Home » Opini » Pencuri Impian » 26 views

Pencuri Impian

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat

Hati-hati, di dunia ini ternyata banyak orang yang menjadi pencuri impian. Siapakah dia? Yaitu mereka-mereka yang menghadirkan keraguan dalam pikiran, ketika kita mulai melakukan berbagai hal penting dalam hidup. Individu-individu yang mengajak berhenti saat kita memutuskan untuk memulai langkah.

Dahulu, sewaktu SMA, Saya pernah menjadi Kensi. Sebuah istilah untuk murid yang mempelajari Kempo di sebuah Dojo (perguruan). Diriku sangat tertarik dengan ilmu bela diri asal Jepang ini. Nah, lagi asyik-asyiknya mendalami bermacam jurus, tiba-tiba beberapa teman sepermainan (tetangga) memprovokasiku untuk segera berhenti. Menurut mereka, mempelajari Kempo takkan banyak berguna buatku.

Saya juga mengalami hal yang sama ketika pertama kali bergabung dengan organisasi Pramuka. Bagiku, ini adalah wadah yang baik untuk pembinaan moral dan karakter bagi pelajar seusiaku kala itu. Dan kurasakan memang sangat bermanfaat dan mengasyikkan. Kran potensi akhirnya terbuka dan menemukan salurannya. Eh, beberapa orang lantas datang menasihatiku agar tidak mengikuti organisasi yang diprakarsai oleh Lord Baden Powell itu.

Pada masa itupula, Saya mulai belajar menulis. Berani menuangkan ide pada beberapa lembar kertas. Ada rasa bahagia ketika kumpulan paragraf itu rampung. Apalagi saat dibaca dan mendapat apresiasi dari guru dan teman sekelas. Namun lagi-lagi, ada beberapa oknum yang menganggap karyaku itu tak bermanfaat. Tiada guna, hingga tak perlu meminta orang lain untuk membacanya.

Dan begitu pula saat diriku mulai menapaki beribu langkah lainnya guna meraih sejuta mimpi. Ada saja orang-orang yang selalu hadir memprovokasi agar mengurungkan langkah, menghadirkan keraguan, menyumbat motivasi dan mengaburkan niat.

Apakah Saya lantas berhenti? Tidak !!! Diriku memiliki keyakinan bahwa selama yang kulakukan itu benar, mendapat persetujuan dari orang tua, tidak merugikan orang lain, dan bermanfaat buatku saat ini dan masa depan nanti, maka pantang bagiku tuk surutkan langkah. Ku tutup rapat kedua telinga. Tak kubiarkan sedikitpun bisikan itu mempengaruhi ruang pikiran dan kesadaranku. Ini mimpiku, bukan punyamu, takkan kurelakan sedikitpun kalian mencurinya.

Di sebuah garis waktu, Saya akhirnya memahami bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuat kita gagal, sebab kitalah yang bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita. Tak elok menyalahkan orang lain saat diri kita salah melangkah. Sebagaimana setan tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk meminta pengampunan atau pengurangan hukuman di akhirat nanti.

Oh iya, sepengetahuan Saya, diantara jenis manusia yang mencoba mencuri impian orang lain itu adalah individu-individu yang tidak memiliki mimpi dalam kehidupannya. Tapi ia tak ingin sendiri saja seperti itu, karenanya ingin diajak pula orang lain bersamanya. Baginya hidup itu ibarat air, mengalir saja. Tapi dirinya lupa bahwa air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Itulah mengapa orang-orang semacam ini selalu berada di “kursi belakang”. ***

Tags:

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Masalah buat Loe!

Oleh: La Ode Mu’jizat Saat memakai seragam putih-merah semasa SD dahulu, rasanya
Go to Top