Home » Opini » Melukis Dunia Cinta » 63 views

Melukis Dunia Cinta

Rubrik Opini Oleh

Ada dongeng tentang seorang anak yang masuk ke lubang kelinci, lalu muncul di dunia berbeda yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Itulah Alice, yang terkenal dalam kisah ‘Alice in Wonderland’. Film kartunnya sering ku tonton semasa kecil dahulu. Adapula cerita tentang sekelompok anak muda asal Inggris yang ketika masuk ke sebuah lemari pakaian, tiba-tiba mereka sudah berada di negeri asing, dan lalu bertemu dengan seekor singa yang bisa berbicara seperti manusia. Itulah ‘The Chronicle of Narnia’.

Tiba-tiba saja sebuah dunia baru nampak di hadapan. Dan petualangan telah dipersiapkan untuk Alice dan kelompok anak muda asal Inggris itu. Mereka lalu mengukir catatan kepahlawanan di negri yang tak dikenal. Apakah mereka menikmatinya? Ya, kurasa begitu. Sebab kisahnya selalu berakhir bahagia.

Bicara soal “dunia baru”, kita tentu pernah menemukan berbagai kalimat bijak yang menyatakan bahwa siapapun bisa “mencipta dunia baru” buat dirinya. Misal, “you are what you think”, dan “Siapa yang menabur, maka dia pula yang menuai.” Keduanya bermakna bahwa jika memilih untuk selalu berpikir positif, serta menanam pohon kebaikan dalam kehidupan, maka sesuatu yang positif atau buah kebaikan akan senantiasa hadir dalam hidup. Begitu juga kalau memilih sebaliknya. Nah inilah yang Saya maksud dengan “mencipta dunia” buat diri sendiri.

Suatu hari, seorang Bapak berkisah t entang pengalaman hidupnya padaku. Pria berusia lanjut yang menurut kebanyakan orang adalah termasuk manusia beruntung. Mengapa ia dianggap demikian? Sebab sampai memasuki usia senjanya itu, dirinya nyaris tak pernah sakit. Kehidupan rumah tangganya aman-aman saja. Begitupula dengan para buah hatinya, mereka menjalani kehidupan dengan baik serta menjadi teladan orang sekampung.

Mungkin Anda akan bertanya, apa sih rahasia sang Bapak? Jawabannya telah ia ceritakan secara langsung padaku. “Hiduplah dengan penuh rasa Syukur”, kata beliau. “sayangi keluarga, bantu (semampunya) orang-orang yang mengalami kesulitan, permudah urusan sesama, saling menghargai, dan jangan sombong,” tutur sang Bapak yang telah memasuki usia senja itu.

Rupanya perilaku mengagumkan tersebut berbuah manis bagi diri dan keluarganya. Nyaris Sepanjang hidup, ia hanya bertemu dan berinteraksi dengan sosok-sosok yang berbuat baik padanya. Sebagaimana dirinya melakukan hal tersebut pada orang lain. Bagaimana dengan anak-anaknya? Sama, para buah hati yang melanjutkan studi di tempat nun jauh dari kampung halaman, juga bertemu dengan pribadi-pribadi baik, yang lalu menuntun mereka menyelesaikan pendidikan dengan penuh tanggung jawab. “Subhanallah”, kataku.

Apa yang ingin saya sampaikan lewat tulisan singkat ini adalah bahwa setiap orang “mencipta” dunianya sendiri. Jika ia ingin berada pada semesta yang penuh cinta dan harmoni, maka tanamlah pohon kebaikan, agar dapat memanen buah yang baik. Begitu juga sebaliknya, jika memilih jalan yang dzolim. Hidup adalah pilihan, tapi saran Saya, pilihlah dunia cinta dan kebaikan, sebab itulah fitrah manusia. Hanya dengan begitu, kebahagiaan hakiki akan hadir. ***

 

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Masalah buat Loe!

Oleh: La Ode Mu’jizat Saat memakai seragam putih-merah semasa SD dahulu, rasanya

Pencuri Impian

Oleh: La Ode Mu’jizat Hati-hati, di dunia ini ternyata banyak orang yang
Go to Top