Tujuh Teknis Menulis Manuskrip Artikel (3)

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & Agupena Papua Barat)

Dengan akses internet yang semakin meluas, maka pengiriman naskah artikel tidak lagi dengan menggunakan jasa pos. pengiriman artikel lebih mengandalkan sarana surat eletronik berbanding sebelumnya dengan mengirim melalui CD bahkan disket di jaman dulu. Dengan demikian identitas penulis setelah afiliasi, wajib dicantumkan surat eletronik (email). Penggunaan email tidak saja untuk saat mengirim pertama kali melainkan juga untuk komunikasi seterusnya. Ketika manuskrip tersebut sudah dibaca oleh mitra bestari, maka untuk informasi status manuskrip akan disampaikan juga melalui surat eletronik.

Email yang digunakan idealnya adalah email dengan afiliasi institusi. Hanya saja, bagi penulis dengan institusi yang belum tersedia dapat menggunakan gmail. Penggunaan gmail sekaligus sebagai akun untuk membuat Google Scholar. Untuk sementara ini, hanya ada Google Scholar dan Baidu Scholar. Sementara untuk akun yang lain tetap harus berbasis pada email. Termasuk penggunaan akun Sinta tetap saja harus menggunakan email dan juga sinkronisasi dengan akun Google Scholar.

Email yang digunakan hendaknya terlihat format. Jika nama penulis adalah Fulan bin Fulan, maka setidaknya tertulis ffulan@gmail.com jika menggunakan gaya Amerika. Atau fulanfulan@gmail.com jika hendak menuliskan dua suku kata yang ada dalam nama. Email yang pendek dengan huruf tidak lebih dari tujuh kata akan memudahkan kolega dalam membacanya. Sebaliknya kalau hurufnya berderet terlalu panjang akan memerlukan waktu bagi pembaca untuk mengidentifikasi.

Termasuk perlu menghindari penggunaan email dengan identifikasi yang tidak serius seperti langitbiru@gmail.com atau kucingmanis@gmail.com. Untuk keperluan selain untuk akademik, maka email-email seperti itu dapat saja digunakan. Tetapi jikalau untuk komunikasi saintifik, maka perlu dihindari. Begitu juga dengan menggunakan huruf sebagaimana gaya anak muda seperti lonCenGkeRas@gmail.com. Dengan huruf yang bersilang antara besar dan kecil, justru mengesankan sebagai anak muda yang “gaul”. Padahal, untuk identitas yang digunakan dalam rangka penulisan manuskrip sekaligus merupakan identitas penulis.

Perlu juga diperhatikan untuk tidak menggabungkan email yang digunakan untuk keperluan media sosial dengan komunikasi ilmiah. Dengan menggabungkannya akan memberikan pekerjaan tambahan untuk menghapus email-email pemberitahuan saat pemutakhiran akun media sosial. Sehingga ini memerlukan waktu dalam mengklasifikasi email yang perlu segera ditindaklanjuti dan email yang bisa saja diabaikan. Maka, dengan memisahkan antara email untuk akses media sosial dengan email untuk keperluan akademik, akan memudahkan bagi penggunanya.

Tidak hanya berkaitan dengan proses penerbitan tetapi juga pasca terbit. Ketika ada dialog antara pembaca dengan penulis, maka dapat saja dilakukan melalui email. Tiga surat eletronik terakhir saya terima, Maroko, Taiwan, dan Pakistan. Email yang berasal dari Maroko mempertanyakan teknis metode penelitian yang saya gunakan direplikasi oleh mahasiswa tersebut dalam penulisan tesisnya. Sementara kolega yang berasal dari Pakistan mengundang untuk melakukan riset kolaborasi. Adapun email dari Taiwan menyampaikan topik penelitian yang relevan dalam konteks Taiwan sebagaimana artikel yang sudah kami publikasikan. Ini menunjukkan bahwa penggunaan email tidak hanya untuk kepentingan sesaat saja tetapi menjadi alat untuk komunikasi akademik baik sebelum, apalagi setelah penerbitan.

Penelitian Kozak dkk (2014) dengan melakukan survey pada 2000 artikel di WoS masing-masing menggunakan email publik dan email institusi. Keduanya tetap disitasi oleh kolega. Demikian pula tidak ada penolakan terhadap penggunaan email publik atau layanan email gratis. Penggunan email gratis menyatakan bahwa dengan menggunakan email tidak dengan afiliasi kelembagaan akan memberikan alamat yang dapat digunakan sepanjang masa. Sementara jikalau hanya menggunakan email dengan afiliasi kelembagaan tertentu, ada kalanya keperluan berpindah tempat kerja dan tidak lagi menggunakan email tersebut. Sementara pembaca publikasi dapat saja menghubungi penulisnya jika diperlukan. Ketika menghubungi dengan email yang ada, sementara penulisnya tidak menggunakan email itu akan berakibat tidak ada komunikasi antara penulis dengan pembaca.

Walaupun demikian, ada juga kalangan yang menganggap bahwa menggunakan email gratisan ketika mengirimkan artikel sebagai salah satu tanda ketidakprofesionalan. Dimana dengan email yang gratisan menjadi tanda bahwa penulis tersebut tidak berafiliasi kepada lembaga yang kredibel. Oleh karena itu, perguruan tinggi mulai menyediakan email dengan afiliasi institusi bagi setiap mahasiswanya yang dapat digunakan untuk komunikasi akademik.

Akhirnya, email yang digunakan dalam pengiriman sebuah manuskrip perlu dicek secara berkala. Setelah mengirim, prosesnya tidak berhenti sampai di situ. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk menuju penerbitan. Termasuk juga jikalau mendapatkan penolakan dari redaksi. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top