Bahasa Wersing: Bahasa Persatuan Masyarakat Alor Timur di Nusa Tenggara Timur

Rubrik Opini Oleh

Oleh Heronimus Bani

Pengantar
Kabupaten Alor dikenal dengan paling tidak dua nama lain seperti: nusa kenari dan tribuana. Mengapa Nusa Kenari? Jawabannya, di kabupaten ini terdapat tanaman perdagangan berupa kenari, di samping kemiri dan tanaman perdagangan lainnya. Mengapa tribuana? Kabupaten ini terdiri dari tiga pulau besar; Alor, Pantar dan Pura; 6 pulau kecil, yaitu Ternate, Buaya, Nuhakepa, Terewang, Kura dan Kangge dan 11 pulau lainnya yang belum berpenghuni.

Secara geografis Kabupaten Alor Berdasarkan wilayahnya, batas-batas Kabupaten Alor adalah: Timur : Pulau-pulau di Maluku. Barat : Selat Lomblen Lembata.Utara : Laut Flores. Selatan : Selat Ombay dan Timor Leste.

Alor yang memiliki luas 2.864,64 km2 terdiri dari 17 Kecamatan. Secara geografis, kondisi daerah ini merupakan daerah pegunungan tinggi yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan jurang-jurang. 63.94 % dari wilayah di Kabupaten Alor merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40º (http://alorkab.go.id/).

Di kabupaten Alor, selain sebutan nusa kenari dan tribuana, ada sejumlah kekhasan lainnya. Bahasa menjadi salah satu di antaranya. Data yang ditunjukkan sampai dengan saat ini belum memberi suatu kepastian jumlahnya. Para pemerhati Bahasa masih terus bekerja di Kabupaten ini untuk menguak misteri kekayaan Bahasa-bahasa local, baik yang sudah punah, hampir punah mapun yang dapat diselamatkan untuk pelestariannya.

Salah satu wilayah itu adalah Alor Timur. Alor Timur kini terbagi atas 3 wilayah kecamatan yaitu: Kecamatan Alor Timur, Alor Timur Laut dan Pureman. Kecamatan Alor Timur dan Alor Timur Laur yang berhadap-hadapan dengan Timor Leste, mereka menyebut Bahasa Wersing sebagai Bahasa persatuan masyarakat. Asumsi penulis, ada sejumlah bahasa disana sehingga mesti ada satu bahasa yang dapat mempersatukan mereka dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas.

Kekayaan Bahasa dan Budaya di Alor
Menyongsong hari Proklamasi tahun 2017 yang lalu, Pemerintah Kabupaten Alor menggelar parade Budaya Alor. Lima ribuan orang mengikuti parade tersebut. Bupati Alor memberikan beberapa statement seperti dua kutipan berikut ini.

“Di Kabupaten Alor terdapat 17 kecamatan yang mempunyai budaya dan etnis serta bahasa yang berbeda-beda. Orang Alor kaya dengan bahasa. Kami ada 42 jenis bahasa, 12 di antaranya logat atau dialeknya hampir sama, sedangkan yang sisanya memang beda sama sekali,” kata Amon Jobo, bupati Alor (http://regional.kompas.com/)

Pada floreskita, Amon Jobo menyebutkan keunikan Alor.

Lebih uniknya lagi, di Alor setiap kampung atau desa memiliki bahasa yang berbeda-beda. Jangankan satu desa, setiap dusunnya pun boleh jadi berbeda bahasanya. Hal ini disebabkan oleh topografi dan geografi di wilayah Alor yang terdiri dari pegunungan, perbukitan dan lembah. Setiap desa terpisahkan oleh kondisi alam yang sedemikian sulit sehingga antara satu desa dengan desa lainnya, warga menggunakan bahasanya sendiri.

“Menurut cerita dari para orangtua kami bahwa leluhur kami dulunya setiap berkunjung ke tempat baru kemudian membuat kampung dan permukiman serta membuat bahasanya masing-masing. Mereka menyebar dan membuat budaya dan bahasanya dengan beda-beda,” kata Amon Jobo, bupati Alor (http://www.floreskita.com/).

Kerajaan (Lerian) Taruamang terletak di Alor Timur. Penulis menggunakan istilah Lerian dalam tulisan ini, oleh karena sebutan untuk raja menurut istilah bahasa setempat adalah Leri. Dinasti Lerian Taruamang berasal dari suku Kosow. Nama beken keluarga itu adalah Makoenimau/Makunimau. Lerian Taruamang, ibukotanya Kotaraja Kolana. Kotaraja Kolana terletak di  bibir pantai Selat Ombay. Di sana terdapat sejumlah situs peninggalan yang dapat dilihat sebagai objek wisata sejarah.

Penulis kembali ke masalah bahasa. Tujuh suku (etnis) yang masing-masing mempunyai entitas berbeda menyatu dalam wilayah Lerian Taruamang dimana dinasti Makunimau dengan Leri-lerinya memimpin. Daerah perbukitan di belakang “Gunung” Babi menuju lembah hingga pantai di Selat Ombay merupakan wilayah Lerian Taruamang.

Catatan Zet Sone (10/12/17), seorang guru SD di Kotaraja Kolana, menjelaskan secara ringkas bahwa, daerah atau wilayah Lerian Taruamang terbentang dari Langkuru sampai Waisika dan dari Dotola sampai Lembur. Bahasa Wersing merupakan Bahasa persatuan wilayah Lerian Taruamang.

Mengapa menggunakan Bahasa Wersing? Di Lerian Taruamang terdapat tujuh suku dengan bahasa dan dialeknya sendiri-sendiri. Mereka dipersatukan dengan satu Bahasa “nasional yang mempersatukan” yaitu Bahasa Wersing. Ketujuh suku itu adalah, Kosow, Morow, Ulnow, Alero, Sereng, Kailesa dan Oelig.

Memelihara dan melestarikan Bahasa Wersing dan Bahasa-bahasa lainnya di Kabupaten Alor ini menjadi perhatian para linguist baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bupati Alor, Amon Jobo mengundang para peneliti untuk melakukan penelitian dan dokumentasi Bahasa-bahasa. Undangan itu disampaikan secara terbuka ketika diadakan parade Budaya 2017 di Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor (Agustus 2017 lalu).

Pemerintah melalui para pemangku kepentingan khususnya yang fokus pada upaya dokumentasi dan pelestarian Bahasa daerah di Indonesia terus giat melakukan hal ini. Kantor UPT Bahasa di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah bekerja sama dengan perguruan tinggi di NTT untuk maksud ini. Produk telah tersedia walau belum dapat dikatakan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pada masa ini. Intensitas penelitian dan penulisan buku-buku dalam Bahasa-bahasa lokal/Bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur patut terus dilakukan. Pelestarian Bahasa tidak dilakukan oleh orang di luar pengguna Bahasa itu sendiri. Orang di luar yang datang memberi motivasi pada pemilik dan pengguna Bahasa daerah. Pemilik dan pengguna Bahasa itulah yang mesti giat dan aktif baik dalam pemakaian sehari-hari maupun dalam tulisannya.

Penutup
Bahasa Wersing dan beberapa Bahasa lainnya di Kabupaten Alor, seperti Bahasa Klon, Bahasa Teiwa telah mendapat sentuhan dari Unit Bahasa dan Budaya (UBB) Kupang.  UBB Kupang bekerja untuk penerjemahan Alkitab, khususnya Perjanjian Baru dan untuk kepentingan pendidikan melalui program literasi. Peluncuran Injil Markus dalam Bahasa Wersing, Bahasa Klon dan Bahasa Teiwa dilangsungkan di tiga tempat berbeda di Kabupaten Alor sebagai bukti keseriusan menggurat lisan menjadi tulisan.

Sambutan dari masyarakat pemilik dan pengguna Bahasa-bahasa itu luar biasa. Mereka sungguh bergembira. Bahasa yang tadinya sulit ditulis, bahkan dianggap tidak dapat ditulis karena ketiadaan fonem, sekarang sudah dapat ditulis dengan teknik dan trik yang harus melewati serangkaian penelitian dan pengembangan yang memakan waktu, tenaga dan biaya. Bahasa yang tadinya dianggap tidak layak pakai, usang, kurang gaul, sekarang pantas dan bermartabat untuk dikedepankan sambil mengingat bahwa ada satu Bahasa persatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Bahasa Indonesia.

Orang Alor menggunakan Bahasa Indonesia (maksudnya, Bahasa Melayu Alor) sebagai Bahasa komunikasi antaretnis berhubung mereka mempunyai Bahasa sendiri-sendiri. Orang di Alor Timur menggunakan Bahasa Wersing sebagai Bahasa persatuan untuk ketujuh suku di sana.

Bahasamu adalah identitas, citra dan jati dirimu. Pakai dalam percakapan dan gurat dalam tulisanmu.

Kalabahi, 10 Desember 2017

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Melukis Dunia Cinta

Ada dongeng tentang seorang anak yang masuk ke lubang kelinci, lalu muncul

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top