Pegiat Literasi yang Gigih

Rubrik Literasi Oleh

Maksimus Masan Kian, saya mulai kenal akrab dengan lelaki asal Honihama ini sekitar dua tahun lalu. Saat itu, kami sama-sama menjadi peserta Lomba Menulis Cerita Rakyat Flores Timur yang digelar Disbudpar Flotim.

Dari situ, komunikasi kami terus terjalin. Hingga ada informasi dari suami Agnetis Da Noa ini bahwa akan dibentuk Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Kabupaten Flores Timur Flotim). Alhasil, Agupena Flotim terbentuk. Oleh forum, Maksimus didaulat sebagai Sang Ketua.

Hari-hari, kami curi waktu senggang selepas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah dengan berkegiatan ilmiah. Berdiskusi, mengajak orang membaca dan menulis, membagikan buku, mendirikan taman bacaan, memberi pelatihan menulis ke sekolah dan kampung-kampung, hingga mendukung beberapa komunitas yang menggelar kegiatan sevisi dengan Agupena Flotim.

Dalam perjalanan, alam raya mempertemukan kami dengan orang-orang yang memiliki gen literasi yang sama. Dari Flotim ada Benediktus Bereng Lanan, Tobias Ruron, Jemmy Paun, As’yari Hidayah Hanafi, Silvester Witin, Agusallim Bebe Kewa, Valentinus Wathon, Geradus Apeutung, Edward Pope, Apong Hurit, Rini Open, Stanis Lamapaha, Silvester Sina Wuan dan guru- guru hebat lainnya.

Kami juga mendapat suntikan tenaga dan pikiran dari orang-orang hebat: Kadis PKO Flotim Bernadus Beda Keda, Wakil Ketua DPRD NTT, Alex Ofong, Dr. Lanny Koroh, Pemimpin Umum Media Pendidikan NTT, Gusty Richarno, Ketua Agupena NTT, Thomas Akaraya Sogen, Penggiat Gerakan Katakan Dengan Buku, Jhonj Lobo, Penulis, Santi Sima Gama, Kepala LPMP Minhajul Ngabidin, Romo Ketua Yapersuktim, Thomas Labina, Kepala UPTD PKO Kecamatan Kelubagolit, Jamil Bahi, Jurnalis Pos Kupang, Felix Janggu, Jurnalis Flores Pos, Wento Eliando, Pemimpin Redaksi Weeklyline.net, Sandro Balawangak, serta beberapa orang luar biasa lainya.

Maksimuslah yang menjadi perekat orang-orang hebat ini untuk bergerak membumikan Gerakan Literasi di Flores Timur. Ia rela meninggalkan semua kenyamanannya dan memilih berdarah-darah di tengah jalan literasi. Berpanas-panasan dan kehujanan keluar masuk sekolah dan kampung untuk membagikan buku, mengajak orang berdiskusi, memberi pelatihan menulis, bahkan sekadar membagikan surat untuk acara-acara literasi.

Maksimus rela meninggalkan anak isterinya dan memilih berjam-jam, berhari-hari, bermalam-malam di kampung demi menggiatkan literasi. Ia tak sekalipun menolak ajakan berliterasi di mana saja.

Meski di tengah semua keikhlasannya menggadaikan diri di jalan literasi, selalu saja ada badai kritik bahkan cacian datang menerpanya. Bukan Maksimus jika hal-hal negatif itu menumbangkan galah semangatnya untuk mengabdi bagi gerakan literasi di Kabupaten Flores Timur.

Maksimus, pegiat literasi paling gigih yang pernah saya temui. (Muhammad Soleh Kadir)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Testimoni Literasi

Oleh: Muhammad Soleh Kadir Literasi adalah gerakan. Dari membaca sampai membangun peradaban.

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top