Tewasnya “Guru” dan Matinya “Budi” di Negeri ini

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Abu Maryam Al Ghafiqi
(Agupena DKI)

Suatu saat Khalifah Harun Ar Rasyid pernah meminta Imam Malik untuk mendatanginya, “Datanglah ke tempat kami,” katanya. “Agar anak-anak kami dapat mendengarkan kitab al-Muwattha,” tambahnya. Dengan tegas Imam Malik mengatakan, “Semoga Allah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian (baytun nubuwwah). Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya maka ia jadi hina. Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi.” Maka ketika khalifah menyuruh kedua putranya datang ke masjid untuk belajar dengan rakyat, Imam Malik mengatakan, “Tak Apa, dengan syarat mereka (kedua anak khalifah) tidak boleh melangkahi bahu jamaah dan bersedia duduk diposisi manapun yang lapang bagi mereka.” Tegasnya.

Kisah indah di atas terekam dalam buku-buku sejarah peradaban islam. Peradaban di mana seseorang sangat dihargai karna ilmunya. Bahkan seorang anak khalifah sekalipun tidak mendapatkan previlege khusus dalam mendapatkan ilmu. “Ilmu itu mendatangi, bukan didatangi” adalah kalimat yang terpatri pada generasi-generasi pembelajar di zaman keemasan islam ketika itu. Hingga seorang Imam Bukhari rela berjalan kaki bermil-mil jauhnya hanya untuk mendapatkan satu hadist.  Itulah zamandimana seorang murid sangat menghormati gurunya sehingga untuk menatap wajahnya saja sungkan.

Tradisi kelimuan yang melangit itulah yang diharapkan ada di negeri ini. Namun jauh panggang dari api, yang terjadi pada generasi saat ini justru sebaliknya. Banyak kasus dan cerita yang kita dengar hampir tiap harinya yang bersangkutan dengan kekerasan terhadap guru/ustadz. Yang paling anyar adalah kisah tentang terbunuhnya seorang guru kesenian SMA 1 Torjun Sampang, Ahmad Budi Cahyono ditangan siswanya sendiri yang berinisial MH. Pak Budi-begitu beliau biasa dipanggil-kamis siang itu tengah mengajar di kelas XII tempat dimana MH berada. MH yang terkenal sebagai anak yang usil berkali-kali membuat kelas menjadi gaduh ketika itu, berkali-kali juga Pak Budi coba mengingatkan namun MH tidak menghiraukan dan malah merusak hasil karya teman-temannya.

Sebagai guru yang juga manusia biasa Pak Budi pun kehabisan kesabaran, guru honorer yang berperawakan kurus itu mendatangi MH yang sedang asik tertidur di kursinya lalu mencoret wajahnyadengan cat air. Tak terima karena merasa dipermalukan oleh gurunya, MH naik pitam lalu bertubi-tubi menyerang Pak Budi dengan memukul bagian pelipisnya hingga akhirnya berhasil dilerai oleh teman-temannya. Tak puas menganiaya gurunya di kelas, dengan penuh dendam MH mencegat Pak Budi di luar sekolah. Pak Budi yang saat itu baru saja keluar sekolah dan ingin segera bertemu dengan istri tercintanya yang sedang hamil 4 bulan terkejut melihat MH yang tiba-tiba langsung menyerangnya di Jl. Raya Jrengik. Sesampainya di rumah Pak Budi jatuh pingsan dan langsung dilairiak ke RS. Dari hasil diagnosa dokter ternyata Pak Budi mengalami Mati Batang Otak akibat penganiyaan yang dialami, seluruh organ dalamnya sudah tidak berfungsi. Guru seni yang dulunya juga aktivis HMI itupun akhirnya meninggal dunia.

Apa yang dialami Pak Budi bukanlah yang pertama terjadi di negeri ini. Sebelumnya entah sudah berapa banyak guru yang mengalami nasib yang hampir sama meskipun tidak sampai meninggal. Menjadi guru di zaman ini bukanlah hal yang mudah, sedikit saja melakukan kesalahan dengan “menghukum” siswa maka sang guru bisa dipanggil kepala sekolah, berurusan dengan polisi atau bernasib seperti Pak Budi. Di zaman ini rasa hormat terhadap guru merupakan barang yang langka. Guru-oleh siswa saat ini- diperlakukan tak ubahnya pekerja yang digaji oleh kedua orangtuanya untuk mentransfer ilmu sehingga bisa diperlakukan semaunya.

Fenomena yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini menurut SM Naquib al-Attas disebabkan oleh apa yang disebut dengan Lost of Adab atau hilangnya adab. Ketiadaan adab berkorelasi secara langsung dengan ketidakhormatan seorang siswa terhadap gurunya. Ta’dib secara etimologi merupakan bentuk masdar dari addaba yang berarti mendidik, melatih, berdisiplin, memperbaiki, beradab, sopan, berbudi baik, mengikuti jejak akhlaknya. Istilah adab juga merupakan sesuatu yang identik dengan pendidikan akhlak, bahkan seorag ulama Ibnu Qayyim mengatakan bahwa adab adalah inti dari akhlak, karna di dalamnya mencakup semua kebaikan.

Padahal dalam kaitannya dengan adab seorang siswa terhadap guru, seorang ulama abad ke-7 yaitu Ibn Jamaah telah membahasnya secara konprehensif dalam kitabnya-Tadzkirah al-Sami’ wal al-mutakallim Fii Adab al-‘ilm wa al-Muta’allim- dalam bab Adab al-Muta’allim Ma’a Syaikhihi (Adab seorang pelajar terhadap gurunya) yaitu antara lain;

  1. Memilih guru yang berkualitas dari segi ilmu dan akhlaknya
  2. Menaati perintah dan nasihat guru
  3. Mengagungkan dan menghormati guru
  4. Menjaga hak-haknya dan mengingat jasa-jasanya
  5. Sabar terhadap perlakuan kasar atau perlakuan buruk dari gurunya
  6. Menunjukkan rasa terima kasih yang tak terhingga
  7. Meminta izin terlebih dahulu jika ingin meninggalkan pelajaran
  8. Duduk dengan sopan di hadapan guru
  9. Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lembut
  10. Selalu antusias mendengar penjelasan guru meskipun sudah pernah di dengar sebelumnya
  11. Tidak terburu-buru menjawab pertanyaan jika belum diperbolehkan oleh guru
  12. Membiasakan menggunakan tangan kanan setiap kali membantu guru

Beberapa point di atas adalah adab atau rules yang dipakai oleh generasi-generasi pembelajar beberapa abad yang lalu dalam interaksinya terhadap guru. Sehingga tak heran generasi tersebut bisa menjadi contoh bagi peradaban-peradaban lain ketika itu.

Semoga pemerintah, dengan adanya tragedi Pak Budi beberapa waktu lalu semakin sadar bahwa bukan hanya kemunduran ekonomi dan politik saja melanda kita, namun juga kemerosotan akhlak yang dialami oleh generasi-generasi muda. Dengan demikian perlu sebuah upaya yang maksimal dan terorganisir dari pemerintah bekerjasama dengan semua stake holder, lebih dari sekedar Revolusi Mental yang hanya jadi slogan kosong tak bermakna. Sebuah gerakan untuk mewujudkan spirit dari sila ke-2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Ber-Adab. Sehingga dengannya kita bisa menjadi bangsa yang mampu mewarnai peradaban dunia dengan nilai-nilai kebaikan. Dan agar kita tak perlu lagi khawatir akantewasnya “guru” dan matinya “budi” di negeri ini. Wallahu’alam. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Ajari Mereka Adab!

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan) Dunia pendidikan kembali berduka. Siswa SMAN
Go to Top