Agar Berkemah Tak Sekedar Program Rutin Sekolah

Rubrik Opini Oleh

Oleh Abu Maryam AlGhafiqi
(Agupena DKI, Sekjen Pramuka SIT Depok)

“Sebuah Negara tidak akan kekurangan sosok pemimpin jika generasi mudanya sering berpetualangan di hutan, gunung dan lautan.” (Henry Dunant)

Berkemah atau Camping merupakan kegiatan yang populer di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Meskipun sejarah tentang aktivitas perkemahan telah ada sejak zaman pra-sejarah, namun kemah sebagai aktivitas rekreasi baru dikenal di awal abad-20. Kegiatan perkemahan yang awalnya merupakan cara bertahan hidup masyarakat purba kini menjadi trend muda-mudi untuk mencari moment dan tempat yang fotongable.

Dalam dunia pendidikan sendiri kegiatan perkemahan sudah menjadi program yang rutin dilaksanakan oleh sebagian besar sekolah, dari tingkat SD sampai Universitas. Kemah sebagai sarana edukasi mulai dikenalkan oleh Sir Thomas Baden Powel melalui organisasi kepanduan (Boys Scout) yang didirikannya pada tahun 1908. Sejak saat itu kegiatan perkemahan menjadi program yang wajib diikuti oleh setiap anggota kepanduan. Powell yang merupakan veteran perang melihat bahwa salah satu penyebab kekalahan Inggris di beberapa peperangan yang diikutinya antara lain tidak adanya patriotisme, kemandirian dan kerjasama dalam jiwa tentara-tentara Inggris saat itu.

Oleh sebab itu, Powell berharap melalui Boys Scout Movement yang dipimpinnya bisa terbentuk generasi-generasi muda Inggris yang memiliki jiwa pemimpin dan rasa cinta tanah air yang mendalam. Hampir seluruh kegiatan scouting ketika itu berkaitan dengan pembentukan mental yang terintegrasi langsung melalui interaksi dengan elemen-elemen yang berasal dari alam. Dan puncak dari kegiatan scouting ketika itu adalah berkemah.  Berkemah menjadi program utama kepanduan karena dalam perkemahan tersebut akan terbukti sejauh mana para anggota memahami serta menghayati setiap materi yang diberikan oleh pembina.

Penulis mengamati, secara umum kegiatan perkemahan di sekolah dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: perkemahan pramuka dan perkemahan non-kepramukaan. Perkemahan  Pramuka adalah kegiatan yang diselenggarakan sebagai bagian dari program kepramukaan dalam tingkatan tertentu. Menurut waktu pelaksanaannya perkemahan pramuka terbagi menjadi; perkemahan satu hari (persari), perkemahan sabtu-minggu (persami), perkemahan jumat-sabtu-minggu (perjusami). Sementara jika ditinjau dari tujuannya perkemahan pramuka terdiri dari; kemah bakti, kemah pelantikan, kemah lomba, kemah riset dan jambore. Adapun perkemahan non-kepramukaan yaitu program menginap yang tidak ada unsur kepramukaan di dalamnya contohnya seperti Super Camp, Motivation Camp, dll.

Sering kali dalam evaluasi hasil kegiatan didapati tidak tercapainya tujuan program perkemahan sebagaimana yang diharapkan oleh sekolah. Proses internalisasi nilai yang seharusnya terjadi di perkemahan nyatanya tidak terbukti dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah. Hal tersebut  dapat disebabkan karna tidak maksimalnya sekolah dalam mempersiapkan program perkemahan yang akan diselenggarakan. Hingga akhirnya perkemahan tadinya diharapkan mampu menjadi tempat siswa menempa kemandirian, kebersamaan dan patriotisme hanya sebatas kegiatan menginap saja.

Karenanya penulis yang juga salah satu praktisi pendidikan ingin berbagi beberapa tips agar kegiatan perkemahan tak hanya sekedar menginap saja.

Pertama: Pahami Jenis Perkemahannya

Sukses atau tidaknya kegiatan perkemahan ditentukan oleh sejauh mana sekolah (dalam hal ini yayasan/manajemen/guru) memahami jenis perkemahan yang ingin diselenggarakan. Jika perkemahan yang ingin diadakan ada kaitannya dengan pembelajaran pramuka, maka jenis perkemahannya pun harus mengikuti kaidah-kaidah kepramukaan. Mulai dari konsep acara hingga pemilihan tempat berkemah. Namun jika perkemahan yang ingin diadakan hanya sebatas pelepas penat atau refreshing saja maka konsep acaranya dibuat se-enjoy mungkin.

Kedua: Bijak dan Tepat Memilih Tempat

Kesan  yang akan melekat dalam ingatan siswa setelah mengikuti perkemahan salah satunya ditentukan oleh ketepatan panitia dalam memilih tempat. Selain memperhatikan safety factor seperti akses kendaraan, kontur tanah, sumber air dan adanya penjaga keamanan. Panitia juga sepatutnya bisa memilih tempat berkemahsesuai dengan level/kelas yang akan menjadi peserta kemah. Jika perkemahan pramuka, maka disesuaikan dengan tingkat keanggotaannya; siaga, penggalang, penegak atau pandega. Untuk tingkat siaga (kelas 3 SD) tempat kemah yang dipilih sebaiknya tidak jauh dari lokasi sekolah, dekat perkotaan dan dapat diakses dengan mudah. Sementara untuk golongan penggalang (kelas 4, 5 dan 6 SD) umumnya sudah memungkinkan untuk berkemah di camping ground atau tempat yang memang disetting khusus untuk perkemahan. Camping ground-pun juga harus disesuaikan dengan tujuan acaranya. Jika tujuan acara ingin membentuk siswa yang mandiri, bisa memimpin dan bekerjasama dalam kelompok, serta bertahan dalam kondisi tertentu. Maka jangan memilih camping ground yang terlalu “enak”, seperti ada fisilitas villa, kolam renang dan kantinnya. Untuk golongan penggalang (SMP) bisa menggunakan lokasi camping ground yang ada di wilayah perhutani seperti; camping ground Gunung Pantjar, camping ground Gunung Bunder dan camping ground Gunung Gede . Kemudian untuk golongan dewasa (Penegak dan pandega) biasanya perkemahan diadakan di lokasi yang lebih “menantang” seperti hutan dan gunung. Perkemahannya pun dilaksanakan dengan satuan yang lebih sedikit pesertanya. Dan satu lagi, keberadaan tempat tertutup (Indoor) seperti aula sangat penting untuk kegiatan perkemahan dengan jumlah peserta yang banyak. Aula juga berfungsi sebagai antisipasi jika terjadi hujan deras, badai atau faktor lain yang membuat peserta tidak memungkinkan tidur di tenda.

Ketiga: Cermat Memilih Waktu

Panitia tentunya juga tidak mau direpotkan oleh cuaca ketika melaksanakan perkemahan. Maka dari itu pemilihan waktu yang cermat akan sangat berpengaruh terhadap jalannya acara. Sebaiknya perkemahan dijadwalkan bukan pada musim penghujan, jangan pula saat musim kemarau panjang yang akan membuat panitia kesulitan air. Perkemahan juga sebaiknya dilaksanakan di hari kerja (senin-jumat) bukan di akhir pekan (sabtu-ahad), karna akan berpengaruh terhadap lama tidaknya perjalanan menuju lokasi. Bukan pula saat libur panjang sekolah.

Keempat: Kreatif dalam Meracik Acara

Dalam perkemahan pramuka biasanya berisi kegiatan seperti scouting challenge, scouting skill, games, materi kepramukaan dan juga memasak. Tak lupa night journey atau caraka malam juga menjadi menu kegiatan yang dinanti oleh peserta. Namun sekali lagi, rangkaian kegiatan harus disesuaikan dengan goal yang ingin dicapai oleh panitia/sekolah. Untuk perkemahan pramuka seperti jambore biasanya rundown acara yang dibuat dengan cukup ketat di tiap jamnya. Namun juga jangan sampai menghilangkan waktu peserta untuk beristirahat dan bercengkrama dengan peserta yang lain. Jika format kegiatannya adalah super camp atau kemah ceria, maka susunan acara yang disuguhkan biasanya tidak terlalu padat dan cenderung santai serta kurang menantang.

Demikian beberapa tips dari penulis terkait suskes atau tidaknya sebuah perkemahan  dilaksanakan. Sebenarnya masih ada beberapa faktor lain yang menentukan, seperti perlengkapan, dana dan juga SDM panitia. Namun biasanya faktor-faktor tersebut masih bisa tertangani oleh pihak sekolah dengan baik. ***

3 Comments

  1. Keren…
    Sejatinya tiap praktisi pendidikan memiliki kemampuan untuk menganalisa dan mebuat tulisan yang mampu memberikan wawasan tambahan bagi setiap orang yang membacanya tanpa harus bertatap muka.
    Tulisan ini mengingatkan bagi kita semua sebagai pembaca, agar bijak dalam mengelola sebuah perkemahan agar menjadi pembelajaran yang baik. Semoga dimudahkan dalam setiap aktivitas. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Masalah buat Loe!

Oleh: La Ode Mu’jizat Saat memakai seragam putih-merah semasa SD dahulu, rasanya

Pencuri Impian

Oleh: La Ode Mu’jizat Hati-hati, di dunia ini ternyata banyak orang yang
Go to Top