Cara Bijak Mendisiplinkan Siswa

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Abu Adjat Al Ghafiqi
(Praktisi Pendidikan dan Anggota Agupena DKI)

Keberhasilan sebuah proses pendidikan di sekolah tidak serta merta dapat diukur dari prosentase nilai yang diraih oleh sekolah tersebut. Baik nilai akademis siswa, nilai akreditasi sekolah ataupun nilai ujian nasional. Pendidikan yang tertuju pada nilai empirik merupakan basis dari pendidikan barat yang sekuler, dimana nilai-nilai agama dan moral menjadi hal yang dikesampingkan atau tabu untuk dimasukkan dalam wacana pendidikan mereka. Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi adat ketimuran-agama dan norma moralitas-mendudukan akhlak sebagai tujuan dari proses pendidikan sebagaimana tertuang dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (UU Sisdiknas).

Oleh sebab itu, semua faktor untuk membentuk siswa pribadi yang berakhlak dan beradab menjadi penting, diantaranya yaitu bagaimana cara menumbuhkan sikap disiplin pada siswa. Disiplin merupakanciri masyarakat yang beradab. Di dalamnya ada kemampuan untuk memenej waktu dan emosi. Pribadi yang disiplin sama dengan pribadi yang bertanggungjawab, baik terhadap waktu, peran dan kondisi yang dialami. Dalam konteks peserta didik, kedisiplinan dapat terindikasi dari kepatuhan siswa terhadap guru, tanggung jawabnya terhadap tugas guru serta kemampuannya dalam mengelola waktu. Namun tentunya, tidak semua siswa memiliki pemahaman yang sama mengenai kedisiplinan. Disinilah peran sekolah dan guru menjadi penting dalam upaya menanamkan karakter disiplin pada siswa-siswinya.

Berbagai teori tentang kedisiplinan telah dikemukakan oleh banyak pakar pendidikan. Dalam tulisannya Prof.George Bear PHD seorang pakar pendidikan dari Universitas of Delaware, Newark menjelaskan tentang tujuan utama dari pendisiplinan siswa. Dalam penjelasannya Prof George menyebutkan bahwa secara jangka pendek pendisiplinan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta memperbaiki perilaku yang salah pada siswa. Pendisiplinan juga bisa membangun disiplin diri pada jangka panjang. Kedua tujuan tersebut sama-sama penting dan sekolah mempunyai peranan yang besar untuk mewujudkannya. George juga berpendapat bahwa pendekatan zero-tolerance dalam menciptakan kedisiplinan siswa kini mulai ditinggalkan karena ketidakefektifannya.

George menambahkan, “Tentu saja, kebijakan yang adil dan masuk akal yang mengatur masalah perilaku serius dan kronis, serta penggunaan hadiah yang strategis, harus menjadi bagian dari program kedisiplinan sekolah. Namun, sekolah yang efektif menjadikan ini hanya satu bagian dari rencana yang jauh lebih komprehensif. Rencana komprehensif di sekolah mencakup serangkaian strategi dan teknik berbasis bukti untuk mencapai empat tujuan penting: (a) mengembangkan disiplin diri, (b) mencegah perilaku salah, (c) mengoreksi perilaku yang tidak benar, dan (d) memperbaiki dan menanggapi masalah perilaku serius dan kronis. Strategi untuk masing-masing komponen disiplin menyeluruh di sekolah ini diikuti.”(Prof George Bear “Discipline: Effective School Practices”)

Namun problematika dalam pendidikan yang terjadi saat ini adalah adanya persepsi yang salah tentang apa itu disiplin. Sebagian besar pengajar dan sekolah masih mengidentikkan pendisiplinan dengan hukuman, padahal keduanya jelas berbeda. Hukuman adalah bentuk negatif dari disiplin. Dalam buku “Positive Discipline and Classroom Management” dijelaskan bahwa, “Orang sering melihat ‘disiplin’ sebagai hal yang sama dengan ‘hukuman’. Padahal tidak. Disiplin sebenarnya mengacu pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau kode perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan tingkah laku anak, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan tingkah lakunya. Hal ini dimaksudkan untuk mengajari anak-anak mengendalikan diri dan percaya diri dengan memusatkan perhatian pada apa yang bisa mereka pelajari. Tujuan akhir dari disiplin adalah agar anak-anak memahami perilaku mereka sendiri, berinisiatif, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghormati diri mereka sendiri dan orang lain.”

Masih dari buku yang sama, ciri dari pendisiplinan antara lain; fokus dalam mengoreksi dan mendidik, membangun tanggungjawab dan disiplin diri serta tidak merusak martabat pelajar atau pendidik. Sementara hukuman sendiri merupakan jalan terakhir dari upaya pendisiplinan ketika cara-cara persuasif tidak lagi membuat siswa lebih baik. Namun perlu dicermati bahwa hukuman memiliki konsekuensi negatif. Apabila dilakukan dengan tepat hukuman bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku buruk siswa. Hanya saja menghukum dengan benar itu sulit, perlu konsistensi dalam penerapannya. Kelas yang diwarnai dengan hukuman juga tidak baik, bisa menciptakan suasana belajar yang tidak menyenangkan dan membuang-buang energi.

Seperti yang penulis paparkan diawal, menumbuhkan sikap disiplin pada siswa bukanlah perkara mudah. Saat ini guru dihadapkan pada situasi yang dilematis. Banyak contoh kasus mengenai guru yang harus berhadapan dengan penegak hukum hanya karna upayanya dalam mendisiplinkan siswa tidak dimaknai baik oleh siswa atau orangtuanya. Bahkan ada guru yang harus meregang nyawa di tangan muridnya sendiri. Oleh sebab itu perlu cara-cara bijak dalam men-treatment siswa yang butuh perhatian khusus dalam hal kedisiplinan. karenanya ada beberapa prinsip-prinsip yang harus diketahui oleh para pengajar sebelum menerapkan sebuah hukuman kepada siswa-siswinya yaitu;

  • Prinsip pertama; Hukuman yang baik adalah yang jarang digunakan. Hukuman apapun jika dilakukan terlalu sering tidak akan bisa merubah perilaku menjadi lebih baik. Hukuman yang sesungguhnya adalah yang jarang digunakan karena jarang dibutuhkan. Itu aturan utama dari hukuman yang ingin diberikan guru terhadap siswanya. Hukuman seyogyanya dapat mengurangi kebutuhan akan hukuman yang lebih banyak. Jika dalam sepekan guru menghukum murid yang sama atas kesalahan yang sama, maka bisa dipastikan hukuman itu tidak efektif.
  • Prinsip kedua;Jangan menghukum disaat marah. Ingat! Bukan hukumannya yang penting, tetapi perilaku buruknya. Hukuman harus bisa merubah perilaku buruknya. Kalau tidak maka harus dicari pendekatan yang lain. Sebagian guru mungkin beranggapan dengan menyuruh siswa/i berdiri satu kaki di depan kelas, hormat bendera selama berjam-jam atau skort jumpberpuluh kali bisa merubah perilaku buruknya. jelas tidak, itu hanya reaksi emosional dari kemarahan guru tersebut. Dan perlu dicatat bahwa amarah dan hukuman tidak bisa dicampuradukkan untuk diterapkan pada peserta didik. Ketika seorang guru memberikan hukuman dalam keadaan marah sebenarnya dia telah melakukan dua hal secara bersamaan. Dia menghukum dan dia bereaksi dengan marah. Bagaimana jadinya jika memang si murid sengaja membuat dia marah? Itu artinya si murid telah berhasil menjatuhkan wibawa sang guru. Jangan menghukum ketika marah. redakan dulu amarahnya baru setelah itu hadapi perilaku buruk siswa dengan kepala dan hati yang lebih dingin.
  • Prinsip ketiga;jangan menghukum untuk mempermalukan. Hukuman seharusnya tidak mempermalukan, menghina atau merendahkan. Hukuman dimaksud untuk mengajarkan bahwa berperilaku buruk itu salah. Kalau hukuman itu sampai mempermalukan siswa, di dalam hatinya akan timbul perasaan yang tidak sehat serta berbekas. Tindakan mempermalukan hanya akan menyebabkan siswa menilai bahwa sang guru tidak adil dan jahat. Jangan hukum siswa di depan teman-temannya yang lain, kecuali jika hukuman tersebut telah disepakati bersama oleh seluruh siswa. Misalnya sebelum ulangan sang guru berkata, “silahkan kerjakan yang tertib dan tidak mencontek, barangsiapa yang ketika sudah diperingatkan berulang kali namun tetap tidak tertib dan mencontek maka kertas ulangannya akan bapak/ibu sobek dan ulangan susulan dengan soal yang berbeda.!” . maka ketika ada siswa yang melanggar di kelas tersebut sang guru boleh menerapkan hukumannya di depan siswa yang lain sebagai bahan pelajaran untuk tidak melakukan hal yang sama.
  • Prinsip keempat; Konsistenlah dalam menghukum. Hukuman harus dilaksanakan dengan konsisten. Ketika guru memutuskan untuk menghukum perilaku buruk siswa, lakukanlah selalu. Jika guru hanya menghukum disaat yang disukai, maka guru tersebut hanya akan membuat permasalahan semakin memburuk.
  • Prinsip kelima;Gunakan hukuman yang mudah dilaksanakan. Pilihlah hukuman yang mudah untuk diterapkan, bagi guru dan tentunya siswa. Jangan siksa siswa dengan hukuman yang diluar batas kemampuannya. Hanya karna tidak mengerjakan tugas sekolah, seorang siswa tidak sepatutnya dihukum dengan lari keliling lapangan 10 putaran. Tentukan hukuman dengan kapasitas siswa, baik fisik maupun psikologisnya. Oleh sebab itu, hukuman hanya diberikan oleh guru yang memang benar-benar mengenal siswanya. Di Finlandia seorang guru setidaknya mengajar murid yang sama selama 6 tahun. Hal tersebut diterapkan agar sang guru benar-benar mengenal siswa-siswinya. Baik perkembangan akademis, sosial serta kejiwaannya.
  • Prinsip keenam; Jelaskan makna hukumannya. Sebelum memberlakukan sebuah hukuman, sebaiknya seorang guru menjelaskan tujuan dari hukuman tersebut, dan jika memang sudah terjadi maka setelah hukuman itu dijalankan beritahukanlah alasannya. Ketika seorang guru menjelaskan tujuan dari hukuman, itu sama saja dia telah memberikan pemahaman serta meminta kerjasama dari para siswa untuk mematuhinya. Seorang guru harus menjelaskan kepada siswanya bahwa dia bukanlah seorang musuh, ia hanya ingin membantu para siswa memperbaiki perilakunya.
  • Prinsip ketujuh:Lebih besar tak selalu lebih baik. Hukuman yang lunak biasanya lebih produktif dibanding hukuman yang keras. Pertahankan segala sesuatunya dalam perspektif dan bereaksilah secara cepat dan tepat terhadap besar-kecilnya perilaku buruk. Jangan gunakan “meriam” bila hanya untuk “membuhuh nyamuk”. Klasifikasikan hukuman sesuai dengan jenis pelanggarannya. Jika kesalahan siswa hanya karna datang terlambat, jangan berikan dia hukuman hormat bendera di tengah lapangan berjam-jam. Jika siswa lupa mengerjakan PR-nya, jangan dihadapi dengan pukulan keras pada tubuhnya. Seorang guru seharusnya mengenal setiap karakter siswa-siswinya. Untuk pelanggaran yang sifatnya teknis akademis hukuman yang diberikan sebaiknya low explosive. Berbeda halnya jika pelanggarannya menyangkut etika (lisan dan perbuatan) atau pembangkangan terhadap kewajiban-kewajiban agama (cth. sholat), maka seorang guru harus menyiapkan bentuk hukuman yang lebih membuat siswa jera dan sadar akan kesalahannya dengan kata lain high explosive.

Demikianlah diantara prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh seorang guru dalam menererapkan hukuman sebagai upaya untuk mendisiplinkan siswa. Sekali lagi, hukuman adalah jalan terakhir yang boleh dipakai oleh seorang guru. Jika cara-cara dialogis masih bisa dipakai, maka seorang guru tidak boleh menerapkan prinsip-prinsip diatas. Selain itu sekolah sebagai institusi yang menaungi para guru seharusnya memiliki standar yang jelas dan baku dalam menerapkan jenis-jenis hukuman kepada para siswanya. Prosedur penerapan hukuman tersebut pun sedianya harus disepakati oleh orangtua selaku wali murid dalam rapat pertemuan di awal tahun ajaran. Adapun bagi para orangtua siswa diharapkan memiliki sikap legowo dan tsiqoh terhadap upaya pendisiplinan yang diterapkan oleh guru. Tentunya dalam memberlakukan hukuman tersebut sang guru sudah memikirkannya secara matang.

Wallahu’alam. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Ajari Mereka Adab!

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan) Dunia pendidikan kembali berduka. Siswa SMAN
Go to Top