Menulis untuk Publikasi di Mana?

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Sebuah tulisan dimulai dari akhir. Sebelum mulai ditulis, maka sudah ada persiapan tempat publikasi. Setidaknya ini akan mengefisienkan waktu dan tenaga. Sejak awal sudah mengikuti panduan penulisan yang dipersyaratkan. Sehingga tidak perlu mengerjakan format untuk kedua kalinya untuk mengubah format tulisan sesuai dengan ketentuan media tempat publikasi.

Sebelum memutuskan wahana publikasi, maka perlu terlebih dahulu mengidentifikasi gaya penulisan. Ada tulisan opini, populer, cerpen, puisi, artikel, dll, termasuk surat pembaca. Kesemuanya memiliki keragaman dan kekhasan masing-masing. Begitu pula dengan gaya penulisan yang juga tidak sama antara yang satu dengan lainnya.

Untuk tulisan populer dapat diunggah ke media blog di antaranya blogspot atau wordpress. Sementara untuk media sosial yang sudah siap untuk dipakai bisa menggunakan  www.kompasiana.com, www.indonesiana.com, www.locita.co, dan banyak lagi blog yang siap pakai. Ketika menulis dan memublikasikan di blog yang tersedia seperti tiga laman web terakhir, bagi saya itu lebih mudah. Saya tidak perlu menguasai keterampilan mengelola sebuah web. Walaupun blogspot atau wordpress keduanya tidaklah rumit karena sudah disediakan pilihan template, tetap saja diperlukan keterampilan mengelola web dan juga kemahiran soal seni walau peringkat awal supaya tampilan web menarik.

Bonusnya, dengan bergabung di media seperti Kompasiana, terkadang ada acara yang dihelat oleh redaksi. Baik dalam bentuk diskusi maupun menulis bersama yang diprakarsai para Kompasianer. Walaupun itu bukan program yang diadakan oleh redaksi tetap saja dengan media Kompasiana saya bisa menemukan komunitas dengan hobi yang sama. Saya ikut berpartisipasi dalam sekurang-kurangnya tiga buku bersama. Dengan tulisan yang sudah diunggah sebelumnya di Kompasiana memudahkan untuk disunting kembali dan dijadikan bagian dari sebuah buku.

Setahun terakhir sejak bergabung di Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA), saya lebih memilih mengirim ketikan-ketikan saya untuk diunggah ke laman web AGUPENA. Tidak hanya karena lebih cepat, tetapi ada dukungan penyuntingan dari redaksi sehingga meminimalisir kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi. Media seperti Kompasiana langsung memberikan kesempatan kepada penulisnya untuk langsung posting dan terbit saat itu juga. Walau ada aturan bahwa setiap penulis hanya bisa mengunggah satu tulisan perjam untuk memberikan kesempatan bagi penulis lain. Namun, dengan ratusan bahkan ribuan postingan dalam sehari tetap saja tidak memungkinkan adanya proses editing. Bahkan, sudah dinyatakan di bagian footer tulisan bahwa semata-mata itu karya penulis yang sama sekali tidak terkait dengan redaksi Kompasiana.

Setiap laman menyandang kekhasan masing-masing yang tidak perlu dibandingkan dengan media lain. Sepenuhnya diserahkan kepada penulis untuk mengirimkan artikelnya kemana saja yang dikehendaki. Sementara itu untuk kepentingan penyimpanan (repository) karya ilmiah tersedia beberapa pilihan seperti www.academia.edu, www.researchgate.com. Kedua flatform ini sepenuhnya gratis, walaupun juga tetap menyediakan layanan berbayar.

Untuk sebuah artikel yang sudah terbit, saya menempatkannya di kedua laman tersebut. Masing-masing punya daya jangkauan yang berbeda, dengan menggunakan keduanya bisa menjadi sarana untuk mengakses karya-karya lebih mudah. Tidak perlu saya kirimkan melalui surat eletronik jika untuk mengirimkan. Dengan tersedia di Academia ataupun Research Gate, siapapun yang memerlukan langsung dapat mengaksesnya tanpa perlu persetujuan saya. Dengan menyimpannya di sana, saya memberikan izin seluas-luasnya kepada semua warga dunia untuk menggunakannya.

Baik blog maupun repository dapat juga digunakan sebagai media pembelajaran. Untuk mata kuliah yang mensyaratkan keterampilan menulis terutama ketika mengajar di program studi Komunikasi Penyiaran Islam, maka Kompasiana menjadi media untuk mengunggah tulisan mahasiswa. Sementara untuk matakuliah yang memerlukan penugasan dalam menulis makalah atau artikel, maka mahasiswa diminta unuk mengunggah ke Academia.

Dengan menempatkan tulisan di salah satunya, bukan saja dosen yang membaca tetapi khalayak ramai juga memungkinkan untuk membaca, memberi saran perbaikan, dan juga mengawasi penjiplakan. Bonusnya, masyarakat dapat membaca tulisan-tulisan dari mahasiswa walaupun untuk kepentingan mata kuliah. Namun dapat dibaca juga bukan saja dosen pengampu mata kuliah lalu ditumpuk tetapi masayarakat yang tidak bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran juga dapat mengakses informasi. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Testimoni Literasi

Oleh: Muhammad Soleh Kadir Literasi adalah gerakan. Dari membaca sampai membangun peradaban.

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top