Memutuskan Diri Menjadi Guru Penulis

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah
(Dosen di UMJ, Anggota Agupena DKI Jakarta, Serta Blogger di Blog Strategi & Keuangan

Keputusan menjadi awal baik dalam memulai sesuatu bagi kehidupan kita. Karena keputusan yang tepat, akan berdampak pada kinerja yang dilakukan, dan kinerja berdampak pada hasil yang akan dicapai di kemudian hari. Maka dari itu, bagi Anda yang saat ini berprofesi sebagai guru dan ingin menjadi guru penulis, putuskanlah dengan tekad yang bulat untuk menjadi guru penulis.

Guru penulis merupakan profesi yang mungkin sangat jarang digeluti. Dan mungkin Anda juga bertanya-tanya, profesi apakah guru penulis? Pengertian yang gampang, guru penulis merupakan seorang guru yang berprofesi sebagai guru tetapi dirinya meluangkan waktu untuk menulis.

Setelah kita mengetahui, apa itu guru penulis, maka keputusan untuk menjadi guru penulis harus didasarkan dari dalam hati yang paling dalam. Di mana, keputusan tersebut bukan karena ingin menjadi guru keren, bukan karena ingin mendapatkan honor yang banyak, bukan karena ingin menjadi terkenal, dan bukan yang lain-lain. Akan tetapi, keputusan menjadi guru penulis karena panggilan jiwa untuk berbagi ilmu pengetahuan.

Motivasi panggilan jiwa, akan membuat seorang guru tak gampang menyerah dalam memulai aktivitas menulis. Sesulit apapun halangan dan rintangan kelak yang akan ditemui dalam berlatih menulis, dirinya akan selalu membesarkan jiwa bahwa menulis adalah tugas suci. Sebagai salah satu bentuk pengabdian seorang guru, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sedangkan, bila kelak seorang guru yang awalnya tak bisa menulis dan kini telah menghasilkan tulisan, maka secara otomatis dirinya akan menjadi guru keren, mendapatkan honor dari tulisan, dan akan dikenal oleh banyak orang. Maka, apa yang diterima tersebut, anggap saja sebagai imbalan. Imbalan bagi dirinya yang ikhlas menjalankan kegiatan menulis tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Maka dari itu, bagi Anda yang saat ini berprofesi sebagai guru, dan ingin menjadi guru penulis, sebaiknya mendasarkan keputusan menjadi guru penulis sebagai panggilan jiwa untuk mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga masyarakat bisa merasakan fungsi pendidikan itu sendiri, yaitu seperti termaktub dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa fungsi pendidikan ialah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan fungsi yang harus dijalankan dengan niat suci oleh seorang guru penulis. Tanpa adanya niat suci, sangat mustahil seorang guru mau mencucurkan keringat untuk berlatih menulis. Apalagi, bila dikaitkan dengan tugas guru yang seabrek, mulai dari tugas membuat perencanaan pembelajaran, metode pembelajaran, hingga tugas mengajarkan peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Hanya saja, bila keputusan Anda menjadi guru penulis didasarkan pada panggilan jiwa, Insya-Allah Anda akan bertahan untuk berlatih menulis. Karena berlatih menulis, pasti membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Bahkan, sesekali harus mengeluarkan uang untuk ikut pelatihan menulis dan membeli buku kepenulisan. Tentu, tujuannya ialah agar bisa menghasilkan tulisan yang baik dan benar.

Konsisten Pada Keputusan

Bagi seorang guru yang telah memutuskan diri untuk menjadi guru penulis, maka dirinya harus konsisten untuk menjadi guru penulis. Bahkan, jika pun perlu dirinya harus berjanji untuk terus konsisten menjadi guru penulis hingga akhir hayat. Sehingga dirinya bisa berkomitmen menjalankan kegiatan menulis sebagai jalan menyebar kebaikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengapa seorang guru penulis harus konsisten menulis? Karena dengan memiliki sikap konsisten yang tinggi, seorang guru akan berusaha menjalankan keputusan tersebut hingga dirinya bisa mencapai apa yang dicita-citakannya. Setelah dirinya dapat mencapainya, maka akan terus menjaga hingga apa yang dicapai bermanfaat besar bagi dirinya, orang-orang sekitar, dan masyarakat luas.

Sikap konsisten akan melahirkan komitmen yang kuat dalam diri seseorang. Sementara komitmen merupakan sikap kesanggupan pada diri sendiri ataupun pada orang lain untuk bisa mengerjakan sesuatu dengan kinerja yang terbaik. Sehingga dirinya akan terus mengerjakan hal tersebut sesuai dengan apa yang telah disepakati.

Maka dari itu, konsisten akan menjadi kata kunci seorang guru bisa menjadi guru penulis. Tanpa adanya sikap konsisten yang kuat, mustahil seorang guru akan bisa menjadi guru penulis. Apalagi bila dikaitkan dengan jadwal padat yang dimiliki oleh guru. Dan belum lagi, kesibukan mengurus keluarga dan kesibukan lainnya, tentu tanpa adanya konsisten yang dibarengi dengan komitmen, tak akan bisa dirinya menjadi guru penulis.

Salah satu cara menjaga konsistensi diri sebagai guru penulis ialah, berusaha meluangkan waktu setiap saat untuk menulis. Kemudian, dirinya juga berusaha meningkatkan kemampuan menulis, dengan banyak membaca buku-buku kepenulisan, teori kepenulisan, ikut seminar kepenulisan, dan lain sebagainya. Intinya, dirinya harus mampu mengembangkan kemampuan menulisnya setiap saat.

Selain membaca buku-buku yang berkenaan dengan kepenulisan, dirinya juga harus banyak membaca buku-buku lainnya. Khususnya, buku-buku yang berkenaan dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang dijalankan. Misalnya, latar belakang pendidikan dirinya ialah ekonomi, dan dirinya juga menjadi  guru/dosen ekonomi. Maka, buku-buku yang harus banyak dibaca ialah buku-buku yang berkenaan dengan ilmu ekonomi.

Intinya, seorang guru harus konsisten terhadap pilihan menjadi guru penulis dengan terus menulis tanpa lelah. Salah satu bentuk konsisten yang harus dimiliki oleh seorang guru ialah, dirinya harus memiliki komitmen yang kuat untuk belajar dan berlatih menulis. Karena konsisten akan menjadi kata kunci, apakah diri guru berhasil menjadi guru penulis atau hanya bercita-cita saja menjadi guru penulis. Tentu, Anda sendiri yang harus menentukannya.

Bangga Menjadi Guru Penulis

Bagi Anda yang telah memutuskan diri menjadi guru penulis, maka Anda harus berbangga diri. Karena, guru yang memiliki keahlian menulis di Indonesia masih sangat jarang. Bahkan bisa dikatakan, seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Artinya, guru yang bisa menulis di negeri ini sangat sedikit jumlahnya. Walaupun, pendapat tersebut belum ada data penelitian secara khusus.

Hanya saja, kalaupun Anda ingin membuktikan dengan penelitian kecil-kecilan, Anda bisa datang ke salah satu sekolah yang ada di sekitar tempat tinggal Anda. Kemudian, tanyakan kepada seluruh guru yang ada di sekolah tersebut sebagai bentuk survei kecil-kecilan. Insya-Allah jawabannya akan bisa ditebak, Anda akan sulit untuk menemukan guru yang bisa menulis, apalagi hingga memiliki karya tulis seperti buku. Maka dari itu, tak terlalu berlebihan jika saat ini Anda sebagai guru berbangga diri menjadi guru penulis.

Tentu, kebanggaan menjadi guru penulis tidak serta-merta membuat diri Anda sombong. Akan tetapi, kebanggaan dengan profesi guru penulis, harus menjadi motivasi besar pada diri Anda untuk terus belajar dan memperbaiki tulisan agar bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik dan bermanfaat ke depannya. Sehingga, tulisan yang dihasilkan memiliki ruh yang menggugah bagi pembacanya.

Selain itu, tak lupa juga untuk terus melakukan kegiatan membaca. Karena membaca menjadi salah satu syarat bagi seseorang untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas. Tanpa adanya budaya membaca yang baik, rasa-rasanya akan sulit bagi seorang guru untuk bisa menjadi guru penulis.

Maka dari itu, jadikan kebanggaan terhadap profesi guru penulis untuk memotivasi diri agar bisa mengembangkan diri sebaik mungkin. Salah satu pengembangan yang bisa dilakukan ialah dengan banyak membaca buku. Karena semakin banyak seorang penulis membaca buku, maka akan semakin bagus tulisan dan gagasan yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Pun begitu sebaliknya, semakin jarang seorang penulis membaca buku, maka tulisan yang dihasilkan akan terasa kering untuk dibaca. Kering, karena tulisan yang dituangkan terlalu kaku dan tak sesuai dengan logika umum kepenulisan. Intinya, membaca bagi seorang penulis menjadi sebuah keharusan yang musti dilakukan.

Salah satu cara untuk menjaga kebanggan sebagai guru penulis, dengan secara konsisten mengatur atau membagi waktu antara membaca dengan menulis secara teratur atau terjadwal.Misalnya, kegiatan menulis dimulai setiap pagi sehabis Sholat Subuh hingga sebelum berangkat ke sekolah. Kemudian, siang hari dan sore hari ketika ada waktu santai digunakan untuk membaca buku.Dan malam hari sehabis bercengkrama bersama keluarga, bisa digunakan untuk membaca atau menulis.

Hal tersebut bisa menjadi salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga kebanggaan kita terhadap profesi sebagai guru penulis. Hal yang harus diingat, guru penulis di negeri ini sangat jarang. Maka dari itu, tetap semangat dan harus terus menjaga kebanggaan yang kita miliki terhadap profesi sebagai guru penulis.

Semoga, kita yang telah memutuskan diri menjadi guru penulis, akan mampu merawat kebanggaan sebagai seorang guru yang bisa hasilkan tulisan. Kemudian, tulisan tersebut bermanfaat bagi semuanya. ***

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top