyarakat dalam memahami sebuah konteks masalah. Selanjutnya, akan menjadi referensi para pembaca sehingga tidak tejebak pada ketidaktahuan. Ini bisa dilakukan jikalau para ilmuwan dan akademisi secara rutin menyebarkan informasi sesuai dengan dinamika masyarakat.

Dengan demikian, menulis sejatinya tidaklah sesederhana naik pangkat. Tulisan berdampak luas dan menjadi pilar peradaban manusia. Perintah Alquran justru dimulai dengan membaca. Ini juga dapat dimaknai bahwa menulis adalah perintah yang sama dengan membaca karena tidak akan pernah memungkinkan untuk membaca jikalau tidak disediakan tulisan terlebih dahulu. Ini bermakna juga bahwa menulis juga bagian dari ibadah. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top