100 Tahun Pertama Perkembangan Keilmuwan dan Pendidikan Islam

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Abu Maryam Al Ghafiqi
(AGUPENA DKI)

Dalam bukunya, “Maadza Khasiral ‘Aalamu Biinhithatil Muslimiina”Syaikh Ali Hasan Annadhwy menerangkan bahwa Abad keenam dan ketujuh dapat dikatakan merupakan abad yang paling merosot dalam kehidupan (sejarah) manusia. Sejak beberapa abad manusia mengalami kemerosotan total. Tidak ada suatu kekuatan pun di permukaan bumi ini yang dapat menghindar dari kemerosotan itu. Di dua Imperium besar ketika itu, Romawi dan Persia kehidupan masyarakatnya sangat memperihatinkan, keadilan menjadi barang yang sangat langka dimana rezim ketika itu memperkaya diri pribadi di samping mensejahterakan rakyatnya. Sementara di belahan timur bumi, India, Cina dan Jepang masyarakatnya hidup bergelimang kebodohan yang dihasilkan dari kepercayaan meraka terhadap paganisme.

Hal yang sama juga terjadi di belahan eropa, masyarakatnya ketika itu pun berada dalam kegelapan. Cukuplah apa yang dijelaskan oleh salah seorang sejarawan eropa, Robert Billfaut untuk menggambarkan seperti apa eropa ketika itu, “Sejak dari abad kelima sampai kesepuluh Eropa diliputi oleh kegelapan. Kegelapan tersebut kian hari makin bertambah gulita. Kebiadaban di masa itu jauh lebih besar daripada kebiadaban bangsa kuno, Karena waktu itu Eropa tidak lebih hanya serupa dengan bangkai yang telah membusuk. Seluruh kebudayaan waktu itu telah lenyap. Negeri-negeri besar sepeti Italia, Perancis yang dulunya merupakan pusat peradaban kini berubah jadi gelanggang pertarungan dan kekacauan” (The Making of Humanity, hal 164).

Tulisan ini merupakan rangkuman dari daurah pendidikan yang diikuti oleh penulis dengan sedikit penambahan dari penulis. Daurah yang berjudul “100 tahun pertama perkembangan keilmuan dan pendidikan dalam peradaban Islam” diselenggarakan oleh Siroh Community Indonesia (SCI)di gedung Insist, Kalibata (Ahad/28/1). Daurah yang menitik beratkan pada pembahasan mengenai sejarah perkembangan pendidikan Islam ini diisi oleh narasumber yang juga pendiri siroh community Indonesia yaitu Ustadz Asep Sobari Lc.

Pembatasan terhadap jangka waktu 100 tahun pertama bukanlah tanpa alasan. Karena satu abad pertama dalam sejarah islam yang nantinya akan menentukan corak peradaban keilmuwan islam bahkan dunia beberapa abad kemudian. Jika diibaratkan bangunan, maka 100 tahun pertamalah yang menjadi pondasinya. Di masa itulah epistemologi pendidikan islam dibangun,  diajarkan dan disebarkan hingga membentuk apa yang disebut dengan Khairu Ummah hingga kurun waktu yang cukup lama. Mulai dari Islam hanya diikuti oleh sebagian kecil masyarakat miskin Mekkah, hingga akhirnya di masa Bani Ummayah Islam sudah tersebar hampir di 2/3 dunia, di barat sampai semenanjung Iberia dan di timur hingga Turkmenistan. Tentunya wilayah pemerintahan islam yang luas tersebut tidak serta merta langgeng hanya dengan ancaman senjata, namun juga karena tumbuh suburnya budaya ilmu sehingga negeri-negeri yang dibebaskan dengan sukarela tetap setia dalam pemerintahan islam.

Sejak awal kelahirannya, Islam memang memiliki misi untuk mengisi kekosongan ilmu yang terjadi di dunia saat itu. Sebagaimana yang telah penulis jelaskan di awal bahwa dunia ketika islam diturunkan adalah dunia yang diselimuti kejahiliyahan. Islam hadir ditengah-tengah bangsa yang bahkan membaca dan menulis saja tidak bisa (Ummi). Hingga turunlah ayat yang memerintahkan Nabi untuk membaca dan menulis yang merupakan akar tradisi keilmuwan islam. Kemudian juga Islam hadir dengan membawa falsafah hidup yang baru, yaitu bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah (pengatur) bumi yang dengannya manusia bisa beribadah, serta mengoptimalkan fungsi akal serta hatinya.

Ustad Asep Sobari Lc yang juga peneliti INSIST memaparkan, setidaknya ada 3 tujuan dari  kesemuanya saling terkait secara bertahap. Pertama; tujuan pendidikan islam yaitu melahirkan individu yang berkepribadian shalih dan mushlih. Kedua: membentuk masyarakat yang baik hubungannya dengan Allah (Hablumminallah) dan Ukhuwah Imaniyah. Ketiga: melahirkan ummat yang menjunjung risalah peradaban kepada seluruh alam semesta. Oleh sebab 3 tujuan inilah islam bisa memimpin dan mempengaruhi peradaban dunia kurang lebih 7 abad lamanya.

Sementara itu dalam bidang kurikulum, pendidikan islam berangkat pada epistemologi yang jelas dan terukur. Kesemuanya tertuang dalam Al Qur’an surat Al Jumuah ayat 2 yang artinya “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. Pada ayat ini terdapat 4 prinsip mendasar dalam kurikulum pendidikan islam, yaitu dalam bidang keyakinan ada tilawah sebagai pondasinya, dalam bidang kejiwaan ada tazkiyah, dalam  bidang pemikiran dan pengetahuan ada ta’limul kitab dan terakhir dalam bidang ilmu terapan dan praktis ada “ ‘ulumul hikmah”.

          Melalui kurikulum yang komprehensif itulah akhirnya perkembangan pendidikan Islam semakin pesat. Bahkan semenjak Rasulullah masih hidup, beliau sering mendelegasikan sahabat-sahabat utamanya untuk mengajarkan kitab dan hikmah ke pelosok-pelosok kabilah yang membutuhkan pengetahuan tentang agama Islam. Hingga tak heran hanya dalam jangka waktu satu abad hegemoni islam sebagai entitas peradaban mulai diakui. Selain faktor tujuan serta kurikulum, dua faktor utama yang menentukan perkembangan pendidikan Islam antara lain; Faktor dukungan pemerintah dan faktor hijrahnya para ulama islam secara massif untuk menyebarkan ajaran islam.

Telah kita ketahui bersama bahwa periodisasi dakwah Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi dua, 13 tahun Makkah dan 10 tahun di Madinah. Selama 23 tahun itulah Kitab Suci Alquran diturunkan secara mutawatir. Dari 114 surat yang ada di Alqur’an, 86 diantaranya merupakan surat Makkiyah (surat yang diturunkan di Mekkah). Umumnya berisi pokok-pokok aqidah, keyakinan terhadap Allah dan hari kiamat. Sementara 18 surat berikutnya diturunkan di Madinah (madaniyah) yang berisi tentang prinsip-prinsip syariat dan perundang-undangan dalam islam. Kenyataan tersebut membuktikan bahwasanya epistemologi pendidikan islam dibangun dengan pondasi-pondasi keyakinan yang menghujam kuat karna telah tertempa oleh keadaan selama periode Makkah.

Pada akhir masa hidup Rasulullah Saw Islam sudah berhasil merangsek ke dataran mesir dan beberapa kali terlibat konfrontasi dengan Romawi dan Persia. Barulah di masa pemerintahan Umar ibn Khattab Ra Islam berhasil meruntuhkan hegemoni Persia sebagai negara adidaya. Cahaya keilmuwan pun mulai merambah masuk kesana. Dalam masa kurang dari 4 tahun Khalifah Umar telah mampu menjadikan pemerintahan Islam memiliki supremasi budaya dan politik yang kuat. Sampailah di masa pemerintahan Bani Umayyah, daerah kekuasaan Islam yang luas menuntut pemerintah untuk serius menata masyarakat melalui pendidikan yang terarah. Sejak masa Umar Ibn Aziz pengkodifikasian hadist dimulai untuk mensterilisasi hadist yang benar-benar sunnah Rasul dari hadist palsu yang banyak dibuat oleh kalangan syiah dan aliran sempalan lainnya.

Hal menarik lainnya yang tercatat dalam sejarah yaitu bahwa Islam membangun peradaban keilmuwannya mulai dari Masjid. Masjid menjadi sumber-sumber oase yang menghadirkan mata air ilmu bagi siapa saja yang mau dan membutuhkan. Bahkan Rasulullah Saw sendiri di masa awal hijrah telah membangun dua masjid yaitu Masjid Quba dan Masjid Nabawi. Dari masjid itulah cikal bakal lembaga pendidikan Islam yang ada hingga saat ini. Selain tentunya halaqoh-halaqoh terbatas yang rasul adakan di beberapa rumah sahabat, seperti di Daar Arqam ibn abi arqam (Mekkah) dan Daar Qurra (Madinah). Barulah pada masa Umar Ibn Khattab secara permanen ditetapkan salah satu serambi masjid untuk menjadi tempat belajar yang dinamakan dengan Kuttab. Di Kuttab tersebutlah banyak tabi’in menimba ilmu dari para sahabat senior,bahkan ummul salamah ra pun memiliki peran dalam menghidupkan kuttab tersebut.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwasanya Islam sebagai agama yang melengkapi agama-agama sebelumnya memberikan porsi yang besar terhadap urusan pendidikan. Dimulai sejak masa hidup Rasulullah para sahabat hidup di bawah naungan alquran yang merupakan sumber ilmu. Kemudian dari Alqur,an dan sunnah rasul tersebut para ulama-ulama islam mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak pernah habis hingga kahirnya Islam hadir bukan lagi sebagai penonton tapi juga menjadi pelaku perubahan di pentas peradaban dunia. Wallahu’alam. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top