Menjadi Guru pada Kaum Medsocholic

Rubrik Pendidikan Oleh

Heronimus Bani

Dunianya media social sudah bukan sesuatu yang asing bagi generasi milenial. Bahkan masyarakat yang pedalaman yang sudah bersentuhan dengan kota hingga kelihatannya masih primitive sekalipun sudah masuk dalam dunia ini. Ada lima tipologi generasi milenial, menurut Hasanuddin Ali, anti-milenial, nerd-milenial, alay-milenial, true-milenial, dan mass-milenial (https://hasanuddinali.com/).

Menurut Hasanuddin Ali, ada dua segmen generasi milenial, creativity level dan connectivity level. Pada kedua segmen ini ada indicator-indikator seperti memiliki gagasan yang berbeda (out of the box) dan ketergantungan pada media social.

Indikator ketergantungan pada media social ini  saya menyebutnya dengan istilah medsocholic. Mungkin kurang tepat, tetapi, saya berasumsi bahwa pada generasi milenial atau generasi baru, istilah dari Megawati Soekarnoputri; (tribunnews.com), telah mulai melek media social, sangat aktif seakan hanya bisa hidup bila berdampingan selalu dengan produk IT yang ada konten beragam aplikasi media sosial. Bahkan, Prof. Rhenald Kasali, menyebut saat ini, masyarakat membunuh waktu luang hanya demi memperoleh pengakuan, terutama di sosial media (medsos) (liputan6.com).

Jika demikian, bagaimana kondisi dan suasana di ruang kelas nantinya?

Sebagai guru di pedesaan, saya mengamati masyarakat pedesaan akan bergeser secara perlahan mengikuti perubahan yang sedang terjadi di perkotaan, sekalipun dunia maya tidak mengenal batas wilayah geografis. Ruang-ruang kelas secara perlahan akan berubah menjadi ruang belajar yang diwarnai fasilitas mengajar-belajar yang multimedia. Guru yang gaptek akan stress sementara yang sudah melek teknologi akan dengan ringan dan senyum merona wajah menuju ke ruang kelas. Guru, menjadi fasilitator dan motivator belaka, sementara peserta didik akan menemukan sendiri, aktif bertanya, berdiskusi, rmelakukan searching dan browsing untuk memperoleh berbagai informasi yang diperlukannya.

Pada masa itu tuntutan kreativitas guru sangat tinggi, sebab tingkat konsentrasi peserta didik berkurang. Rektor Universitas Gadjah Mada periode 2007-2012 Prof. Sudjarwadi menyatakan para generasi milenial umumnya mudah bosan dalam belajar dan pekerjaan lainnya meskipun mereka sebenarnya kemampuan intelektualnya rata-rata lebih tinggi dari generasi-generasi sebelumnya (pikiran-rakyat.com, 1/12/17).

Saya berasumsi bahwa semua itu terjadi karena mereka ingin berada dalam jaringan yang bukan ada di depan mata, tetapi jauh darinya yang bisa terkoneksi melalui jaringan bergelombang elektromagnetik. Mereka sudah menjadi kaum medsocholic.

“Anak-anak muda generasi Y dan Z saat ini tidak bisa dihakimi, tidak bisa ditekan. Pendekatan ke mereka dengan cara bekerjasama secara paralel dan memberikan kepada mereka tantangan … .” demikian Prof. Sudjarwadi.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada Dr Arie Sudjito menyatakan, pendekatan terhadap generasi milenial harus menyesuaikan dinamika intelektual dan orientasi aktivitas mereka. Anak-anak kategori generasi Y dan Z tidak betah dengan model pengajaran text book. Maka pengajar harus menyesuaikan tradisi baru generasi milinial tersebut.

“Generasi muda milenial belajar baik tidak selalu di kelas, belajar dari lapangan membuat mereka lebih memahami persoalan dalam masyarakat,” ujar dia, (pikiran-rakyat.com)

Hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center (2010), dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini (alvara.strategic.com)

Bagaimana menjadi guru di pedesaan pada generasi yang akan medsocholic yang menggunakan teknologi? Mungkin guru di perkotaan sudah melek teknologi dan akan dengan mudah menyesuaikan dan mudah pula berinovasi.

Nah, kaum Guru di pedesaan, bergegaslah berada dalam dunianya para medsocholic. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan

PKN DAN NILAI MORAL

Oleh: Salamuddin Uwar (Guru SMP Negeri 7 Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara,
Go to Top