Hutang Darah, Membuang Panas

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Oleh Heronimus Bani

Puluhan tahun yang lalu suatu peristiwa terjadi di suatu desa di bibir Sungai Noelmina’. Ketika itu jembatan Noelmina sedang dalam pembangunannya menggantikan konstruksi darurat dengan beton berpagar seperti yang terlihat sekarang. Peristiwa ini menggegerkan karena seorang gadis kecil tewas tertimpa pohon gewang. Pohon gewang yang tumbang itu tidak tumbang dengan sendirinya. Pohon itu ditebang seorang pemuda bernama, Yasor.

Yasor bersembunyi di hutan jati. Kemudian merayap di hutan bambu di sekitar bukit. Merasa aman, ia menumpang bis dengan cara menggelantung hingga turun di kota kecil Oesao. Lalu, dari sana, setelah menunggu kendaraan umum yang tidak mudah didapatkan, ia menumpang truk yang secara kebetulan akan ke kota kecamatan dan tidak langsung ke kampung halamannya. Ia masih harus berjalan kaki melewati hutan Sismeni’ untuk sampai ke kampungnya, suatu desa yang jauh dari hiruk-pikuk kendaran dan belum banyak sentuhan dunia modern.

Waktu berlalu, hari berganti. Tahunan telah terlewati. Pemuda Yasor pun telah menjadi seorang suami dari seorang isteri, dan ayah untuk anak-anaknya. Ia seakan hidup jauh dari masalah yang telah menimpa satu keluarga yang berduka oleh karena anak mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

Ontje. Begitulah mereka menyebut nama anak itu. Seorang gadis manis usia sekolah dasar. Ia bahkan sedang duduk di bangku sekolah dasar di desanya itu. Sang kepala sekolah memberi sehelai kain tenunan khas Timor Tengah Selatan. Kain itu diberikan sebagai tanda turut berduka dan berkabung. Teman-teman sekelasnya menangisi jenazahnya. Mereka pun larut dalam duka dan tidak akan melupakan peristiwa ini selagi mereka menjalani kehidupan. Upacara pemakaman Ontje berakhir. Sanak keluarga Ontje pun kembali dengan kesan dan permenungan. Akankah Yasor hidup aman di tempat pelariannya!?

Sementara itu, orang tua Ontje sekalipun geram dalam dukanya, mereka tidak mendendam pada pemuda Yasor, si penyebab kematian anak mereka. Mereka pun tidak berniat untuk mencari atau melaporkan kepada penegak hukum untuk mencari dan mengenakan pasal-pasal penghilangan nyawa baik secara langsung maupun tidak langsung, berencana ataupun tidak berencana.

Tahun berganti. Yasor hidup dalam rumah tangganya dengan tiada beban pergumulan yang terfokus pada Ontje. Ia bahkan menjadi anggota majelis gereja, melayani umat yang dipercayakan kepadanya dalam lingkungan pelayanan yang tidak lebih dari dua puluh rumah tangga. Ia bahkan telah beberapa kali selalu terpilih lagi dan lagi setiap periode empat tahunan kemajelisan. Lalu, suatu ketika dalam masa pemilihan, ia menolak secara halus dengan alasan membangun rumah. Diam-diam ia berjanji pada Tuhannya, jika rumah yang ia bangun telah selesai, ia pun akan kembali ke dalam tangan Tuhannya sebagai hamba-Nya.

Empat tahun berlalu, ia lupa pada janjinya ini ketika ia diminta panitia untuk kembali dalam masa pemilihan anggota majelis gereja. Lalu, datanglah seorang anggota keluarganya untuk mengingatkannya. Ia menerima tugas ini, dan segera melupakan janjinya pada Tuhannya.

Suatu hari dalam tahun kedua masa tugas Yasor, ia harus menemani anggota umatnya ke desa Teas, suatu desa di Timor Tengah Selatan. Dalam perjalanan memasuki wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, tepat di lokasi dimana ia pernah bersembunyi dalam pelariannya, ia teringat masa lalunya yang hitam. Tiada disangkanya, dari sanalah titik-titik dan benih penyakit mulai mendera tubuhnya. Ia merasakan sekujur tubuhnya sakit, tetapi segera sesudahnya ia sembuh, bahkan nampak segar-bugar. Berkali-kali hal ini terjadi. Baginya ini hanyalah suatu kebetulan. Orang-orang di sekitarnya pun hanya mengingatkannya akan satu kebiasaan konsumtifnya yaitu menenggak miras.

Pagi itu, ia memimpin ibadah dalam wilayah kecil pelayanannya. Ia terjatuh di tengah doanya. Ibadah pun dilanjutkan oleh anggota majelis yang turut serta dalam ibadah itu. Petugas kesehatan di desa tiba satu jam kemudian untuk menolongnya. Tidak banyak hal yang diingatkan oleh sang petugas kesehatan dari pustu. Banyak istirahat, makan yang cukup oleh karena tekanan darah yang tidak stabil. Tapi, siapa menduga penyakit ini seperti mempermaikan Yasor. Ia sembuh secara total. Sehat dan kuat. Bekerja di ladang dan memberi pakan pada ternak peliharaannya sebagaimana biasanya ia lakukan.

Sakit lagi. Sembuh lagi. Puskesmas dan Rumah sakit Naibonat melayaninya dengan satu kesan, tidak ada penyakit kecuali tekanan darahnya yang kurang stabil. Kurang yakin dengan para petugas puskesmas dan rumah sakit, ia ke dokter praktik. Hal yang sedikit berbeda, asam lambung. Perawatan berlangsung dalam beberapa hari dan sembuh.

Suatu siang, di desa itu ada upacara pemakaman jenazah seorang bapak. Sesudah upacara yang disebut subat, ia masih sempat membantu anggota majelis untuk pelayanan ibadah syukuran. Setelah membantu, ia terjatuh dalam pingsan yang cukup lama waktunya. Orang-orang yang membantunya bingung. Apa yang menimpanya? Ia baru saja membantu dalam ibadah syukur, dan sangat segar-bugar. Ia masih sempat membuat pernyataan jenaka untuk menghibur kaum berduka. Mengapa ia pingsan bahkan terkesan telah kehilangan aliran darah di dalam tubuhnya sehingga wajahnya pucat pasi?

Penelusuran dengan memanfaatkan kearifan lokalpun dilakukan oleh anggota keluarga. Setelah beberapa kali percakapan yang disebut naketi’ didapati bahwa ada satu titik hitam besar yang pernah ia tempatkan di suatu desa di bibir sungai Noelmina’. Titik hitam itu sedang menanti kedatangannya. Masalah pun timbul. Hal itu telah terjadi puluhan tahun yang lalu. Ia telah menghilangkan nyawa orang sekalipun bukan dengan tangannya sendiri. Ia menebang pohon gewang, pohon itu menimpa rumah, sementara di bawah tiris rumah seorang gadis bermain disana sehingga ia tertindih pohon yang tumbang itu. Si gadis kecil itu tewas. Yasor lari. Si gadis masuk ke kubur, Yasor kabur.

Utusan keluarga mendatangi orang tua gadis yang tewas puluhan tahun lalu itu. Utusan keluarga diterima dengan baik. Ia berjanji untuk menyelesaikan permasalahan itu dengan suatu upacara/ritual permohonan maaf. Orang tua Ontje pun menerima dengan lapang dada sambil menggurat duka pada air muka mereka karena kehilangan puluhan tahun lalu itu. Tetapi, air telah tumpah di tanah kering, air telah terhisap ke dalam debu, tiadalah mungkin untuk mengambilnya kembali ke dalam gelas minum. Utusan keluarga kembali dengan kabar baik. Sakitnya Yasor terasa berkurang. Hari pertemuan belum disepakati karena orang tua Ontje harus mengabarkan kepada anak-anaknya yang jauh di rantauan.

Hari berlalu cepat. Kabar dari mereka di rantauan tiba berhubung komunikasi dunia modern yang luar biasa cepat perkembangannya. Mererka menanti dengan ritual membuang panas. Kepada keluaga Yasor dimintakan untuk membawa seekor ayam ketika bertemu dengan orang tua Ontje dan kakak-kakaknya. Ritual membuang panas yang dimaksudkan pun disetujui pihak Yasor. Yasor sendiri nyaris meninggal dunia. Sekujur tubuhnya telah mati rasa dari kaki hingga lehernya. Ia telah dianggap jenazah hidup. Ia tidak dapat menggerakkan satupun anggota tubuhnya, kecuali mulutnya yang masih bisa berbicara, matanya melihat dan telinganya untuk mendengar.Walau begitu, Yasor harus berangkat ke perbatasan Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk mengikuti ritual membuang panas di sungai Noelmina’. Bagaimana mungkin hal itu terjadi padanya? Ia sudah sekarat. Peti jenazah seakan telah mendekat, lubang kubur pun seakan telah merapat padanya.

Kuasa dari doa kepada Tuhan mengantarnya. Ia diangkut dengan kendaraan tanpa daya sedikitpun. Terbaring di dalam bak mobil pikap, satu rombongan kecil terdiri dari Yasor, isterinya dan 2 orang tua, 4 orang dewasa yang cukup kuat dan 2 orang ibu serta seorang gadis kecil yang tangannya terkilir di bagian siku. Mereka membawa seekor ayam dan seekor babi. Ayam akan digunakan untuk ritual membuang panas, babi untuk ritual permohonan maaf.

Mereka tiba di perbatasan. Di seberang jembatan Noelmina’ mereka dijemput oleh orang tua dan kakak-kakak Ontje. Semua yang menumpang di pikap turun ke sungai Noelmina’ dengan membawa Yasor yang sekarat. Upacara membuang panas dilakukan. Ayam jantan disembelih. Darahnya dialirkan ke sungai sementara Yasor berendam di sungai itu. Ketika darah ayam mengalir di aliran sungai, seluruh pakaian di tubuh Yasorpun dilepaskan. Air sungai Noelmina’ membawa darah ayam dan pakaian Yasor. Doa dipanjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa oleh seorang petugas yang telah disiapkan sebelumnya oleh orang tua Ontje.

Yasor keluar dari dalam air dengan mengangkat tubuhnya sendiri, bertumpu pada kakinya sendiri dan mulai berjalan. Orang tua Ontje meminta mereka membakar ayam yang telah tewas disembelih. Daging yang dibakar itu dicincang dan mereka saling berbagi untuk dimakan sampai tuntas tak bersisa. Sesudahnya, mereka meninggalkan aliran sungai, kembali ke mobil pikap tanpa menoleh.

Akhirnya Yasor pun sembuh. Ia dan rombongan keluarga tiba di desa di bibir sungai Noelmina’ itu. Di sana telah menanti keluarga-keluarga yang sedang bersama-sama memperbaiki kuburan dan nisan dari gadis yang tewas tertimpa pohon gewang. Kuburan itu diselesaikan pengerjaannya dalam waktu sehari saja. Bunga-bunga ditaburkan. Ritual permohonan maaf dari keluarga Yasor kepada orang tua dan sanak keluarga Ontje dilakukan. Saling berterima, maaf-memaafkan terjadi. Yasor pun semakin pulih. Bubur di piring disimpannya, nasipun dilahapnya. Wajah kerut hilang, senyum dan tawa menderai. Kini, ia butuh pemulihan pada tubuh yang lelah agar kembali ke dalam kehidupan normalnya. Sementara di awang-awang, roh Ontje tersenyum lalu masuk ke pelataran rumah yang disediakan Tuhannya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak
Go to Top