TUJUH TEKNIS MENULIS MANUSKRIP ARTIKEL (1)

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & Agupena Papua Barat)

Saat menulis manuskrip artikel untuk diajukan ke jurnal terdapat tujuh bagian yang perlu diperhatikan. Sehingga saat mengirimkannya, peluang untuk diterima lebih terbuka. Terkadang hanya karena kesilapan kecil akan menimbulkan masalah teknis. Jikalau itu terkait dengan substansi artikel bisa saja mendapatkan penolakan. Ketujuh bagian yang perlu dijadikan sebagai perhatian sebagai berikut:

Pertama, nama penulis. Walaupun Rome dan Juliet menyatakan apalah arti sebuah nama, tetap saja nama sebuah identitas. Bagi setiap orang, kata yang terindah yang berulang kali akan disebut bahkan ketika sudah wafat sekalipun adalah nama. Dalam kalangan masyarakat tertentu, nama disematkan oleh orang tua. Sementara di suku lain, nama justru harus diputuskan keluarga besar dalam rapat adat. Walaupun tidak sebirokratis itu, nama yang dicantumkan dalam sebuah artikel dijadikan sebagai perhatian pertama. Kadang pula, walau dengan informasi yang sama tetapi jikalau dituliskan orang tertentu yang sudah memiliki reputasi, akan berbeda dengan individu lain.

Di beberapa etnis Nusantara, nama seseorang hanya dengan satu suku kata, seperti masyarakat Bugis, dan Makassar. Seseorang menyandang nama dengan satu suku kata saja. Jikalau penulis menggunakan nama tunggal, maka perlu menjadikan nama itu diulang untuk dijadikan nama kedua. Sebagai contoh, Prof. Istadi (Universitas Diponegoro, Semarang) dengan nama tunggal beliau, maka dituliskan menjadi Istadi Istadi. Sebagaimana kolega kami, Firdaus (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Sumatera Barat) juga menuliskan namanya dengan Firdaus Firdaus.

Contoh lain, tulisan kami bertiga dalam satu prosiding, Ismail Suardi Wekke, Suyatno, Endang Gunaisah. Nama saya tetap tertulis dengan tepat. Hanya saja, dalam penelusuran Google Scholar mita menulis kami tertulis S. E. Gunaisah. Huruf S merupakan singkatan dari Suyatno, kolega kami yang juga hanya menggunakan nama tunggal. Praktik lain untuk nama tunggal bisa saja dengan menambahkan nama keluarga dari nama bapak. Seperti yang dilakukan Prof. Mustari dengan menambahkan kata Mustafa, nama ayah beliau.

Penggunaan nama ini digunakan secara konsisten dalam karya-karya tulis. Walaupun nama beliau hanya Mustari di ijazah bukan penghalang untuk mencapai jabatan fungsional guru besar. Hanya saja saat mengajukan guru besar, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI meminta keterangan tambahan dari Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Sebuah surat keterangan yang memberikan penguatan bahwa nama Mustari Mustafa adalah nama yang sama dengan nama Mustari dengan status dosen UIN Alauddin Makassar. Setelah itu, proses adminsitrasi dilanjutkan.

Sementara suku seperti Maluku, Minahasa, dan Batak, mereka menggunakan nama dengan menyertakan marga. Sehingga ini memudahkan dalam penulisan nama untuk dicantumkan sebagai penulis. Bahkan orang Bugis atau Makassar yang merantau ke Maluku dan kepulauan Papua akhirnya menggunakan nama daerah sebagai nama kedua. Seperti Saban Bugis, Ahmad Wajo, Makmur Bone. Semua suku kata dari ketiga nama tersebut bukanlah marga atau nama keluarga tetapi merupakan asal kediaman kakek atau nenek mereka di tanah Sulawesi.

Teknik ini digunakan dengan memperhatikan aplikasi seperti Open Journal System (OJS) yang memerlukan nama akhir untuk pengelolaan publikasi artikel. Proses ke tahap selanjutnya saat pendaftaran tidak akan berlanjut jikalau nama kedua kosong. Kedua, pangkalan data seperti Scopus juga merekam nama penulis dengan nama untuk dua suku kata. Kolega kami, Sudarmanto (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam Enam, Kendari) walaupun artikelnya sudah terbit di jurnal dengan indeks Scopus tetap saja tidak bisa terlacak karena saat pencarian di bagian penulis satu suku kata tidak terdeteksi.

Maka, menuliskan nama perlu sejak awal dengan dua suku kata. Termasuk perhatian kepada ejaan. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam Enam, Kendari, Bakhtiar Abbas ketika menulis sebuah artikel yang terbit di jurnal dengan indeks Scopus mengalami kesulitan untuk melacak profilnya sebagai penulis hanya karena tulisan Abbas yang mestinya dengan dua huruf “b”, tetapi dalam artikel hanya tertulis satu “b”. akhirnya, mengalami kendala dalam penelusuran di Scopus.

Nama penulis sebagai identitas dalam artikel perlu dieja, ditulis dengan cermat. Ini untuk membantu penulis sendiri setelah artikelnya terbit. Termasuk dalam pencantuman di Google Scholar. Perbedaan satu hurufpun akan mengganggu. Maka, menulis nama perlu diperhatikan untuk tepat secara ejaan. Untuk itu, dengan menuliskan nama sesuai dengan ejaan yang tepat dan juga memenuhi ketentuan minimal dua suku kata akan memudahkan bagi pasca-penulisan artikel. Nama penulis dapat ditelusuri dalam pelbagai indeks yang saat ini menggunakan flatform elektronik. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top