Uab Meto’ Amfo’an yang Oral menjadi Tulisan

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Heronimus Bani

Wilayah Amfo’an dewasa ini terdiri dari Amfo’an Selatan, Amfo’an Barat Laut, Amfo’an Tengah, Amfo’an Barat Daya, Amfo’an Utara, dan Amfo’an Timur di perbatasan dengan Timor Leste (RDTL). Semua wilayah kecamatan itu dilihat dari aspek administrasi pemerintahan. Sementara dari aspek ilmu Bahasa, Amfo’an ada dalam induk Bahasa, Uab Meto’. Orang Amfo’an tidak mengucapkan Uab Meto’, tetapi mengucapkan Aguab atau Molok Meto’. Mereka berkomunikasi bahkan dengan masyarakat Oekusi pengguna Bahasa Baikeno’ dalam Uab Meto’ (Aguab/Molok Meto’).

Pengguna Uab Meto’ gaya Amfo’an rindu agar Bahasa mereka dapat diaktualkan dalam wujud tertulis. “Permohonan” para tokoh: agama, adat, masyarakat, dan lembaga gereja di wilayah ini disampaikan kepada Unit Bahasa dan Budaya Kupang, suatu institusi khusus yang dibentuk oleh Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), sebagai tangannya.

UBB sebagai tangan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ditugaskan untuk mendata Bahasa-bahasa di lingkungan pelayanannya. Selanjutnya, menerjemahkan alkitab ke dalam Bahasa-bahasa itu. Hasil kerja UBB antara lain: Perjanjian Baru (PB) Bahasa Melayu Kupang, PB Bahasa Dhao, PB Bahasa Helong, PB Bahasa Tetun, PB Bahasa Amarasi, PB Tii. Tugas lainnya, menyiapkan bahan-bahan bacaan sekolah minggu, dan bahan bacaan lainnya untuk memperkaya khazanah literasi. Suatu tim diutus ke Lelogama, kota kecamatan Amfo’an Selatan. Tim ini ke tempat ini dengan misi, melakukan upaya mewujudkan niat para tokoh agar Bahasa lisan (oral) menjadi tertulis.

Sebagai Bahasa lisan bagaimana menjadi Bahasa tulis? Tidak mudah.
(Bani, 2017) dalam makalahnya yang ditulis dalam Bahasa Melayu Kupang menjelaskan secara kesulitan dan kemudahan menjadikan Bahasa lisan menjadi Bahasa tulis. Kesulitan yang dimaksud antara lain;
• Mulai tulis cara karmana?
• Sonde tau pola deng gaya bahasa (SPOK ko apa; ini sastra, bahasa tinggi, ko bahasa pasar?)
• Pilih kata (diksi) susah (sama ke banya kata, sonde tau mana yang paling bae untuk satu maksud).

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
• Bagaimana mulai menulis?
• Pengetahuan Bahasa tentang ejaan dan gaya bahasa belum ada, (SPOK atau sastra, atau bahasa tinggi, atau bahasa pasar?)
• Menemukan diksi amat susah berhubung banyak kata yang mirip.

Dalam millennium ketiga ini, produk teknologi khusus untuk pengerjaan segala hal yang sifatnya tulis-menulis ada kemudahan. Listrik menjadi daya dukung; computer dalam berbagai jenis, bentuk, nama dan merk. Softprogramm yang diciptakan oleh para ahli TIK semakin memudahkan banyak program literasi, termasuk mengaktualkan yang lisan menjadi tulisan.

Tim ini tiba. Dua puluh tiga November kegiatan dimulai. Hadir tiga puluh enam orang pemerhati masalah Bahasa daerah. Mereka terdiri dari rohaniawan kristen, guru, dan tokoh masyarakat.

Para peserta mendapat penguatan awal dari Pdt. Dr. Mery Kolimon, Ketua MS GMIT. Ia menyadari bahwa di dalam wilayah pelayanan GMIT ada beberapa kelompok Bahasa. Varian Bahasa yang dimiliki masyarakat/umat adalah karunia Tuhan dan modal yang tidak boleh diabaikan. UBB dalam tugas pendataan kelompok Bahasa dan usaha untuk mengaktualkan patut diapresiasi. Para pelayan Kristen dan segenap pemerhati Bahasa yang bekerja dengan maksud pelestarian Bahasa bukan saja mengetahui secara teoritis, tetapi sampai pada praktiknya.

Kegiatan lokakarya ini diarahkan dengan beberapa materi, seperti: pengalaman para penerjemah terdahulu yang bekerja dalam UBB, antara lain: Bahasa Amarasi dan Bahasa Tetun. Dua pengalaman ini disampaikan oleh masing-masing coordinator tim. Materi lainnya, ejaan Uab Meto’ gaya Amfo’an, oleh seorang pendata Bahasa dari Australian National University (ANU), Kirstin Muti Lali; Sejarah penerjemahan Alkitab, oleh Benjamin Grimes.
Lokakarya ini diharapkan menghasilkan bahan-bahan sederhana, seperti: teks dari alkitab, teks cerita anak-anak, teks lagu dan kamus bergambar. Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka menyadari bahwa Bahasa yang mereka pakai patut dilestarikan. Salah satu di antara upaya itu adalah dengan menuliskannya.

Sepanjang hari siang hingga malam, rasanya mereka ingin segera memiliki alkitab dalam Bahasa mereka sendiri. Padahal, menerjemahkan alkitab bukan pekerjaan satu tim semata. Masih diperlukan adanya ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan maksud penerjemahan. Para ahli itulah yang ikut menentukan bahwa suatu terjemahan itu sudah sesuai standar atau belum.

Ada harapan besar bahwa kelompok pengguna Uab Meto’ di Amfo’an akan belajar menulis Bahasa mereka sendiri. Mereka juga akan menggunakan Bahasa itu dalam keseharian. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top