Guru SD di Pedesaan NTT Bekerja dalam Jaringan Elektromagnetik

Rubrik Pendidikan Oleh

Heronimus Bani

Berapa banyak (guru SD) operator sekolah di pedesaan NTT yang bekerja dengan senang hati? Berapa banyak guru Sekolah Dasar di pedesaan NTT yang dengan hati bergirang, wajah full smile, langkah ringan berangkat ke sekolah untuk mengajar dengan memanfaatkan jaringan yang disediakan operator seperti Telkomsel? Tapi, juga berapa banyak guru SD di pedesaan NTT yang sudah menyadari pentingnya pemanfaatan jaringan untuk proses pembelajaran? Mengapa jaringan penting? Seberapa pentingnya jaringan pada masa ini? Tentu masih diperlukan suatu penelitian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Patut disadari bahwa belum semua guru SD di pedesaan NTT sudah melek teknologi informasi dan komunikasi. Kebutuhan akan informasi yang cepat, telah disadari, tetapi kemampuan untuk mengakses masih belum memadai. Ini tentu masih hipotesa atau anggapan penulis yang masih diperlukan pembuktiannya. Satu hal yang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Provinsi NTT yang kepulauan dengan topografinya bergunung, bukit, lembah, pantai, selat, tanjung, pulau besar-kecil berpenghuni dan tidak berpenghuni. Itulah Nusa Tenggara Timur. Kondisi sosial-budaya yang seringkali menjadi objek “ocehan dan sarkase” sebagian kalangan di antaranya turut berkontribusi. Walau demikian, guru SD di pedalaman/pedesaan NTT tidak hendak “tidur” dalam kekurangberdayaan itu.

Penulis berada di Kabupaten Kecamatan Amfo’ang Selatan (23-24/11/17) Kabupaten Kupang. Di tempat ini jaringan komunikasi sangat membantu (H+) ketika smartphone dibuka. Sangat lancar untuk membantu akses informasi. Lalu, kepada seorang Pengawas TK/SD yang baru saja pensiun ditanyakan seberapa besar pemanfaatan jaringan yang demikian untuk proses belajar mengajar dan akses informasi khususnya informasi perkembangan dunia pendidikan?

Jawabannya, mencengangkan. Jangankan akses informasi, kepemilikan smartphone dapat dihitung dengan jari. Jika mereka sudah mempunyai produk TIK itu, umumnya kurang dipakai untuk kepentingan KBM/PBM. Mengapa? Karena belum mempunyai kemampuan mengakses dan memanfaatkan multimedia education. Sangat disayangkan, bukan? Listrik di Lelogama hanya 12 jam saja, sedangkan pada siang hari, listrik padam. Bagaimana pemanfaatan multimedia education kalau tidak ada listrik. Sementara sekolah-sekolah belum mempunyai genzet. Ini tentu perlu terobosan.

Penulis berada di Kabupatea Alor (9-11/12/17). Kecamatan Alor Timur masih berada di pulau Alor. Kecamatan Alor Timur rasanya dapat disebutkan sebagai kecamatan terjauh dari ibukota kabupaten Alor tetapi terdepan yang berhadapan langsung dengan Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL). Pulau Atauro berhadapan langsung dengan Kotaraja Kolana. Bagaimana dengan jaringan internetnya?

Di sana, tidak perlu repot mencari karena memang tidak ada. Tidak ada! Tidak ada tidak berarti tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Hanya ada satu titik yaitu di pintu gerbang masuk Kotaraja Kolana. Di sana orang berkumpul, memegang telepon genggam, menemukan jaringan lalu berkomunikasi dengan saudara di luar Kotaraja Kolana.

Nah, dapat dibayangkan jika guru operator sekolah harus bekerja untuk meng-ap- deit data pokok pendidikan (dapodik). Mereka harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencapai tempat yang dimungkinkan untuk mendapatkan akses internet paling tidak dengan kode (E). Lalu, apakah mereka, para guru SD itu diharapkan memanfaatkan jaringan untuk KBM/PBM yang multimedia education?

Tentu saja, ya untuk masa yang akan datang, bukan sekarang. Biarlah sekarang para guru SD di pedesaan/pedalaman tertatih-tatih mengejar mereka yang berada di perkotaan yang sudah melek TIK.

Ini hanya dua contoh dari dua kecamatan berbeda pulau dan Kabupaten di NTT. Masih ada pulau besar seperti Flores dan Sumba. Belum lagi pulau-pulau kecil. Dalam pengetahuan geografi NTT kita mengetahui bahwa, Provinsi NTT terdiri atas pulau-pulau yang jumlahnya mencapai lima ratusan pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni. Nah, pulau-pulau besar seperti Timor (Barat), Sumba, Flores, dan pulau-pulau kecil seperti gugusan pulau-pulau di Alor, Rote-Ndao, Sabu- Raijua, pulau-pulau kecil di seputar Flores Timur dan Barat. Semua pulau besar- kecil dipastikan ada wilayah pedesaannya baik di pegunungan/perbukitan mapun di pedalaman dan daerah pantai.

Satu pernyataan menarik dari seorang pensiunan guru di Kabupaten Alor. Amos Sir, mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipersatukan dengan Pancasila. Lalu, laut menjadi jembatannya. Politik memunggungi laut sudah ada implementasinya oleh Presiden sekarang ini, Ir. Joko Widodo. Tol laut buktinya. Kalau begitu langkah persatuan dan kesatuan berikutnya adalah, menghubungkan warga dan penduduknya dengan jaringan elektromagnetik hingga ke pedalaman, pegunungan, perbukitan, daerah lembah, hingga di pantai- pantai dari gugusan pulau-pulau besar-kecil seperti Nusa Tenggara Timur. Jika ini sudah ada, mungkin para guru di pedalaman akan bergirang dalam tugasnya. Semoga! ***

Kalabahi, 10 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan

PKN DAN NILAI MORAL

Oleh: Salamuddin Uwar (Guru SMP Negeri 7 Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara,
Go to Top