Menulis Pernyataan Masalah Tesis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Penelitian untuk memenuhi syarat kelulusan magister, maka mahasiswa terlebih dahulu melakukan shopping idea, menelusuri topik-topik penelitian yang memungkinkan. Akan sangat mudah kalau perguruan tinggi sudah menentukan niche penelitian. Ada pula yang menyebutnya penelitian payung. Dengan menggunakan ini, maka kemajuan sebuah topik sudah tersedia. Mahasiswa hanya perlu meneruskan penelitian lanjutan pada bagian yang belum diselesaikan peneliti sebelumnya.

Ketika niche tidak ditegaskan secara khusus, maka topik penelitian dapat ditelusuri dalam setidaknya pada tiga P, paper, place, dan person. Pertama, untuk topik-topik yang mutakhir mudah ditelusuri melalui publikasi yang ada. Baik di jurnal maupun dalam diskusi di seminar atau forum-forum akademik. Kedua, dengan berada di satu tempat akan menemukan ide yang akan menjadi sebuah pertanyaan. Hanya saja, sebuah ide yang berasal dari sebuah tempat masih perlu diperkaya dengan dukungan paper. Terakhir, pengalaman pribadi, baik pengalaman pribadi penulis maupun pengalaman pribadi orang lain. Topik-topik ini akan muncul ketika ngobrol. Bahkan terkadang bisa saja dalam suasana santai. Kehidupan sosial merupakan sumber utama dari masalah penelitian. Sehingga diperlukan keterlibatan untuk menemukan sebuah masalah untuk diteruskan menjadi sebuah penelitian

Denotasi sebuah konsep terutama dalam pendekatan kualitatif merupakan sebuah fenomena (Creswell & Clark, 2007; Hartono, 2009). Bukan karena masalah itu merupakan sesuatu yang salah menurut teori, melainkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang ada. Sebagai contoh, secara teoritis bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. Dalam sebuah pengamatan, ada kecenderungan perbedaan keterampilan tata bahasa antara mahasiswa dan mahasiswi. Maka, dilakukan sebuah penelitian untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan itu untuk menjawab gap teori persamaan dan wujudnya perbedaan.

Sebuah penelitian yang disusun dengan masalah yang terstruktur (Noeng Muhadjir, 1998) akan memberikan kesempatan bagi penulisnya dalam menemukan teori dengan dasar empirik. Ini dapat dioperasionalkan dengan menggunakan metode grounded theory. Menyatakan sebuah masalah dengan pendekatan kualitatif tidaklah bisa dilakukan dengan instan. Radha (2017) menyebutnya bahwa seorang peneliti paling mengetahui bidang ilmunya. Sehingga dapat memberikan ikhtisar bagaimana perkembangan kajian tersebut sementara berlangsung.

Untuk merumuskan ikhtisar tersebut dapat dilakukan dengan peta pikiran (mind map) perkembangan ilmu pengetahuan dalam kajian yang akan dikaji (Irawan & Rachmi, 2016). Selanjutnya, identifikasi masalah dimulai dengan mendaftar sejumlah masalah dan juga signifikan untuk dipecahkan (Setyosari, 2010). Dengan demikian, tidak semua masalah dapat diteruskan menjadi rumusan masalah penelitian. Hanya pernyataan penelitian yang memiliki bukti pendukung atau sumber data yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai dasar dalam penelitian. Sebelum itu, perlu juga dipastikan bahwa masalah tersebut tidak tersangkut dengan soal etika (Bernard, 2000). Untuk menjawab ini dikembalikan kepada penelitian. Jika penelitia menganggap bahwa kajian tersebut tidak tersangkut masalah etika, maka sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah masalah penelitian.

Fenomena sebagai dasar empirik akan memberikan ide bagi penemuan pernyataan masalah. Sebagai contoh, pesantren & madrasah, sudah tentu adalah bentuk institusi pendidikan Islam. Sehingga jikalau mengkaji “peranan” madrasah dalam kaitan dengan pendidikan Islam, maka itu sudah mapan dan tentu tidak bisa digugat lagi. Kecuali, kalau ada madrasah yang kemudian justru melenceng dari misi keislaman, maka perlu diidentifikasi dengan penelitian. Dalam studi kasus, sebuah pesantren justru menjadi bagian dalam membangun harmoni di lingkungan dengan keyakinan yang berbeda (Wekke, 2016). Maka, bisa jadi ini sebuah topik yang dapat diteruskan menjadi pernyataan masalah.

Contoh berikutnya, pesantren mengemban misi keagamaan, hanya saja dalam perkembangan berikutnya aktivitasnya tidak dapat dilepaskan dari kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan urusan ekonomi. Maka Pesantren Rodhatul Khuffadz mengembangkan kurikulum yang dipadu dengan prinsip-prinsip kewirausahaan sekaligus dijadikan sebagai pilar pengembangan pesantren (Wekke, 2012). Contoh terakhir, Steenbrink (1986) mengemukakan tiga jenis kelembagaan pendidikan Islam di Indonesia dalam kurun modern yaitu pesantren, madrasah, sekolah. Sementara di Papua Barat, bukan saja ketiga bentuk lembaga tersebut tetapi juga didapatkan panti asuhan untuk menunjang pendidikan Islam. Maka, perlu identifikasi bagaimana panti asuhan disinergikan dengan madrasah untuk menyelenggarakan pendidikan Islam (Wekke, Siddin, & Kasop, 2017).

Terakhir, pernyataan masalah perlu diteruskan menjadi rumusan masalah. Tidak dapat berhenti hanya sampai di pernyataan masalah saja, sebab perlu identifikasi teknis untuk meneruskan ke penulisan langkah berikutnya. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top