Feto’ Rindu ke Sekolah

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Heronimus Bani

Menjelang siang Feto’ pulang dari sekolah. Jam dinding di ruang kepala sekolah menunjukkan pukul 10.30 ketika itu. Jarak antara rumah ke sekolah tidak seberapa jauhnya. Hanya tepatnya dua gang, sekitar 250 meter. Feto’ dan teman-temannya berkaki saja di jalanan beraspal yang baru saja selesai dikerjakan oleh para buruh upahan dari satu perusahaan.

Kurang lebih pukul 11.00 ketika ha pe (handphone) berbunyi. Berbunyi lagi, dan lagi. Beberapa kali bunyi itu tidak hendak berhenti. Ayahanda Feto’ yang dalam perjalanan ke kota terpaksa mencari tempat yang aman untuk berhenti sejenak agar dapat menerima telpon.

“Cepat pulang, Pak! Feto’ celaka!” Begitulah kabar yang disampaikan seorang rekan guru melalui telepon genggam.

“Celaka? Kenapa? Beta masi di jalan mau pi kota.” Begitu jawaban yang diberikan ayah Feto’ dalam Bahasa Melayu Kupang.

“Feto’ jato. Dia pung tangan pata. Tolong, Pak. Pulang!” pinta suara di seberang sana.

Ayah Feto’ menutup telpon. Sejurus kemudian telpon berbunyi kembali. Ayah Feto’ kembali membuka telpon dan menerima panggilan itu.

“Halo… Tolong cepat pulang. Feto’ celaka. Kami masih di Rumah sakit dengan Opa Mnasi’!” begitu suara dari seberang sana.

“Ya. Beta su dapa kabar. Sakarang ju beta pulang pi kampong.” Jawab Ayah Feto’.

“Hati-hati di jalan!” peringatan diberikan sebelum menutup telpon.

Hari itu, di pagi hari, keluarga Feto’ meninggalkan rumah. Ayah Feto’ yang guru ke sekolah. Ibunya mengantar ayah-mertua ke rumah sakit (RS) untuk melakukan check up medical setelah seminggu sebelumnya sang ayah-mertua berbaring di RS. Feto’ dan kakaknya ke sekolah masing-masing. Jarak dari kampung ke RS sekitar tiga puluhan kilometer. Sementara dari kampung ke kota di atas enam puluhan kilometer.

Ayah Feto’ segera bergegas kembali dengan sepeda motor. Seakan tanpa menghiraukan kesibukan dan hilir-mudik berbagai jenis kendaraan, sang ayah meliuk di antara celah-celah sempit di jalan raya. Sepeda motornya meraung, sementara mata awas dan waspada. Tangan memainkan gas, kaki memainkan rem dan gear. Kewaspadaan tinggi agar menghindari kecelakaan tetapi dapat keluar dari keramaian.

Sejam kemudian, sepeda motor berwarna merah itu pun tiba di kampung, di rumah keluarga Feto’. Sejumlah orang duduk di teras rumah. Wajah cemas tergambar sangat jelas pada tiap-tiap orang di teras itu. Feto’ pucat-pasi. Tangannya telah dibalut atas pertolongan para tetangga dan terutama oleh seseorang yang bernama bi Loel.

Loel si tukang pijat tulang terkilir atau tulang patah. Ia segera turun tangan. Pengobatan secara tradisional tak lupa dilakukannya. Setelah dibalut, mereka menanti kedatangan orang tua Feto’. Sambil menanti mereka duduk di teras.

Satu unit sepeda motor ditunggangi dua orang memasuki halaman rumah. Keduanya adalah ibunda Feto’ dan pamannya. Paman Feto’ yang mengabarkan dan memberi peringatan pada ayah Feto’ untuk berhati-hati ketika berkendaraan pulang dari kota. Pamannya bernama, Alpi.

Cerita sekitar kecelakaan yang terjadi pada Feto’ seakan menjadi satu adegan drama yang konfius  namun tragis. Tidak ada yang mengetahui secara persis kejadian itu, namun akibatnya sangat tragis. Lengan kiri atas patah. Feto’ tidak mampu memikul derita sebesar itu. Tapi, apa daya. Semua sudah terjadi. Kecelakaan telah menimpa Feto’.

Beta sonde bisa pi sakola nanti… .” begitu pernyataan keluar dari Feto’ dalam Bahasa Melayu Kupang.

“Sonde bagitu, nak.  Nanti botong taro obat ko sembu capat, kaka Feto’ bisa pi sakola.” Loe memberi penjelasan.

“Ia, nanti mau ulangan, Feto’ musti iko… .” Feto’ memberi informasi tentang kegiatan di sekolah.

Benar. Beberapa hari lagi akan menghadapi ulangan semester. Ia harus mengikuti ulangan tersebut. Ia tidak mau ketinggalan.

Kabar tentang kecelakaan Feto’ sampai di sekolah. Kepala Sekolah mengharapkan penanganan secara serius. Kepada orang tua Feto’, Kepala sekolah berpesan agar memperhatikan serius sehingga tulang yang terkilir atau mungkin patah itu dapat segera sembuh. Sementara itu jangan dulu ke sekolah. Pertimbangannya, jika di sekolah nanti, bisa terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Seringkali mereka berkejaran dan dapat saja bertubrukan walau dilakukan tanpa sengaja dengan Feto’ yang sakit.

“Bapa. Kasi beta kertas do… .” Feto’ meminta selembar kertas pada ayahnya.

Beta mau gambar.” lanjutnya.

Gambar apa?” tanya ayahnya.

“Apa-apa sa. Nanti liat sandiri.”

Sehelai kertas putih telah sampai di tangannya dan mata balpoin berisi tinta hitam mulai menari-nari di lembaran putih itu. Tarikan garis-garis itu ternyata muncul sebagai gambar seorang gadis yang akan ke sekolah. Ia diantarkan oleh ayah-ibunya. Ada ruang-ruang kelas satu sampai enam ditulis dengan bilangan 1, 2, 3, 4, 5, 6. Ada gambaran bahwa di jalan, ada sepeda motor dan kendaraan roda empat. Semua itu teruangkap dari kesannya melihat pemandangan setiap hari di sekolah yang terletak di jalan utama desa Nekaf.

Itulah deskripsi keinginan Feto’ untuk segera kembali ke sekolah bila sudah sembuh. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*