Home » Literasi » Rahasia Menulis » 184 views

Rahasia Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Menulis menjadi keperluan manusia. Sebagai bagian dari aktivitas kebahasaan, maka perkembangan kehidupan yang pada akhirnya disebut peradaban salah satunya diabadikan dengan tulisan. Sehingga sebagian besar, kalau tak semuanya, urusan kehidupan manusia memerlukan intsrumen menulis.

Dalam konteks yang lain, menulis dalam pelbagai bentuknya merupakan aktivitas dasar manusia. Sehingga, satu-satunya rahasia menulis adalah ketiadaan rahasia itu sendiri. Dalam perkembangan kehidupan manusia setelah bertutur dan mendengar, keterampilan berbahasa yang paling akhir adalah menulis. Hanya saja, kemahiran membaca menjadi bagian yang juga mengiringinya. Walaupun perintah suci kepada Nabi Muhammad SAW dimulai dengan membaca, tetapi ini sesungguhnya juga adalah perintah yang sama untuk menulis. Tidak akan pernah ada aktivitas untuk membaca jikalau menulis tidak dilakukan juga.

Maka, tidak ada perselisihan pendapat diantara para sahabat ketika Umar bin Khattab RA mengusulkan untuk membukukan Alquran. Khalifah Abu Bakar RA langsung menyetujui dan membentuk tim untuk menuliskan Alquran menjadi mushaf. Dengan prakarsa Umar bin Khattab-lah sehingga mushaf Alquran dimulai untuk dituliskan sehingga berkembang sampai sekarang.

Kembali soal rahasia, adakah rahasia menulis? Saya tidak menemukannya. Bahkan penulis paling senior sekalipun tidak pernah menyembunyikan informasi apa-apa tentang cara menulis. Bahkan, semua orang mengetahui hukum alam dalam soal menulis secara terbuka. Bahwa ada teori, iya. Tetapi teori ini tidaklah baku sama sekali. Hanya ada aturan tata bahasa, itupun digunakan dalam konteks masing-masing tulisan. Maka, menulis tidak pernah dibatasi dalam soal aturan yang sangat ketat, kecuali dalam format yang menentukannya masing-masing.

Menulis menjadi urusan keterampilan semata-mata. Tidak ada satupun manusia yang dilahirkan dengan membawa kemampuan menulis dari rahim ibunya. Karena ini soal keterampilan, maka siapapun dapat melakukannya jikalau rajin berlatih dan mengasah kemampuannya. Saya teringat pesan allahuyarham nenek kami, bahwa “sebuah parang yang tumpul sekalipun tetap saja dapat menjadi parang yang tajam jikalau diasah”. Kurang lebih sama dengan kemampuan menulis juga. Semua orang mampu menulis dengan syarat yang sama, berlatih dan terus mengasah kemampuan menulis tersebut.

Dalam obrolan singkat, menunggu kawan serombongan sementara berbelanja di Lombok, seorang mahasiswa menghampiri saya “bagaimana cara menulis?”. Jawaban saya menjadi tidak singkat atas pertanyaan yang singkat. Saya kemudian menguraikan dengan tamsil bahwa sebuah gelas tidak dapat menumpahkan isinya jikalau belum diwadahi terlebih dahulu. Maka, tugas seorang penulis adalah memeroleh pengalaman baik dalam bentuk membaca, mengamati, atau mengobrol. Dengan salah satu aktivitas ini, atau gabungan diantaranya tersusunlah ide yang dapat ditumpahkan menjadi sebuah tulisan.

Dengan demikian, maka tulisan tersebut akan wujud dalam bentuk yang asli. Tanpa kemungkinan plagiat sama sekali karena dilakukan secara mandiri. Walaupun ide yang ditulisakan ada yang sama dengan tulisan orang lain, tetapi karena tidak di-copy paste tetap saja orisinal. Masih dalam obrolan yang sama, kolega kami menimpali bahwa ada saja professional yang cenderung untuk melakukan tindak plagiat. Mereka hanya mengganti tempat penelitian kemudian menklaimnya sebagai sebuah penelitian yang baru. Padahal, bukan tentang tempat melainkan soal kebaruan yang disajikan dalam sebuah tulisan.

Sejatinya, sebuah tulisan walaupun ide sama, tempat sama, analisis teori yang sama, hanya saja perlu sesuatu yang baru. Jikalau itu dilakukan, maka tidak akan disebut sebagai plagiat. Akhirnya, dua hal yang perlu diperhatikan oleh seorang penulis adalah soal latihan dan kemudian memunculkan gagasan yang baru. Tidak terjadi pengulangan apalagi kalau kemudian menjiplak karya orang lain dan pada gilirannya mengklaim sebagai karyanya sendiri. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top