Menjaga Fitrah Menyemai Syurga

Rubrik Pendidikan Oleh

(Sebuah Gerakan Pendidikan untuk Membentengi Buah Hati dari Bahaya LGBT)

Oleh: Abu Adjat Al Ghafiqi
(Praktisi Pendidikan dan Anggota Agupena DKI)

“LGBT Bukan Sekadar Penyakit, Ia adalah Wabah!”

Tahun 2012 publik dicengangkan oleh data statistik yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI yang menginformasikan bahwa ada lebih dari 1.095.970 laki-laki memiliki perilaku seksual menyimpang (Lelaki Suka Lelaki/LSL) di Indonesia. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009. Itu data 6 tahun lalu, lalu bagaimana dengan sekarang?. Seorang wartawan senior, Asyari Usman dalam tulisannya, “LGBT; Angka-angka, Gerakan dan Proyeksi ke depan”memprediksi jumlah kaum LGBT saat ini bisa mencapai 7 juta orang. Perkembangan yang begitu pesat menjadikan LGBT bukan saja hanya sebagai penyakit namun juga sudah mewabah menjadi epidemi yang siap melahap generasi-generasi muda negeri ini.

Asyari melanjutkan, Kalau jumlah resmi Kemenkes yang disebut di atas kita urai menjadi kekuatan rekrutmen mereka, maka akan didapat angka yang sangat menakutkan tentang gerakan mereka. Di Indonesia ini ada 83,184 desa dan kelurahan. Pada 2012, jumlah gay 1,095,970. Dengan pertumbuhan 10% per tahun, berarti hari ini ada sekitar 1,500,000 gay. Itu berarti, di setiap desa atau kelurahan ada 18 orang gay. Ini kalau dibagi rata. Jika saja Kalau dizoom ke provinsi-provinsi yang paling rawan, maka peta penyebaran (rekrutmen) gay semakin mencemaskan. Sebagai contoh, Jawa Barat memiliki 300,198 gay (2012); sekarang mungkin mencapai 400,000. Dengan jumlah desa dan kelurahan di provinsi ini 5,899, berarti di setiap desa atau kelurahan ada 67 pria gay. Jawa Tengah memiliki 218,227 pria gay (2012); sekarang mungkin saja mencapai setidaknya 300,000 orang. Dengan jumlah desa dan kelurahan di provinsi ini 8,576, berarti di setiap desa atau kelurahan ada 34 pria gay.

Khusus di Depok sendiri Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok mendata di wilayah tersebut sebanyak 5.791 pria merupakan gay alias lelaki suka lelaki (LSL). Jumlah ini tersebar di 9 kecamatan. Depok menjadi kota dengan jumlah LGBT terbanyak selain Bogor, Batam dan Sumatera Barat dikarenakan letaknya yang strategis dan dekat dengan Jakarta. Bahkan Koordinator Huma Kita Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia (KAKI)  Kota Depok, Hardika, mengatakan selama Januari-Maret 2017, pihaknya menemukan 222 penderita Human Immunodeficiecy Virus (HIV) di Kota Depok. Dari jumlah tersebut, 140 diantaranya adalah gay. Adapun wilayah yang sering dijadikan tempat untuk kopi darat para kaum LGBT yakni sepanjang Jalan Margonda. KAKI sendiri menetapkan Margonda sebagai Zona Merah LGBT.

Pendidikan ; Benteng Terakhir dan Terampuh
Baik para pejabat, akademisi bahkan sampai masyarakat umum menyadari bahwa mewabahnya Virus LGBT bukanlah hal yang kebetulan dan alamiyah melainkan adanya invisible hand yang bermain dibelakangnya. Prof Mahfud sendiri menyebutkan ada dana jutaan dolar yang mengucur ke anggota dewan demi untuk melegalkan LGBT di Indonesia. Gerakan LGBT pun hampir mendapatkan legalitasnya saat Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menggelar rapat paripurna pada Juli 2013 untuk membahas pengakuan tentang LGBT. Hanya, pada akhirnya rapat tersebut menyatakan jika Komnas tak berwenang mengakui LGBT karena Komnas tak mewakili aspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu, dengan modus yang berbeda kini Virus LGBT mulai menyasar para pelajar hingga tingkat SD. Masih di Depok, promosi gerakan LGBT dilakukan via jejaring sosial seperti Twiter dan Facebook. Banyak grup-grup twiter gay atau lesbi yang memiliki ribuan pengikut, hampir sebagian besarnya adalah pelajar. Bahkan kasus video mesum pasangan gay beberapa pekan lalu yang terjadi di tempat gym di daerah Rangkapan Jaya, Depok disebarkan melalui media Twiter oleh pelaku. Setelah diselidiki, pelaku sengaja menyebar video tersebut agar semakin banyak pemuda yang terjangkit LGBT.

Berbagai fenomena di atas membuktikan bahwa LGBT bukan sekedar penyakit sosial namun juga kini sudah menjadi gaya hidup (life style). Dimana gaya hidup akan membentuk pola pikir dan pola pikir nantinya akan membentuk budaya. Jadi jangan heran jika kita tidak mengantisipasinya sejak dini, 10 atau 20 tahun lagi perilaku seksual menyimpang LGBT akan menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Oleh karena itu dalam membendung gerakan yang terorganisir tersebut kita juga butuh upaya yang terorganisir. Dan benteng terakhir dan terampuh untuk membendung itu semua yaitu melalui pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah.

Depok yang memiliki slogan friendly cityyang unggul, nyaman dan religius, pada tataran pemerintah kini harus mulai melakukan langkah serius untuk membendung Virus LGBT di kalangan pelajar. Bahkan sebagian pengamat yang menyatakan Depok darurat LGBT menyarankan untuk dibuatkan perda khusus LGBT. Dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan, pemerintah Depok bisa bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya perilaku seksual menyimpang/LGBT ke sekolah-sekolah.  Menurut data Disdik setidaknya ada 2.010 sekolah, 343.818 siswa dan 19.971 guru di seluruh wilayah Depok.

Pada lingkup sekolah, dalam membentengi siswa dari bahaya LGBT perlu adanya program-program khusus yang ditujukan untuk mengalihkan siswa/i dari tren LGBT. Diantaranya dengan menghidupkan organisasi-organisasi kesiswaan seperti ROHIS dan OSIS. Melalui ROHIS dan OSIS itulah sekolah dapat membuat kegiatan-kegiatan positif yang relevan dan menarik untuk para siswa. Selain itu karena saat ini propaganda-propaganda mengenai LGBT banyak bersliweran melalui medsos, maka sekolah pun harus tegas terhadap penggunaaan gadget bagi siswa. Dan bagi siswa yang sudah terlanjur terkena LGBT harus segera diberikan pendampingan dan penanganan khusus serta tidak dikucilkan.

Untuk tingkat Sekolah Dasar upaya pencegahan virus LGBT dapat dilakukan pihak sekolah dengan berbagai bentuk format kegiatan. Bisa berbentuk sosialisasi/penyuluhan, gerakan khusus Say No to LGBT, pendalaman pemahaman agama melalui kegiatan Jalatsah Ruhiyah atau Malam Bina Ruhiyah atau jika memungkinkan bisa diintegrasikan dalam kurikulum pengajaran.

Menjaga Fitrah Menyemai Syurga
Mau tidak mau, suka tidak suka bahaya LGBT sudah di depan mata. Ia membidik dari kejauhan menunggu kelengahan kita dalam menjaga putra-putri kita. Menurut Syekh Muhammad Ghozali,  seorang ulama kontemporer asal Mesir salah satu upaya yahudi dalam melemahkan umat islam yaitu dengan cara menghancurkan keluarganya. Diantaranya yaitu melalui LGBT sebagai akibat dari pola didik yang keliru.

Islam sebagai agama fitrah yang syamil wal mutakammil (konprehensif) telah memberikan panduan yang lengkap dalam mendidik anak-laki-laki dan perempuan-dari proses pencarian pasangan hingga anak dewasa. Dalam Islam jelas sekali bahwa manusia terbagi hanya menjadi dua jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Islam tidak mengenal adanya thrid gender atau jenis kelamin ketiga sebagaimana yang di promosikan oleh gerakan LGBT melalui organisasi Arus Pelangi dan LGBTQI milik mereka di Indonesia.

Alquran sebagai sumber hukum pun telah jelas memuat prinsip tentang pendidikan anak laitsa dzakaru kal untsa yaitu cara mendidik yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dalam Islam dididik untuk menjadi pribadi yang berani, tegas dan bertanggung jawab. Sementara wanita dididik untuk menjadi pribadi yang lembut, penyayang dan sabar. Jika pembaca ingin mengetahui lebih detail bagaimana cara mendidik anak dalam islam silahkan baca buku Tarbiyatul Awlad karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan.

Adapun dalam tulisan ini, penulis hanya menjelaskan bagaimana tuntunan rasulullah dan para sahabat mendidik anak agar terhindar dari penyimpangan seksual LGBT. Diantara tuntunan tersebut antara lain:

  • Sejak awal orangtua harus membedakan pola pengasuhan antara anak laki-laki dan perempuan (anak laki-laki diperlakukan sebagai laki-laki dan perempuan diperlakukan sebagai perempuan)
  • Pemantapan identitas diri sejak usia 3 tahun (informasi tentang adanya gender laki-laki dan perempuan)
  • Memerintahkan anak laki-laki untuk sholat sejak 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau sholat diusia 10 tahun.
  • Membiasakan anak untuk meminta izin jika ingin memasuki kamar orang dewasa
  • Memisahkan tempat tidur anak-anak dengan orang tua sejak usia 7 tahun
  • Anak laki-laki tidak boleh tidur satu selimut dengan saudara perempuannya
  • Anak laki-laki tidak boleh memakai pakaian yang identik dengan pakaian perempuan begitupun sebaliknya
  • Sesama anak laki-laki tidak boleh saling melihat aurat, begitupun perempuan tidak boleh melihat aurat sesamanya. Apalagi melihat aurat lawan jenisnya.
  • Sebisa mungkin orangtua menghindari bertengkar di hadapan anak-anaknya
  • Didik anak laki-laki dengan keras (bukan kasar), ajak mereka berpetualang, mendaki gunung, memanah, berenang dan berkuda. Didik mereka agar bertahan di semua keadaan
  • Didik anak perempuan dengan lembut (bukan manja), ajak mereka berempati, mengurus rumah, menjahit dan memasak.
  • Biasakan anak-anak untuk rutin berinteraksi dengan Al-Quran, baik membaca atau menghafalnya.
  • Batasi penggunaan Gadget pada anak-anak serta lakukan pendampingan dalam menggunakannya. Jika ingin mulai memberikan anak Smartphone maka informasikan terlebih dahulu dampak positif dan negatifnya
  • Awasi dan pilihkan pergaulan yang baik untuk anak-anak. Ikutkan mereka dalam kegiatan di masjid atau mushola seperti pengajian dan jangan biasakan mereka bermain dengan orang yang lebih dewasa tanpa kontrol dari orangtua.

Demikianlah beberapa tuntunan Islam dalam mendidik anak agar terhindar dari bahaya penyimpangan seksual yang penulis sarikan dari beberapa buku Islamic Parenting. Semoga bisa menjadi tuntunan bagi para pembaca untuk sama-sama memulai gerakan massis dalam membentung Culture Invasion berbentuk LGBT. Sehingga dengannya kita bisa menjaga fitrah putra-putri kita dan kelak akan menyemai syurgaNya nanti.

Wallahu’alam. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Ajari Mereka Adab!

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan) Dunia pendidikan kembali berduka. Siswa SMAN
Go to Top