KAUM MEDSOCHOLIK MERESPONS PERLAKUAN TERHADAP GURU TERANIAYA

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Heronimus Bani

Pengantar
Beberapa waktu terakhir ada kabar-kabar tentang guru yang mendapat perlakukan tidak bermartabat dengan cara dipukul bahkan hingga tewas. Pembicaraan oleh berbagai kalangan. Mereka marah, geram, kecewa, bahkan di kalangan guru muncul tulisan-tulisan pendek (meme) bernada tidak terpuji pula. Misalnya, orang tua yang tidak mau anaknya diajar, bangun sekolah sendiri, ajar sendiri, beri rapor dan luluskan dan beri ijazah sendiri. Kalimat seperti ini tentu tidak pantas dibuat oleh guru professional.

Sekali lagi, berbagai kalangan telah membahas permasalahan dimana guru dipukul hingga tewas, atau ada yang harus mendapat perawatan medis, dan semacamnya. Mereka para pengamat dan praktisi pendidikan menghimbau agar hal ini tidak terulang. Tetapi, siapakah yang dapat menahan diri dari kebringasan jika mereka (orang tua siswa, atau siswa) mau melakukannya lagi?

Kali ini terjadi lagi.

Gambar ini diunggah di media fesbuk. Suatu perbuatan yang dapat saja dikategorikan sebagai sangat tidak manusiawi. Seorang guru dipukul menggunakan kaki meja yang mana kaki meja itu besi. Sang guru dalam kapasitas sebagai seorang kepala sekolah.

Kabar ini mula-mula diunggah oleh Alfred Bustian Kaemba dalam satu grup yang disebut MANGUNI TEAM123 Tetengkoren Berguna, yang kemudian dibagikan ke akun grup Victor Lerik (veki lerik) bebas bicara bicara bebas.

Unggahan ini telah dilihat, dibaca  dan dikomentari oleh pengguna feisbuk sebanyak 3.333 orang sampai dengan tulisan ini dibuat.

Artinya, perhatian publik pada permasalahan guru khususnya pada tindakan kriminal pada mereka, sangat tinggi. Beragam komentar dapat dilihat pada unggahan para kaum medsocholic. Beberapa potongan saya screenshoot seperti berikut ini.

Masih lebih banyak orang memberikan komentarnya.  Di antara begitu ribuan komentar itu, dapat disimpulkan bahwa secara umum semua terasa “mengutuk” tindakan brutal si orang tua siswa itu. Kaum medsocholic yang memberi tanggapan berharap agar ada tindakan tegas pada pelakunya.

Hukum pidana pun diberlakukan pada pelaku tindak pidana. Penegak hukum tidak mungkin berdiam diri manakala mengetahui masalah yang viral dan mendapat perhatian public luar biasa.

Bagaimana dengan Siswa yang menjadi sumber masalah ini?
#Kemarahan public, dan di dalamnya pasti ada oknum guru ikut memberi support pada rekan yang mendapatkan musibah ini. Di antara komentar yang banyak ada pula yang menyampaikan usul yang sifatnya sangat antagonis. Mereka tidak berharap agar anak itu kembali ke sekolah. Ada pula yang meminta orang tuanya mengajarinya dan memberikan tanda lulus sendiri hingga pemberian surat tanda tamat belajar. Ini tentulah tidak mungkin terjadi, berhubung rumah tangga/keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dan primer, bukan lembaga formal yang harus mengikuti prosedur dan standar-standar yang telah ditetapkan.

Pada masa bersekolah bila ada siswa nakal, seringkali dapat dimaklumi. Kenakalan yang tidak dapat dikendalikan menjadi pemicu ketidaknyamanan para guru. Maka, seringkali sanksi atau hukuman fisik dipakai oleh guru. Menjadi pertanyaan, apakah guru tetap dianggap salah bila memberikan sanksi fisik? Bukankah sanksi fisik pun ada muatan edukasinya? Apalagi yang dilakukan sang guru yang menegur dengan memberi sanksi bukan fisik, tetapi suatu surat pernyataan yang tidak menyakitkan secara fisik.

Kini, jika ada guru dianiaya disebabkan siswa pemicunya dan orang tuanya menjadi pelaku, maka siswa tersebut akan mendapat sanksi lebih berat. Ia dapat saja dipecat sebagai siswa, dan sangat mungkin untuk tidak diterima di sekolah lain. Bukankah hal ini merugikan siswa?

Pemerintah telah mengeluarkan UU Guru dan Dosen. Ada perlindungan terhadap guru. Ada UU Perlindungan Anak. Semua elemen bangsa mengingatkan bahwa UU yang dibuat sebagai pagar yang memagari kehidupan manusia dalam profesi atau tugas tertentu sehingga tidak terjadi tindakan yang melanggar hukum sebab aka nada sanksinya.

Orang tua siswa telah menganiaya guru. Siswa dari orang tua itulah pemicunya. Korban telah jatuh. Si guru sakit dan harus dirawat tubuh yang terluka. Namun, ada luka lain yang menganga lebih lebar yaitu terlukanya kaum guru. Profesi mereka kurang mendapat rasa hormat di mata anggota masyarakat tertentu. Walaupun banyak orang menaruh simpati dan empati, belum tentu ada yang menggalang demonstrasi untuk dengan #SAVE GURU, atau #HUKUM PENGANIAYA GURU sebagai aksi BELA GURU.

Begitukah nasib sebagian kaum guru di NKRI ini?

Penutup
NKRI mempunyai cita-cita luhur di bidang pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan bukan sekedar pandai, pintar dan cerdik. Cerdas terkandung pula sikap, karakter dan perilaku. Jika lembaga pendidikan (guru) diendors hanya untuk menghasilkan manusia berotak dan berotot saja, sambil mengabaikan sikap dan karakternya, maka kita tidak perlu heran. Sekalipun mereka berdasi dengan gaya yang aduhai, tetapi bila moralnya bejat, dapatkah mereka membangun bangsa.
Mari hormati setiap profesi, termasuk profesi guru. Bukankah setiap profesi sekalipun seakan berdiri sendiri, tetapi tetap secara bersama-sama sedang membangun bangsa? ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Ajari Mereka Adab!

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan) Dunia pendidikan kembali berduka. Siswa SMAN
Go to Top