Nasihat (yang) Membinasakan

Rubrik Opini Oleh

Oleh Edi Sugianto
Penulis Buku “Be a Writer Be a Winner: Anak Zaman Now Cinta Menulis”

Di megapolitan, seorang miliarder (70 tahun) hidup dengan penuh kemewahan. Rumah bak istana, mobil-mobil berjajar rapi di halaman. Konon, asetnya tak terhitung. Anak-anaknya pun banyak, bahkan masing-masing disediakan rumah. Toh walaupun begitu, setiap hari, si Miliarder selalu gundah gulana dengan hidupnya. Entah apa yang menghantui pikirannya?

Suatu ketika, wartawan muda berkunjung ke rumahnya, terjadilah dialog yang cukup intens antara keduanya. “Bapak, saat ini punya aset berapa?” wartawan muda bertanya, dengan wajah penasaran. “Harta saya sangat sedikit, anak saya cuma satu, dan sebenarnya saya pun masih umur 7 tahun” Jawabnya unik. Tentu, wartawan muda mulai heran dan berkata, “Sepertinya, Bapak sedang bergurau. Maksudnya bagaimana? Bukannya, kekayaan Bapak tak terhitung. Saya sepintas baca biografi, Bapak punya beberapa anak, dan saat ini Bapak sudah berumur 70 tahun”.

Sembari tersenyum, si Miliarder membenarkan perkataan wartawan muda, lalu menjelaskan, “Saya ini memang punya banyak harta, tapi rasanya hanya sedikit yang saya gunakan di jalan Allah, selebihnya buat foya-foya saja, dan itu berlangsung sejak dari muda. Saat ini, anak saya sudah banyak, tapi nampaknya  hanya satu yang berbakti dan tulus mendoakan saya. Umur saya 70 tahun, tapi urusan beribadah, rasanya tak lebih dari 7 tahun, bahkan mungkin kurang.” Mendengar cerita tersebut, si wartawan muda tampak sangat terkesan, “Oh, jadi begitu maksudnya, Pak!”

Cerita di atas, mengingatkan kita pada nasihat Rasulullah Saw. Bahwa manusia kelak akan diminta lima (5) pertanggungjawaban di hadapan Rabb-nya:

Pertama, tentang umur, untuk apa dihabiskan? Umur manusia di dunia sangat singkat, karena itu singkatnya waktu, seharusnya membuat manusia termotivasi untuk melakukan yang terbaik (ahsanu amala), bukan semau dan seadanya.

Kedua, masa muda, dipergunakan untuk apa? Potensi luarbiasa ada di tangan para pemuda, bahkan nyaris tak ada perubahan di dunia tanpa melibatkan kaum muda. Karena itu, mereka perlu diarahkan, supaya energinya tidak digunakan untuk yang hura-hura.

Ketiga, harta dari mana didapatkan? Kita bisa lihat dengan jelas, betapa banyak orang yang mati-matian mengerjar harta. Uang yang seharusnya sekadar menjadi alat hidup, kini, seakan-akan menjadi tujuan hidup. Bagi mereka, menghalalkan segala cara (termasuk yang haram) adalah hal biasa.

Keempat, harta untuk apa dibelanjakan? Cobaan terdahsyat adalah bukan kemiskinan, melainkan kekayaan. Orang mungkin bisa bersabar dengan ujian kekurangan harta, tapi belum tentu “bersabar” jika Allah uji dengan gelimang harta.

Kelima, ilmu, diamalkan untuk apa? Kita lihat orang yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi adalah bukan orang bodoh, mereka orang “bersekolah” tapi tidak berpendidikan. Orang berilmu akan binasa tanpa mengamalkan ilmunya.

Kita tidak bisa tersenyum lebar, jangan-jangan kita adalah satu di antara orang yang tidak bisa mempertanggungjawabkan lima hal di atas. Nasihat tersebut tentu bisa menyelamatkan, jika kita mau mengamalkan, tapi juga bisa membinasakan, jika kita mengabaikan. Naudzu billahi min dzalik!

 

Jakarta, 2 Desember 2017

#HR. At-Tirmidzi, No. 2416
#Kultum Dhuha
#Iro. Society

Tags:

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top