Tujuh Teknis Menulis Manuskrip Artikel (2)

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & Agupena Papua Barat)

Setelah yang pertama terkait dengan nama penulis, maka teknis kedua adalah afiliasi. Pencantuman ini terkait dimana sang penulis bekerja atau belajar. Tesis, atau karya ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan wajib mencantumkan dimana karya tersebut diselesaikan. Walaupun penulis juga terikat pada pekerjaan lain, maka bisa saja dituliskan dua afiliasi dalam satu karya. Sementara, walaupun sudah meninggalkan sebuah tempat kerja tetapi jikalau karya tersebut dibuat ketika masih berstatus sebagai karyawan di tempat tersebut, maka tetap saja afiliasi yang lama dicantumkan dalam publikasi yang diajukan. Padahal sudah tidak terikat sama sekali dengan tempat kerja yang lama.

Sementara jikalau sebuah penelitian dilaksanakan di sebuah perguruan tinggi atau lembaga riset kemudian berpindah ke tempat lain, maka lembaga awal wajib dicantumkan menyertai lembaga yang terakhir. Walaupun lembaga yang lama dicantumkan sebagai afiliasi yang kedua. Begitu juga dengan status sebagai visiting. Tetapi saja dicantumkan sebagai afiliasi. Dalam pelaksanaan program visiting tersebut, ada kontribusi lembaga yang menjadi tempat bernaung walau sementara. Dengan akses kepada perpustakaan dan menyediakan sarana lainnya, merupakan juga sumbangan bagi penyelesaian riset.

Sebagai sebuah nama, maka menuliskan nama perguruan tinggi juga tidak perlu diterjemahkan sama sekali. Kalaupun itu belum dikenal secara global tidak menjadi masalah. Justru dengan menuliskan nama sesuai dengan penggunaan nama resmi itu akan menjadi sebuah cara untuk dikenal secara luas.  Sebagaimana nama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), walaupun kadang diterjemahkan menjadi National University of Malaysia, akibatya di fase awal pangkalan data seperti Scopus justru membacanya sebagai dua perguruan tinggi yang berbeda. Akhirnya, perlu waktu setahun untuk menyatukan afiliasi dosen-dosen UKM yang menulisnya secara berbeda. Untuk menghindari waktu penyelesaian teknis tersebut, maka sejak awal dosen dan civitas akademik perlu menggunakan nama perguruan tinggi secara seragam untuk menghindari masalah teknis dalam pangkalan data.

Sebagaimana Institut Teknologi Bandung secara rutin melakukan sosialisasi bahwa nama resminya adalah Institut Teknologi Bandung. Untuk penerjemahan sama sekali tidak disarankan. Dengan menuliskan nama institusi dengan tepat, akan menjadi jejak rekam bagi lembaga tersebut dengan mudah diidentifikasi. Sekaligus sebagai data untuk merekam kontribusi perguruan tinggi dalam publikasi ilmiah.

Jikalaupun digunakan terjemahan, maka terjemahan resmi yang standar perlu dijadikan sebagai rujukan. Pada akhirnya, pangkalan data akan menyatukan semua karya yang terpublikasi dengan terjemahan yang konsisten. Sementara kalau menggunakan terjemahan yang berbeda-beda, maka sekali lagi akan menjadi hambatan dalam melakukan pengumpulan data yang ada.

Nama perguruan tinggi yang digunakan diselaraskan sebagaimana nama di laman web resmi kampus. Ini untuk memudahkan sinkronisasi dengan data yang ada dalam Webometrics atau rujukan afiliasi lainnya jika dihubungkan dengan data laman web. Termasuk pencantuman lokasi kota atau wilayah. Jikalau itu termasuk dalam nama kampus, maka secara konsisten digunakan juga sebagai nama resmi seperti Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Kata Makassar perlu dicek kembali, apakah itu termasuk dalam nama perguruan tinggi atau tidak. Jikalau itu termasuk nama kampus, maka secara khusus perlu dicantumkan dalam rangkaian kata nama perguruan tinggi tersebut. Dengan tidak memasukkan satu kata dalam sebuah susunan nama kampus, akan menjadi kendala teknis dalam mengumpulkan semua karya-karya dosen dalam penelusuran, karena akan ditempatkan secara berbeda.

Secara umum, terutama dalam bidang eksakta menuliskan dua afiliasi atau beberapa afiliasi dalam artikel jamak ditemukan. Jikalau memang sebuah penulis memiliki kaitan dengan institusi yang berbeda-beda saat menyelesaikan artikel, bisa saja menuliskan semua afiliasi tesebut. Ini dilakukan, agar dalam pencatatan luaran penelitian dapat ditelusuri. Dengan catatan bahwa lembaga tersebut memang berkontribusi secara nyata dalam proses penelitian sampai publikasi. Sebaliknya, jikalau hanya memberikan dukungan secara parsial yang tidak terkait langsung dengan penelitian sampai publikasi, maka cukup dituliskan dalam bagian pernyataan terima kasih, termasuk pemberi hibah penelitian bukan merupakan afiliasi sang peneliti atau penulis.

Terakhir, perguruan tinggi atau lembaga menunjukkan kredibilitas. Maka, penulis perlu menuliskan secara khusus institusi yang menaunginya. Namun dalam sebuah kesempatan, seorang peneliti hanya mencantumkan alamat rumahnya di Indonesia. Sepanjang pengelola jurnal menerima pencantuman afiliasi tersebut, tidak menjadi masalah. Penulisan afiliasi bertujuan untuk memberikan rekognisi bagi lembaga yang telah menjadi penaung bagi terlaksananya aktivitas yang memungkinkan sehingga aktivitas dapat berlangsung. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top