Eco Transport, Demi Kebaikan Kita dan Alam

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Yudhi Kurnia

Sebuah konsekuensi bagi negara, kota, ataupun kawasan yang maju adalah hadirnya masalah seperti kemacetan, kawasan kumuh, panas yang di akibatkan dari efek rumah kaca dan lain sebagainya. Tidak ada seorang manusia pun yang merasa nyaman jika dalam kondisi seperti di sebutkan di atas. Untuk itu banyak usaha yang di tempuh agar masalah seperti kemacetan dapat di selesaikan. Tidak sedikit dampak buruk yang ditimbulkan dari kemacetan ini, tidak hanya manusianya namun juga untuk kesehatan lingkungan sekitar.

Kita ketahui bahwa gas buang yang di timbulkan oleh kendaraan bermotor sangatlah berbahaya, di tambah volume kendaraan yang semakin hari semakin fantastis jumlahnya, hal ini mendorong produksi racun CO ataupun CO2 semakin bertambah. Efek dari gas ini memang tidak secara langsung dapat dirasakan dampak buruknya, namun seiring berjalannya waktu dan juga semakin bertambah kendaraan yang mengeluarkan gas-gas tersebut maka produksi CO ataupun CO2 juga terus bertambah, tentunya ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Kondisi kesehatan manusia akan semakin terpuruk saat manusia itu sendiri sudah malas gerak (mager) istilah zaman sekarang, karena kemanapun pergi selalu menggunakan kendaraan yang tentunya saja banyak mengurangi pergerakan manusia itu sendiri. Maka dari pada itu kita tak jarang melihat orang-orang menyengaja berolahraga minimal satu minggu sekali, alasannya adalah untuk membayar aktifitas keseharian mereka yang kurang bergerak. Tentu saja hal itu tidaklah salah. Namun demikian waktu seminggu sekali dalam berolahraga atau gerak masih di rasa kurang sekali, kita tentunya memerlukan gerakan-gerakan tubuh dalam keseharian kita.

Satu usaha yang akhir-akhir ini gencar di lakukan adalah dengan bepergian dengan cara berjalan kaki. Tentu ini usaha bukan untuk jarak yang jauh, bisa jadi hanya dilakukan untuk orang-orang yang dekat dengan tujuan saja. Selebihnya mereka akan menggunakan alat transportasi seperti sepeda, kendaraan umum atau mungkin barengan naik kendaraan dari asal hingga ke tujuan secara bersama.

Komplek SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung semenjak tahun 1988 hingga saat ini mengalami peningkatan dari kapasitas siswa yang fantastis. Tentunya ini berdampak dari jumlah kendaraan yang masuk ke komplek SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung, lalu permasalahan klasik pun muncul yaitu kemacetan di sekitar komplek sekolah.

Kemacetan yang  di akibatkan meningkatnya volume kendaraan yang masuk ke komplek sekolah tentunya sangat mengganggu aktifitas bukan hanya sekolah, namun juga para penduduk di sekitar yang merasakan dampak aktifitas keluar dan masuk kendaraan para pengantar siswa-i. Jika kondisi kemacetan yang terjadi tidak di tanggapi serius, tentunya akan merugikan perkembangan sekolah kedepannya. Bukan hanya sekolah, mungkin juga para masyarakat sekitar yang tentunya mempunyai hak akan terbebasnya dari kemacetan di jalan dan bahaya gas buang dari kendaraan.

Seolah gayung bersambut antara sekolah dengan pihak Dinas Perhubungan Kota Bandung mengadakan kegiatan yang disebut dengan eco transport, pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Hal ini juga terkait bahwa Dinas Perhubungan juga menerima keluhan masyarakat, ditambah juga hasil dari pemantauan kondisi jalan di sekitar Antapani pada umumnya setiap pagi hari selalu macet dan tentunya mengganggu aktifitas keseharian orang-orang sekitar Antapani.

Program eco transport adalah program yang  mengajak siapapun untuk bijak dalam menggunakan kendaraan baik itu roda dua ataupun empat. Melalui eco transport ini masyarakat di ajak untuk dapat menjaga lingkungan sekitar dengan tidak menggunakan kendaraan  pribadi ke ruang sekolah. Hal ini di lakukan untuk mengurangi dampak buruk dari polusi kendaraan.

Pada hari Rabu, 7 Februari 2018 pihak sekolah SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung mengadakan simulasi eco transport dengan mensterilkan area jalan menuju sekolah agar tidak di lalui oleh kendaraan yang akan mengantarkan siswa ke sekolah. Para orang tua hanya boleh menggunakan kendaraan bermotornya pada tempat yang sudah di tentukan. Siswa yang diantar orang tuanya harus berjalan kaki dari titik tempat berhenti yang kami sebut sebagai check point untuk menuju sekolah.

Pihak sekolah membatasi waktu untuk kendaraan yang mau masuk kesekolah hanya hingga pukul 06.00 wib. Lebih dari waktu tersebut maka kendaraan tidak bisa masuk ke komplek sekolah. Untuk guru dan karyawan yang terlambat datang hanya bisa menyimpan kendaraan di luar area radius jalan kaki yang sudah ditentukan. Pada hari itu terbia kedalam beberap Ccheck point yaitu beberapa adalah Ruko di jalan Indramayu, Griya Yogya Antapani, BRI jalan Purwakarta dan sekitar jalan Cicalengka.

Para guru di bantu dengan personil dari Dinas Perhubungan bahu membahu melaksanakan kegiatan simulasi Eco Transport ini. Siswa yang di antar oleh orang tua dengan kendaraan bermotor dengan sangat terpaksa harus di turunkan di titik-titik yang sudah di tentukan. Dan melanjutkan kesekolah dengan berjalan kaki.

Pada pelaksanaan simulasi kegiatan terpantau aman dan sukses. Tidak sedikit feedback positif di berikan oleh masyarakat sekitar sekolah. Yang pada waktu itu merasa sangat bahagia karena jalan kadipaten raya menjadi steril. “Alhamdulillah, jalan kadipaten raya tidak lagi ramai dan bising dengan kendaraan yang akan masuk mengantar para siswa ke sekolah, sehingga masyarakat sekitar sekolah merasa nyaman” kata seorang ibu yang juga ikut menyaksikan bagaimana para peserta didik baik SD ataupun SMP bersama-sama berjalan kaki menuju ke sekolah.

Kegiatan eco transport adalah sebuah even besar, sebuah aktifitas yang akan membuka ruang berpikir warga kota Bandung khususnya untuk lebih peduli terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Membawa kendaraan bermotor pribadi ke sekolah, ataupun ke kantor hanya akan mengakibatkan macet dan menimbulkan kerusakan alam. Untuk itu program walk to school, bike to school itu dilaksanakan. Masyarakat di imbau untuk menggunakan sepeda ataupun kendaraan umum untuk sampai di tujuan.

Pada evaluasi kegiatan per hari rabu ini, banyak temuan di lapangan tentang apa yang sudah di temukan, salah satunya adalah dengan mengurangi check point karena di rasa tidak memberikan dampak yang baik terutama di area jumlah siswa yang masuk dan berhenti di check point tersebut. Saat seorang guru bertanya terhadap para siswa mereka mengaku senang dengan eco transport ini, mereka mengetahui bahwa kegiatan ini semata-mata demi kebaikan mereka dan juga untuk kebaikan alam.

Secara umum kegiatan simulasi eco transport berjalan lancar, bahkan ada cerita tersendiri dari para guru dalam menyukseskan program ini yaitu dengan membawa para buah hati dan suaminya untuk ikut ke sekolah, sementara di tempat day care belum buka, maka ayah si anak sengaja menunggui dan mengasuh di sekolah. Sungguh sebuah pengorbanan yang tak ternilai harganya. Semua menyadari bahwa itu demi kebaikan tidak hanya manusia namun juga untuk alam.

Kamis, 8 Februari 2018 adalah hari pertama pembukaan program Eco Transport – Walk – Bike to School di laksanakan. Pelaksanaan launching akan di ikuti dan di hadiri oleh aparat TNI-Polri, Dishub dan juga pihak terkait dalam kegiatan eco transport ini. Harapan agar kesehatan semakin meningkat, dan juga pengurangan efek dari gas buang kendaraan bermotor bisa terlaksana begitu tinggi. Semua berharap bahwa program ini dapat berjalan, tidak hanyak sekitar Antapani namun juga wilayah-wilayah yang rawan dengan macet dan juga polusi udara. Di perlukan kerja yang synergi – Syncronisasi Energy antarelemen masyarakat demi mewujudkan sekolah sehat dan Bandung Sehat, masyarakat kuat. ***

Yudhi Kurnia, S.T., lahir di Tasikmalaya, 18 Agustus 1983. Kini menjadi Pendidik/Humas SMP Muhammadiyah 8 Bandung

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Ajari Mereka Adab!

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan) Dunia pendidikan kembali berduka. Siswa SMAN
Go to Top