Ironi, Menulis untuk Kebutuhan Sesaat

Rubrik Literasi Oleh

Heronimus Bani

Seri tulisan Ismail Suardi Wekke (agupena.or.id) tentang menulis menggugah olah pikir sebagai guru. Ketika ada regulasi tentang jabatan fungsional guru yang mesti menggunakan kredit point dimana ada kewajiban dan keharusan mengembangkan diri dengan menulis, justru guru kelimpungan. Ismail Suardi Wekke telah menyampaikan secara mudah dan sederhana kiat-kiat menulis. Sayangnya, berapa banyak guru yang mengakses untuk dapat membaca tulisan-tulisan itu.

Berikut tiga contoh cerita ironi di mana guru menulis dan mentok pada kebutuhan kepangkatannya.

  • Suatu hari seorang guru yang telah dialihtugaskan sebagai pengawas. Ia menceritakan bagaimana ia dapat mencapai pangkat dan golongan sebagaimana yang ada padanya sekarang, bahkan dapat menjadi pengawas Pembina. Bagaimana caranya? Ia menulis dengan bantuan penulis gelap (ghost writter). Tim Pemeriksa Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) tidak memeriksa proses, tetapi memeriksa produk.
  • Seorang guru yang lain mengatakan, dewasa ini menulis penelitian tindakan kelas (PTK), mudah. Pergilah “jalan-jalan” ke Taman Google. Di sana anda mengunduh PTK yang sudah ada, lakukan pengeditan, sesuaikan dan jadilah PTK. Beri kata pengantar, keterangan orisinil/keaslian, pengesahan oleh pimpinan dan lengkapi berkas. Jadilah tulisan  PTK itu diterima Tim Dupak. Tim menerima produk, tidak melihat proses.
  • Suatu ketika seorang guru menelpon rekannya. Ia meminta untuk dituliskan satu karya tulis ilmiah popular. Ia bersedia membayar asalkan tulisan itu ada dan termuat di media cetak lokal. Lalu, tulisan itu menjadi produk agar masuk dalam hitungan angka kredit.

Masih ada cerita lain sekitar kegiatan menulis yang sasaran akhirnya mentoq pada kenaikan pangkat, golongan dan ruang gaji bagi guru. Lalu, guru yang telah naik pangkat dengan cara demikian berbangga?? Gaji dan tunjangan (kesejahteraan) bertambah, ekonomi keluarga terjaga. Sikap dan pandangan yang demikian sesungguhnya mencoreng profesi guru.

Sikap dan perilaku yang professional sebagai guru mestinya dapat dijaga. Solusi yang dapat ditawarkan untuk kegiatan menulis adalah, latihan dalam grup kecil seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP); Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Di samping kegiatan pelatihan yang sifatnya formal seperti workshop, atau semiloka dengan peserta yang terbatas agar mudah dijangkau, terkontrol dan membawa hasil. Mungkin ini sudah dilakukan.

Selanjutnya, pembiasaan, membaca – menulis – membaca – menulis. Atau menulis – membaca – menulis – membaca. Membaca bagi seorang penulis merupakan asupan nutrisi; dan menulis merupakan respirasinya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top