Menulis adalah “Candu”

Rubrik Literasi Oleh

Abu Maryam Al Ghafiqi
(AGUPENA DKI)

Die Religion…ist das Opium des Volkes” merupakan kutipan terkenal dari tulisan Karl Marx yang artinya Agama adalah opium bagi masyarakat. Meskipun kutipan yang diambil dari karyanya “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right” sering disalahartikan, akan tetapi pada intinya kata-kata Karl Marx tersebut sudah mendarah daging di hati dan pikiran yang membentuk persepsi para pengikutnya terhadap agama. Kutipan tersebut sebenarnya telah ditulis Karl Marx sejak tahun 1843 namun baru populer di tahun 1930an ketika pengikut pemikirannya semakin banyak. Hingga saat ini kutipan tersebut pun masih menjadi quote yang sering dipakai oleh pengagum komunisme.

Namun penulis tidak ingin membahas tentang Karl Marx dengan paham komunisnya. Pembahasan di atas hanya intermezo. Penulis ingin membahasa ungkapan tersebut dalam bentuk dan persepsi yang berbeda. Sama halnya dengan agama menurut Karl Marx, maka penulis juga beranggapan bahwa menulis adalah candu bagi para pegiatnya. Seseorang yang sudah mencapai pada tingkatan pemahaman mendalam mengenai manfaat serta hakikat menulis maka bisa dipastikan tidak akan pernah puas dan berhenti menulis. Oleh sebab itu penulis menyebutnya dengan“Die Schreiben its das Opium”yaitu bahwa menulis adalah candu. Tentunya dalam arti yang positif dan konstruktif.

Sejak awal kemunculannya, agama Islam sangat memuliakan ilmu. Hal tersebut dibuktikan dengan ayat Al Qur’an yang pertama kali turun yaitu surat Al Alaq 1 – 4 yang di dalamnya terkandung prinsip-prinsip dasar keilmuwan. Prinsip dasar yang penulis maksud adalah budaya membaca (ayat 1, 2 dan 3) dan budaya menulis (ayat 4). Budaya membaca sebagai proses input pemahaman tentang Allah, alam semesta dan kehidupan. Sementara budaya menulis sebagai output dari pemahaman tersebutyang nantinya akan disebarkan kepada seluruh alam.

Islam diturunkan ditengah-tengah masyarakat yang “ummi” ketika itu. Ummi dalam pengertian tidak bisa membaca dan menulis. Padahal seperti kita ketahui bersama bahwa majunya sebuah peradaban dapat dilihat dari budaya ilmu yang berkembang di dalamnya. Ketika itu tingkat intelektual seseorang diukur dari kekuatan daya ingatnya dalam menghafal syair-syair arab yang nantinya akan dipentaskan di depan khalayak ramai. dan salah satu tujuan risalah kenabian yaitu untuk menghancurkan tembok-tembok kejahiliyahan tersebut melalui peradaban ilmu yang dapat terukur dan bersaing secara global. Siapa sangka jazirah arab yang tandus dan tidak pernah dilirik oleh negara adidaya ketika itu, dalam kurun waktu 23 tahun menjadi kota yang diperhitungkan.

Dalam rangka menghancurkan sekat-sekat jahiliyah tersebut maka Rasulullah SAW menggalakan budaya membaca dan menulis. Membaca dalam artian yang luas yaitu merenungi dan menghayati ayat-ayat ciptaan Allah baik qauliyah atau kauniyah. Sementara dalam hal menulis beberapa sahabat yang sadar akan kelemahannya dalam menghafal ayat-ayat quran yang Rasul sampaikan, maka mereka menulisnya di pelepah kurma, batu, kayu dan lain-lain. Tulisan-tulisan yang berserakan tersebutlah yang nantinya akan dikodifikasi di masa Abu Bakar Ra agar menjadi sususan quran yang utuh. Andai saja Rasulullah tidak mendukung budaya menulis para sahabat atau bahkan melarangnya, maka tidak terbayangkan seperti apa agama islam saat ini. Mungkin sudah tergilas hilang oleh sejarah.

Menulis itu candu. Hal ini dibuktikan oleh para ulama yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk menghasilkan karya-karya fenomenal berupa kitab-kitab tulisannya. Siapa yang tidak kenal Imam Abu Zakaria ibn Syarafuddin an-Nawawi Rahimahullah, meski beliau telah wafat beratus-ratus tahun yang lalu namun karyanya-Riyadhus Sholihin-hingga saat ini masih menjadi rujukan di seluruh dunia. Lelaki yang meninggal di usia 45 tahun (631-676 H) itu meninggalkan begitu banyak karya besar. Jika dibagi semua karya tersebut dengan masa hidupnya, maka dalam sehari beliau bisa menghasilkan 4 tulisan. Dalam sebuah pengakuannya, beliau berujar “pernah selama dua tahun aku tidak meletakkan lambungku di atas tanah (tidur nyenyak) dan hanya tidur di atas tumpukan buku.” Apa yang dialami Imam Nawawi tersebutlah disebut dengan “candu”. Ada extasi tersendiri ketika seseorang tenggelam dalam rangkaian-rangkaian huruf yang sedang ditulisnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Imam Ath Thabari, penulis tafsir Ath Thabari. Mari kita simak penuturan Khatib Al Baghdadi rahimahullah ketika menceritakan perihal kehidupan Imam At Thabari, “Aku pernah mendengar Ali ibn Ubaidillah ibn Abdul Ghaffar Al-Lughawi bercerita tentang Muhammad Ibnu Jarir At Thabari yang wafat tahun 310 H dalam usia 83 tahun. Diceritakan bahwa selama hampir 40 tahun Imam At Thabari menulis sebanyak 40 lembar tiap harinya. Artinya semasa hidup beliau telah menghasilkan kurang lebih 584.000 lembar tulisan. Dan salah satu karya fenomenal beliau hingga saat ini yaitu Kitab Tafsir At Thabari. Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah para ulama yang “kecanduan” menulis, diantaranya terangkum dalam kitab Rimah Az Zaman karya Abdul Fatah Abu Ghadah.

Menulis itu memang candu. Jika tidak, mana mungkin seorang JK Rowling mampu menulis kisah fiksi Harry Potter yang berjilid-jilid itu hingga selesai dan akhirnya difilm-kan. Jika tidak manalah mungkin seorang Dan Brown dapat menciptakan tokoh Robert Langdon lengkap dengan teori konprirasi yang dihadirkan melalui sequel-sequel tulisannya yang juga akhirnya difilm-kan. Menulis itu pasti candu, jika tidak mana mungkin ketika Baghdad ditakhlukan oleh Jengis Khan aliran sungai eufrat menjadi hitam akibat buku-buku yang dimusnahkan oleh tentaranya.

Namun perlu diingat, menulis yang dimaksud yaitu menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan akademis. Bukan curahan hati di status-status media sosial, karna budaya meratap itu berasal dari budaya yahudi bukan Islam. Begitu pula bukan tulisan-tulisan ringkas beraroma “nyinyir” dan dapat mengakibatkan syakwa sangka negatif bagi pembacanya, karna pada dasarnya budaya “nyinyir” adalah warisan genetik Abdullah ibn Ubay ibn Salul salah satu tokoh munafik dalam sejarah islam.Dan yang terakhir bukan pula tulisan yang belum jelas sumbernya atau Hoax. Jika Anda mengalami “kecanduan” dengan ketiga jenis tulisan tersebut, maka segeralah sadar dan bertobat. Karna peradaban islam dibangun dengan ilmu, bukan dengan emosi tak berdasar, nyinyiran dan hoax.

Sementara itu berbahagialah bagi siapa saja yang sedang “kecanduan” menulis untuk menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Karna itulah yang akan membuat namamu abadi dicatat oleh sejarah sebagaimana ulama-ulama pendahulu kita. Mengutip perkataan Ustad Abdul Somad Lc, “Menulislah agar orang-orang setelahmu tahu kau pernah hidup di zaman ini.” Wallau’Alam. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top