Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (11)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Pada tahun 1983, Guru Besar Universitas Harvard Howard Gardner menulis buku yang berpengaruh di dunia dalam melihat modalitas kecerdasan manusia yang kita kenal dengan nama kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

Dalam buku berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Gardner membagi kecerdasan majemuk dalam beberapa kategori, salah satunya adalah bodily-kinesthetic. Secara mudah, kecerdasan jenis ini terkait dengan aktivitas olahraga atau gerakan tubuh. Aktor dan atlet masuk dalam kecerdasan jenis ini.

Sebelum masuk ruangan acara, kami telah disambut dengan tampilan kecerdasan kinestetik anak-anak SDI Supersemar yang menari tarian penyambutan. Kemudian, di dalam gedung disambut pula dengan pantomin yang dibawakan oleh siswa SMK Sura Dewa Larantuka dan tarian adat “Gae Wata” yang dibawakan oleh siswa SMPN 2 Adonara Timur, Witihama, dengan performa yang baik.

Kehadiran anak SD, SMP, dan SMK dalam meramaikan acara ini adalah bagian yang cukup penting dalam upaya untuk menciptakan kolaborasi literasi di sebuah kabupaten/kota. Jadi, acara-acara penting perlu sekali memberdayakan berbagai kalangan untuk berpartisipasi. Orang pasti senang diajak serta, mungkin makan-makan, atau diajak untuk ikut berbagi apa yang mereka bisa. Gerakan Indonesia Mengajar misalnya, atau gerakan-gerakan sejenis, adalah contoh bagaimana semangat berbagi diorganisir sedemikian rupa hingga melahirkan program yang sangat membantu bagi percepatan pendidikan kita terutama di wilayah-wilayah yang masih kurang dijangkau oleh pemerintah.

Tarian, pantomim, dan puisi yang dibawakan oleh siswa-siswa ini pastinya sebuah pengalaman yang sangat penting bagi mereka ke depan. Ini bisa disebut sebagai prestasi yang patut untuk mendapatkan apresiasi. Jika mereka mendapatkan sertifikat atas partisipasinya, pasti itu sangat berguna buat ke depannya.

Saya teringat waktu membuka sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di rumah dengan murid sekitar 130 orang. Dalam sebuah lomba, saya memberikan sertifikat kepada siswa-siswa yang jadi peserta. Mereka senang. Bahkan, di antara mereka ada yang memajang sertifikat tersebut di ruang tamu rumahnya.

Mungkin saat kecil sertifikat itu belum ada maknanya, tapi ketika mereka mulai “naik-naik badan”, baligh, dan dewasa mereka akan teringat fragmen masa lalu itu. Ketika mereka diterpa masalah, jatuh, bahkan mungkin putus asa tapi melihat sertifikat itu mungkin saja ada lintasan ide bahwa hidup manusia itu naik-turun. Sekarang jatuh tapi dulu (waktu kecil) pernah naik (misalnya jadi juara atau pernah ikut kegiatan).

Akhirnya, optimisme hidup mereka pun hadir kembali. Walaupun saya kadang sedih mendengar salah seorang murid saya didapati gantung diri tak jauh dari rumahku saat saya tidak menetap di kampung. Konon, kabarnya, dia sering dicurigai sebagai “panjang tangan”, alias papancuri (suka mencuri) barang orang lain, termasuk orang terdekatnya. Entah betul atau tidak, bisa jadi karena terlalu berat kecurigaan yang dia rasakan, akhirnya dia memilih jalan yang seharusnya tidak dijalaninya.

Jadi, kreativitas anak-anak perlu ditampilkan, didemonstrasikan. Mereka senang jika bisa perform, apalagi jika dapat penghargaan–apapun bentuknya. Waktu jadi juri lomba menulis di Jakarta yang acara intinya dirangkaikan dengan operet anak-anak, saya juga mengusulkan kepada panitia untuk membuatkan sertifikat bagi para peserta. Kata saya, “mungkin sekarang kertas itu tidak berguna, tapi kelak itu akan sangat berguna.” Kita sadari bersama bahwa yang namanya berkas itu posisinya penting, misalnya untuk mengurus beasiswa, melanjutkan pendidikan, atau untuk melihat bagaimana “kita di masa lalu” untuk menentukan bagaimana “kita di masa depan.”

Saya hanya ingin mengatakan kata “salut” bagi panitia yang telah menghadirkan kecerdasan anak-anak dalam acara bagus ini. Salut, dan mengutip kata-kata yang sering saya dengar dari guru senior di Kupang yang juga Ketua Agupena NTT, Bapak Thomas Sogen dengan penuh semangat: “Profisiaaaat….” *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*