Dedikasi Guru-Tangis Siswa

Rubrik Pendidikan Oleh

Heronimus Bani

Minggu 03 Desember 2017, seorang guru telah pergi untuk selama-lamanya. Serasa langit mendung di Buraen – Amarasi Selatan. Laksana suramnya pelita, wajah para guru dan siswa sekolah dasar di kota kecamatan itu. Hampir seribuan orang pelayat memenuhi halaman dan area upacara pemakaman yang disebut subat dalam bahasa setempat.

Lagu Trima kasihku oleh satu kelompok siswa dan satu nomor puisi yang dibacakan dua siswa menjadi pembuka upacara Subat. Nada dan dinamika suara dua siswa Kelas IV menghantar sang guru ke haribaan pertiwi.

Ibu…
Ibu ,…

Siapa menduga kabar duka,
Siapa menyangka berita buruk.

Ibu…
Ibu…

Kami mengetahui sakit ragamu,
Kami menyadari keletihan tubuhmu.

Ibu…
Ibu …

Olah pikir dan olah gerak,
Rasa diraga, indah di gerai
Sorak berkemenangan,
Bangga berpuncak.

Ibu…
Ibu…

Hari ini …
Kami tak lagi melihatmu.

Hari ini …
Kami tak lagi menyapamu, Ibu…
Kami melepas kepergianmu,
Jasamu terkenang,
Budimu terpatri,
Dedikasimu mulia.

Selamat jalan, ibu …

Terima kasih hanyalah kata,

Tuhan melayakkanmu di sisi-Nya.

Isak tangis pelayat tak tertahankan terlebih nyata pada anak-anak sebagai siswa di Sekolah Dasar Inpres Buraen. Sang guru Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) telah meninggal dunia. Ia meninggalkan kesan mendalam pada keluarganya, dan institusi pendidikan dimana ia mengabdi.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang yang hadir mengikuti upacara ini menyampaikan rasa duka yang mendalam, sambil mengingatkan bahwa dalam tahun 2017 Dinas P & K Kabupaten Kupang telah kehilangan 13 orang guru. Tidak mudah menggantikan posisi mereka.

Dalam ada itu Sekdis P & K Kab. Kupang menginatkan agar masyarakat jangan menilai guru hanya pada aspek kuantitas dimana ada sejumlah siswa menjadi lulusan di satu sekolah. Kerja dan bukti kerja guru tidak dapat disamakan dengan memelihara seekor sapi yang dalam kurun waktu satu tahun sudah dapat dinilai dengan angka rupiah. Kerja dan bukti nyata guru terinvest dan terindoktrin pada benak, dada dan darah siswa, yang akan Nampak pada waktu yang lama.

Ketua PGRI Cabang Kecamatan Amarasi Selatan menyampaikan turut berbela sungkawa dan pula menyampaikan bahwa guru yang dianggap tidak ada tanda jasanya, mungkin saja benar menurut si penggubah lagu. Guru, tetaplah guru. Ia mendedikasikan hidupnya untuk menginvest pengetahuan (knowledge); ketrampilan (skill), seni (art), sikap dan perilaku (attitude); dan lain-lain hal yang sifatnya membentuk pribadi siswa agar kelak dapat diaplikasikan laksana satu pertunjukan di panggung kehidupan.

Para siswa bertangisan khususnya para siswa kelas tinggi (4, 5, 6). Mereka telah menyadari akan arti kehadiran seorang guru, terlebih guru yang memberi perhatian plus pada mereka. Ada kesan yang telah diukir sebagai pahatan atau lukisan indah di relung hati mereka.

Guru-guru pelayat hanyut dalam duka. Pelayat lainnya dalam status sebagai keluarga dekat dan keluarga jauh. Pula kenalan dan sahabat. Semuanya berbaur sebagai satu kesatuan pelayat dan pemberi penghiburan dan penguatan-penguatan.

Lagu Hymne Guru dinyanyikan mengiringi keranda jenazah. Penghormatan terakhir dari keluarga, seluruh pelayat dan terlebih para korps guru, pegawai dan siswa menjadi penutup upacara subat.
Guru yang “tanpa tanda jasa”, kini telah memberi tanda berupa titik dan butiran kesan di hati dan kenangan, sementara mereka yang hidup memberi tanda di permukaan tanah dengan sebentuk batu nisan.
Membaca tanda alam, nampaknya mendung pun turut menitikkan butiran dan percikan air awan gemawan pertanda turut berduka. Butiran dan percikan itu seakan hendak memberi kabar bahwa, duka tersebut bukan milik para peratap saja, namun alampun turut berduka. Bunda pertiwi memberikan pangkuan dan pelukannya.

Selamat jalan teman. Jasamu dan dedikasimu.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan

PKN DAN NILAI MORAL

Oleh: Salamuddin Uwar (Guru SMP Negeri 7 Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara,
Go to Top