Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (10)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Setiba Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon (disingkat Anton Hadjon) di lokasi Seminar Nasional “Digital Literacy” di Gedung OMK Larantuka, kami bersama-sama Bupati disambut oleh tarian dari anak-anak SDI Supersemar, dan disambut dengan pengalungan kain selendang lokal.

Dalam perjalanan masuk ke gedung, kita terasa seperti orang penting. Padahal saya merasa bukan siapa-siapa, dan mungkin prosesi itu lebih cocok bagi pejabat. Tapi, karena itu bagian dari proses jalannya acara (mungkin juga bagian dari seremoni) maka harus dijalani.

Pengalungan selendang pasti ada maknanya. Tapi, apa kira-kira? Bisa jadi, ini: penghormatan, persahabatan, dan persaudaraan. Artinya, kedatangan orang baru atau tamu tersebut adalah sesuatu yang dihormati, dianggap sebagai sahabat, dan saudara. Di tiap budaya seperti punya tradisi seperti ini.

Sehari sebelumnya, waktu kami tiba di Bandara Larantuka juga mendapatkan pengalungan tersebut. Waktu itu, saya lagi menunggu datangnya koper. Kemudian seorang polisi setempat bilang, “Bapak ditunggu di depan.” Ternyata, ada teman-teman panitia yang menunggu untuk dikalungi selendang selamat datang di tanah Lamaholot, Flores Timur.

Tiba di pintu gedung, peserta sudah duduk dengan rapi. Total sekitar 400 orang hadir dalam gedung Keuskupan Larantuka tersebut. Tampak wajah-wajah semangat, disiplin, dan antusias dalam diri mereka. Mungkin karena acara ini jarang dilakukan (tapi tahun lalu juga Agupena Flotim membuat acara seperti ini waktu HUT ke-2). Atau, mungkin karena mereka datang dari pulau-pulau yang tidak dekat dari Larantuka dan melewati jalan darat dan laut yang tidak bisa disebut mudah. Bahkan, tidak sedikit peserta yang telah menginap di Larantuka hanya untuk hadir di acara ini, kata Maksimus Masan Kian.

Sebagai tamu saya merasa senang melihat antusiasme dari teman-teman peserta dan juga panitia. Di daerah lain, sependek yang saya jalani, tidak seantusias ini juga. Bahkan, setelah kembali ke Jakarta, antusiasme para peserta akan pentingnya budaya literasi masih tetap ON, menyala, dan terus bergeliat. Lihatlah status-status atau komentar yang tidak henti-hentinya muncul pada medsos buatan Mark Zuckerberg. Sangat antusias, semangat, dan bertenaga. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*