MENGAKRABKAN PESERTA DIDIK DENGAN SASTRA

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh: WASHADI

Mengenal Sastra
Dalam bahasa Indonesia kata “sastra” biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan”, atau jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Pada awalnya, sastra merujuk pada semua jenis tulisan, baik indah atau tidak. Namun, dalam perkembangannya, tidak semua tulisan dapat dikategorikan sastra, sebab ruang lingkup sastra terbatas pada tiga jenis tulisan, yakni: puisi, prosa, dan drama. Masing-masing jenis tulisan ini kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap mempertahankan segi keindahan atau estetikanya.

Sastra lahir dari sebuah peradaban dan merupakan perwujudan pikiran yang tercurah melalui media tulisan yang dapat direpresentasikan dalam bentuk media-media lain, seperti media gambar, musik, lukisan ataupun arsitektur. Sastra hidup, berkembang dan terus ada di dalam masyarakat. Dalam keberadaannya di tengah masyarakat, sastra memiliki peranan dalam mengaktualisasikan suatu kebudayaan. Dalam hal ini, sastra akan bernilai luhur dan merupakan alat atau bentuk perwujudan budaya yang menyertai sejarah kehidupan manusia.

Ciri-ciri karya sastra di antaranya: isinya menggambarkan manusia dengan berbagai persoalannya; bahasanya indah atau tertata baik; dan gaya penyajiannya menarik dan berkesan di hati pembacanya. Sedangkan fungsi karya sastra meliputi: (1) Fungsi rekreatif, yaitu memberikan kesenangan atau hiburan, baik bagi penulis maupun pembacanya; (2) Fungsi didaktif, yaitu memberikan wawasan pengetahuan mengenai seluk-beluk kehidupan manusia; (3) Fungsi estetis, yaitu memberikan keindahan; (4) Fungsi moralitas, yaitu memberikan pengetahuan bagi pembacanya mengenai moral yang baik dan buruk; dan (5) Fungsi religius, yaitu mengandung ajaran agama yang diteladani oleh pembacanya.

Sastra dalam Ranah Pendidikan
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam ranah pendidikan (baca: sekolah) mencakup 3 (tiga) muatan/ranah, yaitu: bahasa, sastra dan literasi. Seyogyanya, ketiga muatan tersebut harus berimbang. Hal ini penting, mengingat dalam pengamatan Penulis, selama ini yang terjadi adalah adanya dominasi di antara ketiganya. Pembelajaran sastra hanya dijadikan sebagai elemen pelengkap atau tambahan saja, sehingga pemahaman peserta didik terhadap sastra tidak dapat maksimal. Akibatnya, peserta didik kurang –atau tidak– akrab dengan sastra, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak menyukai sastra. Maka, gagallah pembelajaran sastra.

Damono (2007:19-20) berpendapat bahwa, kenyataan cukup memprihatinkan tentang pengajaran sastra di sekolah, bukan karena porsinya yang hanya seperenam dari seluruh materi Bahasa Indonesia, melainkan juga karena strategi pengajarnya yang mengkhianati sastra itu sendiri. Metode menghapal, misalnya, peserta didik hanya diarahkan untuk menghapal nama-nama sastrawan dan karya-karyanya, peristiwa yang berhubungan dengan kejadian sastra, maupun menghapal contoh-contoh soal dengan jawaban yang tersedia.

Tidaklah keliru jika Suharianto (dalam Jamaluddin:89) mengatakan dengan nada pesimis bahwa bila evaluasi yang diberikan tetap sama setiap tahun, maka tujuan pembinaan apresiasi peserta didik terhadap sastra tetap akan menjadi impian belaka.

Pembelajaran sastra bagi peserta didik sangat penting, karena berhubungan erat dengan perasaan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru, keindahan, moral, keagamaan, khidmat, dan cinta. Selain memberikan keindahan dan kenikmatan, sastra juga memberikan keagungan pada siswa (Broto, 1982:67).

Beranjak dari berbagai pendapat di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah. Dalam kurikulum yang berlakukan di SD, SMP, maupun SMA, disebutkan bahwa pengajaran sastra diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para peserta didik sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada peserta didik.

Apresiasi merupakan aktivitas memahami, menginterpretasi, menilai, dan pada akhirnya memproduksi sesuatu yang sejenis dengan karya yang diapresiasikan. Kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif, tetapi –yang lebih penting– apresiasi juga bersifat produktif. Dengan demikian, pengajaran sastra di sekolah tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh peserta didik, tetapi juga diarahkan kepada produktivitas peserta didik dalam berkarya sastra.

Mengakrabkan Peserta Didik dengan Sastra
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa, pembelajaran sastra di sekolah harus diarahkan agar peserta didik akrab dengan sastra, sehingga mereka menyukai dan menghargai karya sastra. Pada akhirnya, mereka juga akan berkarya, bahkan hingga mendalami dan masuk ke dalam sastra itu sendiri. Untuk itu, diperlukan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya berfokus peserta didik, tetapi juga guru –terutama guru Bahasa Indonesia– dan pihak sekolah secara keseluruhan.

Berdasar pada pemahaman tersebut, maka Penulis selaku guru Bahasa Indonesia, merasa tertantang. Penulis merasa bertanggung jawab untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui kegiatan-kegiatan sastra di dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Maka, beberapa rangkaian kegiatan Penulis lakukan, di antaranya: menghidupkan gerakan membaca sastra pada 15 menit pertama di awal kegiatan pembelajaran, berupa prosa fiksi (cerpen dan novel) atau puisi yang sesuai untuk peserta didik. Dengan cara ini, Penulis berharap agar peserta didik dapat mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan perkembangan emosional mereka yang didukung oleh kehalusan bahasa pada karya sastra yang dibacanya.

Kegiatan di luar kelas dan di luar waktu belajar pun Penulis lakukan, salah satunya dengan menyediakan ruang sastra pada media-media pendidikan, seperti majalah dinding, buletin atau majalah sekolah. Pengalaman pribadi Penulis sepanjang menjadi guru; Penulis pernah berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai Kontributor Berita Harian Umum Suara Tangsel, Redaktur Tabloid Perkasa Nusantara; Pemimpin Umum Majalah dan Buletin Assa’adah; dan Pemimpin Redaksi Buletin Mantra. Saat ini Penulis juga menghidupkan kegiatan jurnalistik di sekolah tempat bertugas, dan memandu peserta didik untuk mengembangkan media sekolah bernama BUJUR (Buletin Jurnalistik). Dalam media-media tersebut, Penulis juga menulis sastra, dan berharap dapat menginspirasi dan menggerakkan peserta didik –termasuk guru– untuk juga menulis, terutama sastra.

Selain dalam bidang jurnalistik, Penulis juga aktif melibatkan diri dalam komunitas dan kegiatan-kegiatan sastra. Hal ini penting, sebab Penulis dapat secara intens menimba ilmu dan wawasan kesusastraan dan mengajarkannya kepada peserta didik. Penulis dapat lebih percaya diri, karena tidak hanya teori, tetapi juga diimbangi dengan praktik. Sebagai catatan, Penulis telah menggerakkan para peserta didik untuk menulis sastra (berupa antologi puisi) dan menerbitkannya dalam bentuk buku ber-ISBN dengan judul “Fenomena Negeriku” pada tahun 2015. Disusul antologi cerpen berjudul “Senyum Veliska” pada tahun 2016.

Tidak hanya menggerakkan peserta didik, Penulis juga berhasil mengajak dan menggerakkan guru-guru Bahasa Indonesia di Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten untuk menulis sastra. Maka, terbitlah karya mereka berupa kumpulan cerpen berjudul “Guru Juga Berkarya” dan “Guru Juga Berkarya 2”. Kemudian, akan berturut-turut terbit buku-buku peserta didik dan guru selanjutnya. Kepuasan tentu ada, namun Penulis merasa belum banyak berbuat. Sebagaimana niat semula, semua ini Penulis lakukan semata-mata untuk mengakrabkan peserta didik dengan sastra, sehingga sastra akan tetap hidup, khususnya di ranah pendidikan. ***

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten.
No. Hp    : 088211432980
e-mail    : hdsastra47@gmail.com

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

NASIB SASTRA KITA

NASIB SASTRA KITA Oleh: Cut Januarita *) Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail
Go to Top