Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (1)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Satu hari setelah ulang tahun saya yang ke-36, pukul 18.51, ada inbox dari Maksimus Masan Kian, seorang kawan yang sama-sama bergiat di Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena).

“Selamat malam, Pak Yanuardi. Agupena Flores Timur berencana mengundang bapak sebagai narasumber seminar nasional yang akan digelar di Flotim pada 3 Maret 2018. Mohon konfirmasi baliknya.”

Segera, saya jawab, “siap!”

Undangan ini adalah bagian dari undangan lisan yang pernah diucapkan Maksimus saat kami bertemu di acara Musyawarah Nasional Agupena yang digelar di Hotel Istana Nelayan, Tangerang tahun lalu. Ketika itu, sebagai Sekretaris Panitia, saya banyak berhubungan dengan teman-teman pengurus se-Indonesia, dan membuka beberapa perwakilan di luar negeri, seperti Australia, Malaysia, Jepang, dan Inggris.

Undangan hadir ke Larantuka, sebuah kota yang saya belum pernah ke sana adalah sesuatu yang sangat terhormat bagi saya. Dan, tentu saja harus dihadiri.

Perjalanan pun dimulai. Saya berangkat dari Depok ke Cengkareng sekitar pukul 1 dini hari. Pesawat dijadwalkan take off pukul 03.00 ke Kupang. Di Kupang, saya akan transit hingga sore, dan berangkat kembali ke Larantuka. Singkatnya, berangkat pukul 1 dini hari dan tiba di Larantuka pukul 17 sore.

Sebelum berangkat, saya kontak kawan saya, Subhan Setowara, asli Kupang. Kata Subhan, ada adiknya di Kupang yang akan jemput saya dan ajak jalan-jalan. Tiba di Kupang, saya bertemu dengannya, namanya Zul, pengajar Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Kupang.

Mobil Katana “senior” mengantarkan saya jalan-jalan.

“Sukanya jalan kemana, bang?”

“Saya suka sejarah, bang Zul,” jawab saya. “Saya juga suka yang unik-unik.”

“Kalau gitu kita ke Goa Kristal aja, bang. Di sana airnya kayak kristal.”

Sekitar 30 menit jalan menuju Goa Kristal. Awalnya, Zul lupa-lupa ingat lokasinya, karena sudah ada rumah yang dibangun tak jauh dari Goa tersebut. Kami pun parkir mobil ke dalam pagar rumah tersebut disambut oleh dua ekor kawannya Ashabul Kahfi. Sebenarnya, kita bisa juga jalan ke Goa lewat jalan sebelah, walaupun jalannya masih belum berbentuk jalan dengan tanda-tanda yang jelas.

Di Goa Kristal, Zul mulai masuk duluan, sebagai yang sudah pernah masuk. Saya mengikuti. Di belakang saya ada ibu yang menemani dengan senter kecilnya.

Perjalanan turun ke Goa itu butuh kehati-hatian. Kalau nggak hati-hati, bisa-bisa kepeleset, dan jatuh. Tiba di bawah, saya mencari dimana air kristalnya. Pagi itu, matahari belum begitu terang sehingga tidak tampak jelas kristalnya. Tapi, senter yang menerpa air menampakkan cahaya kristal yang indah untuk dilihat.

“Kadang ada yang diving di sini, bang. Bahkan, bule-bule ada yang sampai di ujung sana dan balik lagi ke sini,” kata Zul.

“Di zaman penjajahan, Goa ini juga pernah jadi tempat persembunyian,” kata ibu yang temani kami. Air di sini juga tersambung hingga ke laut, tapi tidak asin airnya.

“Ada cerita horor-nya, nggak?” Kata ibu tersebut, “Goa ini sudah ada dari zaman leluhur kami, dan tidak ada cerita horor-horor.” Biasanya, destinasi wisata itu semakin “greget” manakala ada cerita mistiknya. Tapi, syukurlah tidak ada cerita tersebut. Walaupun saya sedang mencari pula cerita-cerita unik dari destinasi Goa Kristal ini. Mungkin tidak cukup waktu satu kali untuk mengenal destinasi wisata ini. *

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top