Fokus dan Konsistensi dalam Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Saat menempuh pendidikan secara formal, seorang mahasiswa bisa saja memiliki publikasi. Itu terkait dengan kewajiban utama sebagai mahasiswa. Hanya saja, ketika kembali ke tempat kerja dan mulai melakukan aktivitas, belum tentu bisa mengerjakan sebuah karya untuk yang dapat dipublikasikan.

Sejak kerjasama Indonesia dan Kanada, begitu pula Indonesia dan Belanda, sarjana-sarjana kajian Islam dikirim untuk belajar di program magister maupun doktor ke kedua negara tersebut. Mereka menempati bangku kuliah di universitas terkemuka seperti Leiden University, Belanda, dan McGill University, Kanada. Hanya saja, saat kembali, karya mereka sepi memenuhi wacana ilmu pengetahuan tanah air. Padahal, mereka menghasilkan tesis dan disertasi yang menjadi perbincangan dunia akademik jagad raya.

Bukan karena kemampuan, sebab saat mereka duduk di bangku kuliah, karyanya dirujuk dan dipublikasikan di penerbit ternama. Mudah-mudahan, karya itu tidak menjadi karya terakhir. Bukan karya pohon pisang, hanya berbuah sekali. Setelah itu tumbang. Idealnya, menjadi karya buah nangka. Berkarya dengan buah yang teramat banyak. Hanya maut yang bisa menghentikan kesempatan untuk berkarya.

Saya menyebutnya dalam satu kata, fokus. Seorang dosen dan peneliti atau sebagai abdi Tuhan yang menghambakan diri melalui ilmu pengetahuan mesti memiliki fokus yang berkaitan dengan manajemen pengetahuan. Tidak hanya dalam hal belajar dan mengajar saja, tetapi perlu memperhatikan apsek yang berkaitan dengan publikasi.

Dalam banyak hal, kegiatan sehari-hari akan menggangu ritme kerja untuk berkarya. Hanya saja, kalau karena alasan tidak ada waktu, maka waktu untuk menulis harus diciptakan. Tanpa itu, maka selamanya tidak akan pernah ada waktu untuk berkarya. Belum lagi, sebagai makhluk sosial. Ada saja undangan untuk pernikahan, aqiqah, takziah, dan juga reuni sekolah. Semuanya tentu harus dipenuhi, tidaklah mungkin saya menampik undangan pernikahan dengan alasan “saya lagi menyiapkan publikasi”. Dengan fokus, semua aktivitas tetap berjalan tetapi selalu ada ruang untuk berkarya dan bekerja demi kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan saya diberikan hadiah oleh kakak sepupu saya sebuah meme, dengan pesan “saat berliburpun juga menjadi kesempatan untuk terus menulis sebuah artikel jurnal”.

Walaupun sudah fokus, tetapi kalau tidak dipertahankan tetap saja akan buyar. Oleh karena itu, dengan senantiasa merawat semangat itu akan membantu semua ritme yang diinginkan berjalan sesuai dengan target. Suasana sedih dan kecewa, tentu akan mengurangi semangat. Sebaliknya, ketika bahagia dan gembira, semangat itu membuncah. Dinamika kehidupan secara alami akan terus berubah. Namun demikian, tugas cendekiawan secara personal untuk terus merawat semangat dalam keadaan apapun juga. Termasuk merawat semangat dengan tetap berusaha untuk menghibur diri sendiri. Tidaklah mungkin semangat itu terbangun dari orang lain atau pihak eksternal.

Selalu saya ulangi, bahwa karena pangkat dan kedudukan saja dapat menjadi alasan untul terus berkarya. Justru perlu alasan yang lebih besar dalam menghasilkan sebuah karya. Jika bisa dianalogikan, perjalanan karir akademik itu sebagai sebuah lintasan marathon, maka tidaklah perlu cepat tetapi perlu konsistensi. Menjaga agar stamina tetap terjaga diperlukan agar karya dapat dihasilkan dari waktu ke waktu. Sekali lagi, bukan karya pohon pisang tetapi karya pohon nangka. Terus berbuah sepanjang hayat. Tidak karena target kepangkatan, melainkan karena penghambaan kepada Yang Kuasa. Usia boleh berakhir tetapi umur bisa saja berlanjut. Badan sudah berkalang tanah tetapi karya terus didiskusikan, dirujuk, dan dijadikan acuan. Dalam istilah yang lain disebut amal jariyah.

Untuk itu, jalinan antara fokus dan konsistensi akan menjadi faktor pendukung dalam terus berusaha dalam karya dan kekaryaan. Ketika ditolak oleh pengelola jurnal ataupun penerbit, bukan memendam kecewa dan menghentikan usaha yang selama inim dilakukan. Sebaliknya, itu akan menjadi kesempatan dalam berusaha untuk lebih baik. ustru itu, bisa dijadikan sebagai awal untuk kembali belajar. Setelah sekian lama meninggalkan bangku kuliah. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top