Jawaban Sebuah Pengorbanan

Rubrik Cerpen Oleh

JAWABAN SEBUAH PENGORBANAN

Oleh: Tawakkal

Malam itu di sudut sebuah gubuk tua dengan cahaya pelita redup, seorang ibu sebutlah namanya Ibu Rohani masih terlihat sibuk menampi beras yang hendak dijualnya ke tetangga sebelah esok hari. Beliau tidak merasakan lelah sedikit pun walau telah bekerja di kebun seharian. Anaknya yang masih berusia lima bulan kini telah ditinggal ayahnya untuk selamanya. Kini beliau hanya tinggal berdua dengan puteri semata wayangnya. Tidak kenal lelah demi untuk menghidupi diri dan buah hati satu-satunya. Bekerja di kebun, menanam padi di sawah, kemudian menjualnya hasilnya ke pasar merupakan satu-satunya harapan untuk terus hidup. Entah apa rahasia tuhan di balik cobaan ini? Suamiku telah diambilnya dalam usia yang masih muda, anakku satu-satunya baru berumur lima bulan. Mengapa Engkau berikan kami cobaan seperti ini? Saya seakan tak sanggup untuk menghadapinya. Air matanya terus menetes bila teringat kenyataan yang dihadapinya. Semuanya dikerjakan bagaikan seorang suami demi mencari nafkah, namun di sisi lain beliau juga harus menjadi seorang ibu yang harus terus merawat dan membesarkan anaknya.

Hari masih gelap beliau bergegas hendak menjual beras ke tetangga sebelah.

Tok tok tok….

“Assalamu Alaikum. Ini saya ada beras sedikit bu. Saya ingin menjualnya”

“Iya, boleh. Namun harganya masih tetap seperti minggu lalu. Ibu setuju? Kata tetangga sebelah sebut saja namanya Ibu Nurhaedah

“Iya bu, tidak apa-apa kok. Asal bisa menutupi biaya hidup kami”

“Baik. Bawa saja ke dalam, tapi uang ibu nanti siang yah bila saya telah kembali dari pasar”

“Baik bu, tidak apa-apa”

Dengan perasaan gembira beliau kembali menuju rumah untuk mempersiapkan sarapannya di pagi itu. Alhamdulillah, beras saya dibeli oleh ibu Nurhaedah. Katanya dalam hati.

Udara pagi yang sejuk disambut dengan kicauan burung yang merdu mengantar kepergian Ibu Rohani menuju kebun. Anaknya yang masih berumur lima bulan terpaksa beliau titip ke rumah Ibu Hamdana. Tak jauh dari rumahya. Ibu Hamdana adalah seorang isteri dari bapak ketua Rukun Tetangga di kampungnya. Beliau baik hati, penuh perhatian, dan rela membantu Ibu Rohani setiap saat.

“Assalamu Alaikum. Ibu Hamdana ada di rumah?” Tanya Ibu Rohani

“Walaikum Salam. Iya bu. Silahkan masuk. Saya ada di dapur” Jawab ibu Hamdana

“Saya ingin minta tolong, titip Si Ani. Saya hendak ke kebun” Pinta ibu Rohani

“Iya bu, titip saja sama saya. Nanti saya yang jagain” Jawab ibu Hamdana

“Terima kasih bu. Saya berangkat dulu. Maaf saya sering merepotkan ibu” Kata ibu rohani

“hehehehe… tidak apa-apa ibu Rohani. Berangkatlah entar hari tidak lama lagi akan terik” Jawab ibu Hamdana.

Hari terus berlalu, ibu Rohani yang tak kenal lelah terus bekerja demi anak satu-satunya. Penuh kasih sayang merawat dan menjaga anaknya. Tak terasa kini Ani sudah menginjak usia remaja. Dengan kepandaian yang serta doa dan usahanya yang juga tak kenal lelah beliau akhirnya lulus dan mendapatkan beasiswa di salah saat Universitas Negeri di kotamadya. Air mata menetes membasahi pipi ibu yang Rohani yang sedikit telah keriput. Sambil mengusap bahu anaknya beliau berkata dengan pelan,

“Alhamdulillah, kamu lulus nak, kamu berhasil mendapatkan beasiswa. Ini adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa. Rajinlah shalat, terus berdoa, dan tuntutlah ilmu semoga kamu bisa menjadi orang yang berhasil. Walaupun kini engkau akan pergi meninggalkan ibu, namun saya rela demi meraih cita-citamu. Jaga dirimu nak”

Suara tangisan menghiasi gubuk tua tersebut. Mereka tidak sanggup menahan kesedihan. Kini anak satu-satunya akan pergi jauh ke kota menuntut ilmu. Ibu rohani kini hanya tinggal sendiri. Pandangannya jauh menerawang, foto usang pernikahan yang digenggamnya membuat beliau kembali mengingat sosok suaminya yang telah lama pergi untuk selamanya. Andaikan engkau masih di sini bersama kami, engkau akan tersenyum bahagia melihat anakmu berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Tuhan, Engkau Maha Penyayang, tempatkanlah suamiku di surgamu. Pintanya dalam hati.

Waktu terus berjalan, kini ibu Rohani tinggal sendiri di gubuk tua peninggalan suaminya dan hanya ditemani oleh kesunyian. Namun, beliau tetap tegar dan ikhlas untuk terus hidup walau dalam keadaan seperti itu. Beliau sosok yang pantang menyerah menghadapi takdir. Tetap tersenyum walau sebenarnya dalam hatinya penuh dengan beban hidup yang tiada tara. Sudah hampir lima tahun hanya surat yang bisa berkata dan menyampaikan kabar tentang anaknya. Kapan engkau bisa kembali nak? Aku sangat rindu, telah bertahun-tahun saya tidak melihat wajahmu. Hanya kata itu yang bisa ditulis dalam sepucuk kertas bila membalas surat dari anaknya.

Suatu hari, padi di sawah yang tidak terlalu luas akhirnya telah menguning, tibalah saatnya untuk dipanen. Bahagia rasanya, bila beras nanti bisa dijual dan hasilnya bisa dikirim ke kota untuk menutupi sebagian kebutuhan anaknya di sana. Sampai pada saatnya, padi pun telah selesai di panen dan melalui beberapa proses akhirnya beras pun siap untuk dijual. Semoga bisa membantu Si Ani menutupi sebagian biaya hidupnya di kota, gumam Ibu Rohani dalam hati.

Matahari pagi telah terbit disambut dengan udara yang sejuk, hati Ibu Rohani seakan penuh harap semoga berasnya bisa laku terjual. Langkah yang lambat perlahan menghampiri pintu hendak ke rumah tetangga sebelah untuk menjual lagi beras hasil dari sawahnya. Tiba-tiba beliau dikagetkan dengan suara seorang lelaki dari halaman depan rumahnya.

“Assalamu Alaikum. Apakah ibu Rohani ada di rumah? Saya Zaeni” Kata lelaki tersebut

“Walaikum Salam. Iya, silahkan masuk nak Zaeni. Saya ada di dalam” Jawab Ibu Rohani

“Ini bu, ada surat saya bawa dari Ani. Kemarin ketemu di terminal. Dia minta tolong titip surat ini buat ibu” Lanjut Zaeni

“Oh iya. Terima kasih nak Zaeni”

Zaeni adalah seorang yang berprofesi sebagai sopir penumpang yang tinggal di kampung tersebut. Beliaulah satu-satunya orang yang mempunyai mobil pada saat itu.

Seiring kepulangan Zaeni dari rumahnya, ibu Rohani dengan perasaan yang senang mulai membuka surat tersebut. Kenapa Ani baru mengirim lagi surat kepadaku? Terakhir enam bulan yang lalu. Semoga beliau tetap dalam lindungan yang Maha Kuasa. Surat itupun mulai dibacanya, alangkah bahagianya membaca surat walaupun isinya sangat singkat.

“Bagimana kabar mak di sana? Sehat kan? Mak, saya akan balik ke kampung bulan depan. Tidak usah mengirim apa-apa lagi ke sini. Persiapan untuk hidup saya di sini masih cukup hingga bulan depan. Sudah dulu yah, jaga diri mak”

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu selama ini oleh ibu Rohani. Kini anaknya akan kembali ke kampung halamannya. Apakah Ani telah lulus kuliah? Apakah beliau kembali membawa kabar bahagia atau malah sebaliknya? Pertanyaan ini seakan terus menghantui perasaan ibu Rohani, namun beliau cuma bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja.

“Assalamu Alaikum. Mak, saya Ani” Suara terdengar dari pintu depan

“Walaikum Salam” Jawab ibu Rohani

Air mata mengalir deras menghiasi wajah keriput ibu Rohani. Seakan teringat kembali saat kepergian Ani beberapa tahun silam. Kini dia telah kembali. Tangan yang kasar membelai rambut putrinya, dia memandangi wajah putrinya dengan penuh rasa haru.

“Lima tahun silam saya terakhir melihatmu nak, kini engkau semakin dewasa” kata ibu Rohani sambil air matanya terus menetes di wajahnya. Sambil memandangi wajah ibunya Ani berkata dengan nada pelan,

“Mak, saya sekarang sudah sarjana, dan lulus menjadi pegawai negeri sipil sebagai seorang guru sekolah dasar di kampung kita ini. Ini semua berkat perjuangan dan doa mak”

Dipeluklah putrinya sambil berkata,

“Alhamdulillah nak, saya merasa sangat bahagia. Kini engkau telah kembali membawa jawaban dari beribu harapan mak. Jadilah guru yang bisa mencerdaskan bangsa. Khususnya di kampung kita ini”

“Iya mak, terima kasih”

Seiring berjalannya waktu, kini Ani telah menjadi guru yang sukses dan dikenal berbudi baik. Berkat kegigihannya bekerja kini beliau telah berhasil membuat cita-cita ibunya tercapai, yaitu menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah.

Sekian….

Lahir di Gowa / Maroanging 13 Oktober 1986. Alamat Dusun Dauhe, Desa Darubiah, Kec. Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, jenjang Strata Satu (S-1) PGSD. Mempunyai hobby, menulis, membaca, olahraga, travelling, dan sebagainya. Di samping sebagai guru pada Sekolah Dasar, penulis juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Kritik dan saran sangat diharapkan dan bisa disampaikan lewat akun facebook Tawakkal Thu Alallah atau ponsel/WA di 085255991914. http://tawakkalthualallah.blogspot.com. Kini menjadi Pengurus Agupena Cab. Bulukumba.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak
Go to Top