Menulis untuk Publikasi Itu Berat

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Ini bukan tentang Dilan. Hanya sekadar mengikut dengan pola kalimat yang digunakan Dilan. Sebagaimana latar film tersebut tahun 1990, kewajiban guru hanyalah semata-mata mendidik, belum ada tambahan yang lain. Sementara saat ini, guru sekolah menengah sekalipun juga diwajibkan untuk menulis dalam rangka publikasi ilmiah. Padahal, dengan beban guru yang mencapai 24 jam pelajaran dalam sepekan, menulis untuk publikasi hanyalah sisa-sisa tenaga yang telah digunakan untuk 24 jam beban utama. Akhirnya, guru-guru tidak memungkinkan untuk naik pangkat demi mendapatkan promosi jabatan yang lebih tinggi. Ini juga karena desain karir dan beban yang tidak proporsional.

Sementara dosen dengan beban tri dharma perguruan tinggi, masih juga belum menggapai capaian yang menggembirakan. Beban kerja dosen sudah diatur sedemikian rupa. Hanya saja, luaran yang diinginkan sebagai jangkar yaitu publikasi belum juga terwujud. Ini bukan tentang uang, apalagi soal waktu. Padahal, satu perguruan tinggi kecil saja mengelola ratusan juta untuk penelitian. Dengan demikian, tuntutan untuk sebuah publikasi sejatinya hanya dapat dilakukan bukan karena persoalan keuangan semata tetapi lebih kepada keperluan profesi.

Persoalan pangkat belum lagi. Sehingga menyertai Prof. Ekhwan Toriman (Universiti Kebangsaan Malaysia) dalam beberapa kesempatan menyertai workshop beliau, dimulai perbincangan dengan mengemukakan pernyataan untuk tidak mempertanyakan riset dan publikasi kaitannya dengan pangkat. Hubungan ketiganya akan sangat kompleks dan masing-masing memiliki rambu-rambu yang berbeda. Juga ada perbedaan pandangan yang melingkupinya masing-masing. Untuk menguasai satu aspek saja sudah merupakan sebuah kemahiran pada tingkat lanjut. Sementara memadukannya juga menjadi seni tersendiri.

Jutaan mahasiswa di tiga strata, mulai dari tingkat sarjana sampai doktor diwajibkan untuk menulis karya ilmiah sebagai tugas akhir. Nyatanya, karya tersebut hanya sampai di tangan pembimbing dan penguji saja. Tidak sempat terbaca oleh khalayak publik. Ini juga berkaitan dengan hanya sebagai kewajiban semata. Sementara tenaga, dana, waktu, dan semua hal yang dikorbankan ditujukan hanya sampai di selembar ijazah dan juga toga wisuda. Maka, sekali lagi karena ada beban yang berat untuk mengkonversi karya ilmiah menjadi artikel publikasi.

Belum lagi mata kuliah. Untuk sampai pada disertasi, ada dua sampai tiga semester yang harus dihabiskan dengan mengikuti mata kuliah. Setiap perkuliahan dengan beban menulis makalah minimal satu. Itu tidak termasuk makalah sebagai tugas akhir. Ada dosen di universitas seperti Universitas Airlangga, Surabaya, dan Universitas Medan Area, Sumatera Utara, melengkapi pembelajaran dengan menerbitkan hasil-hasil perkuliahan menjadi buku daras. Begitu juga di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur, juga menjadikan awal dari interaksi perkuliahan sebagai bahan untuk diteruskan menjadi buku referensi. Dari ribuan institute pendidikan tinggi, tidak sampai puluhan atau bahkan ratusan perguruan tinggi yang melaksanakannya. Ini lagi-lagi karena menulis itu berat.

Populasi dosen dan mahasiswa, belum lagi peneliti, hanyalah menjadi hiasan angka-angka semata. Karena dengan jumlah jutaan itu tidak mampu menyumbang sampai pada angka yang juga jutaan. Semuanya, karena publikasi memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan ketekunan, kesediaan, dan kerjasama. Tanpa ketiganya, maka bekerja untuk publikasi akan menjadi beban yang teramat berat. Tidak dapat ditanggung sendiri, kecuali dengan adanya dukungan dari kolega yang tidak sebatas dalam negeri saja, maka memungkinkan untuk menghasilkan publikasi.

Belum lagi tipikal beberapa orang di Indonesia yang selalu mencari jalan yang mudah. Maka, beberapa jurnal yang menjadi destinasi publikasi warga Indonesia akhirnya dikeluarkan dari pangkalan data Scopus, seperti Social Science (Medwell), dan Advance Science Letter. Pada sisi ini, peran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI menjadi signifikan dengan memberikan panduan publikasi. Sejak awal, kementerian tidak memberikan nilai penuh bagi publikasi di jurnal-jurnal tertentu seperti Man in India.

Sosialisasi yang dilakukan kementerian sangat efektif. Dilengkapi dengan laman web yang secara khusus memberikan informasi yang mutakhir untuk kriteria jurnal yang digunakan untuk keperluan pangkat. Maka, dengan ketersediaan informasi dan juga akses internet yang semakin merata ke seluruh pelosok negeri, sesungguhnya porsi yang berat dapat mulai dihilangkan sedikit demi sedikit. Ketika dosen, mahasiswa, dan pengambil kebijakan sudah menyamakan persepsi bahwa publikasi menjadi titik awal dalam rangka menggerakan dinamika masyarakat, tidak ada lagi alasan untuk tidak memublikasikan semua kerja-kerja civitas akademika. Demikian pula, untuk guru menjadi sebuah kesempatan untuk bersinergi dengan dosen untuk juga melakukan publikasi. Bagi guru akan meningkatkan kapasitas, sementara bagi dosen akan menjadi lahan pengabdian masyarakat. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top