Menulis dengan Ketekunan, Daya Tahan, dan Daya Juang

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Menulis untuk publikasi memerlukan paling tidak, tiga faktor yaitu ketekunan, daya tahan, dan daya juang. Pertama, ketekunan. Sebuah artikel tidak hanya sekali saja. Ada proses review, perbaikan, dan penyempurnaan. Semuanya memerlukan waktu dan proses yang tidak singkat. Ada artikel yang kami terbitkan di jurnal dengan Q-3, memerlukan waktu sekitar setahun. Termasuk publikasi proceeding dengan index bereputasi, juga memerlukan waktu. Begitu juga dengan artikel di Procedia, memerlukan waktu sekitar dua tahun.

Untuk itu, publikasi jika dipandang sebagai kewajiban, saat sudah melakukan publikasi, maka akan berhenti. Sebab kewajiban sudah dilaksanakan. Dengan ketekunan, maka tidak akan wujud cepat puas diri. Selalu berusaha untuk melakukan perbaikan demi perbaikan. Tidak ada kata berhenti. Sekali lagi, publikasi hanyalah bonus semata. Sebagai rangkaian untuk turut menyumbang bagi kemajuan pengetahuan. Bukan tujuan akhir dari rangkaian aktivitas akademik. Tetapi bisa dianggap justru sebagai awal dari kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

Selanjutnya, daya tahan. Ada deadline yang harus ditaati. Sehingga kadang harus menahan kantuk, menunda makan, dan hanya terkungkung di ruangan. Apalagi, jika fasilitas tidak memadai, seperti koneksi listrik padam dan internet yang tidak terkoneksi. Kendala-kendala ini harus disikapi dengan ketahanan untuk tetap mewujudkan bonus publikasi. Kemampuan untuk bertahan terhadap seluruh dinamika yang melingkupi akan melahirkan sebuah publikasi.

Jika bisa diibaratkan sebagai anak, maka sebuah kelahiran anak tidaklah tunggal. Ada proses, pemeriksaan dokter, dan persiapan kelahiran. Sama dengan upaya melahirkan sebuah karya. Ada proses, penyuntingan, dan kesiapan untuk menyingkirkan semua tantangan sehingga artikel yang diterbitkan akan mendekati kesempurnaan. Tugas selanjutnya, merawat karya yang ada dengan tetap mempertahankan produktifitas untuk karya-karya berikutnya.

Terakhir, daya juang. Kondisi pertama dan kedua, disandingi dengan kemampuan berjuang. Mulai dengan mencari jurnal atau wadah penerbitan, menelusuri literatur, memeriksa aspek bahasa, dan pengiriman. Pada proses penelusuran literatur, tidaklah mudah. Langganan jurnal yang bereputasi tidaklah dimiliki semua perpustakaan perguruan tinggi. Hanya perguruan tinggi tertentu yang mampu membayar ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk akses ke database jurnal-jurnal bereputasi. Perguruan tinggi dengan status PTN-BH dan BLU saja yang mampu berlangganan. Kalau di Kementerian Agama RI, diantaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berlangganan. Sementara tak satupun IAIN dan STAIN yang memiliki kemampuan dana untuk berlangganan. Padahal, kewajiban dosen IAIN dan STAIN, tidaklah berbeda dengan dosen UIN. Daya juang dosen-dosen yang tidak memiliki akses kepada jurnal bereputasi, merupakan bagian dari ikhtiar dalam menyelesaikan sebuah proses penerbitan sebuah publikasi.

Beban seorang dosen dan peneliti di Indonesia, memiliki tantangan tersendiri dan sangat unik. Sehingga dengan keunikan tersebut, perlu ikhtiar ekstra. Tuntutan untuk mencapai publikasi bereputasi dalam beberapa kondisi, sangat mustahil. Jikalau seorang lektor kepala dituntut untuk menerbitkan tiga artikel di jurnal nasional terakreditasi atau satu artikel di jurnal bereputasi dalam tiga tahun terakhir, sebuah tuntutan yang perlu dikondisikan masing-masing individu. Karena kementerian hanya menyiapkan aturan tetapi kondisi idealnya tidak dimiliki masing-masing institusi.

Keterbatasan ini semua, sebuah tantangan untuk diatasi masing-masing dosen. Dengan demikian, publikasi sebagai luaran penelitian haruslah menjadi awal dan akhir sebuah aktivitas. Kemampuan untuk mewujudkannya menjadi tantangan dan keterampilan tersendiri yang harus dikuasai seorang dosen. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top