Menulis dengan Berkumpul Bersama Orang Saleh

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Pesan Rosul Muhammad SAW dalam hadis, memberikan wasiat bahwa untuk menjaga konsistensi, maka diajurkan untuk selalu berkumpul dengan orang saleh. Pesan Rosul ini diadaptasi dengan sangat sangat apik oleh Opik dalam sebuah lagu.

Dalam kondisi sekarang, tetap saja hadis tersebut tetap relevan. Maka, ada konteks dalam kehidupan masing-masing individu. Bagi seorang akademisi, berada dalam lingkungan berupa laboratorium atau tim riset sesuai dengan minatnya merupakan keperluan utama. Ini akan membantu aktivitasnya dalam keseharian.

Ketika senantiasa bertemu dan berdiskusi dengan kolega dan individu yang memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan, akan memberikan stimulus bagi riset yang progresif. Diskusi seorang ilmuwan, atau paling tidak calon ilmuwan berada di dalam lingkup seperti isu-isu riset terkini, publikasi, dan perkembangan mutakhir keilmuan. Maka, ketika itu adalah majelis para warga akademik, sebuah hal tabu kalau mendiskusikan keuntungan, tidak salah tetapi tidak dalam konteks yang tepat, sebab dalam lingkungan para saudagar-lah topik itu yang mengemuka.

Sementara bagi para intelektual, aktivitas untuk memajukan ilmu pengetahuan adalah wacana yang dikembangkan dalam keseharian. Bagaimana tidak sekadar memotret realitas tetapi turut berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu masing-masing.

Jika publikasi menjadi bonus dari proses riset, sebuah tim riset mesti memulai penelitian dengan sangat baik. Kolaborasi antara individu yang berada dalam tim riset senantiasa menjadi kunci bagi pengembangan. Tidak saja dalam ilmu sains, bahkan ilmu sosialpun dapat membentuk sebuah laboratorium. Seperti laboratorium ilmu politik di Universitas Indonesia, atau laboratorium filologi di Universitas Tokyo. Demikian pula sebuah laboratorium informatika sosial di Universitas Kyoto, Jepang. Laboratorium tidak saja berarti peralatan, tetapi untuk terminologi ilmu sosial, dapat dimaknai sebagai kumpulan para peneliti. Ilmu sosial mengenal bahwa peneliti adalah instrumen tersendiri dalam proses penelitian.

Berkumpul dengan orang saleh, saya artikan dalam bentuk yang sangat teknis. Interaksi dibangun dengan kesamaan minat, kemauan untuk bekerja sama, dan juga irama serta gerak yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Hadir dalam sebuah seminar, workshop, konferensi, dan semacamnya, tentunya merupakan majelis ilmu, tidak semua orang mau menghadirinya. Apalagi kalau berbayar. Sementara dalam hadis yang lain, Rosulullah mengemukakan bahwa majelis terbaik adalah majelis ilmu pengetahuan. Ketika seseorang melihat majelis ilmu dan berhenti untuk turut dalam majelis tersebut, maka sesungguhnya ia sudah menikmati sebagian dari anugerah taman syurga.

Sehingga, iklim yang membantu mewujudkan capaian-capaian adalah bentukan. Bukan bentukan yang turun dari langit. Hanya matahari dan hujan yang turun begitu saja, bahkan kadang hujanpun harus direkonstruksi dalam bentuk “hujan buatan”. Mulai dari memilih tim yang bisa saling membantu, sampai pada aktivitas yang menjadi bagian dari usaha-usaha untuk kepentingan ilmu. Dalam kaitan dengan dunia akademik, perguruan tinggi mestinya menjadi bagian untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui kesinambungan ilmu pengetahuan. Saat itulah, sumbangsih bagi kemanusiaan menemukan artinyang sesungguhnya. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top