Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (12)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Kenapa buku harus diluncurkan?

Politisi menjawab, “buat lebih dikenal oleh konstituen.”
Akademisi bilang, “untuk diseminasi pengetahuan.”
Agamais berkata, “untuk menyebarkan ajaran Tuhan.”

Banyaklah pendapat orang tentang kenapa mereka meluncurkan buku. Tapi, apa maknanya bagi kumpulan guru?

Kalau dalam antropologi, makna biasanya kita dapat dari fakta lapangan (dalam hal ini pernyataan langsung dari “native”) yang kemudian diabstraksikan dalam berbagai konsep hingga ditemukan makna. Ada juga yang bilang, makna itu ada pada simbol. Jadi, kalau mau lihat makna seseorang, kegiatan seseorang, cukup melihat simbol-simbol yang dipakai. Simbol biasanya sarat dengan makna karena telah melewati berbagai macam pilihan dan pertimbangan terbaik hingga mengerucut pada satu hal tersebut.

Tapi, bolehlah saya cerita dikit pengalaman waktu pertama kali meluncurkan buku. Sebagai mahasiswa FISIP Unhas (masuk tahun 1999), saya melihat budaya menulis buku agak kurang di kalangan mahasiswa, maka saya mencoba untuk berani menulis buku. Buku yang pertama saya tulis adalah buku kumpulan tulisan berjudul Revolusi Intelektualitas Bangsa Indonesia (Pustaka Pergerakan, 2004). Judulnya agak berat, tapi yah namanya juga mahasiswa, kadang senang dengan yang berat-berat atau yang terkesan intelek.

Buku itu hanya dicetak super terbatas, hanya empat eksemplar. Tidak untuk dijual, apalagi untuk diluncurkan. Hanya sekedar untuk membuktikan diri: bisa dan berani menulis atau tidak. Hanya itu. Akhirnya, buku itu saya anggap selesai, karena telah dicetak: ada nama penerbit, tahun, dan juga isinya.

Kemudian, saya menulis buku Menemani Bidadari: Suara Hati Seorang Mahasiswa (Pustaka Mahabbah 2004, Darul Istiqamah Press 2006). Buku ini ditulis sebagai uji diri juga, apakah saya bisa tepati komitmen atau tidak. Jauh-jauh dari kampung kalau tidak punya komitmen saya pikir sangat percuma. Bahkan, marwah seorang lelaki bisa dilihat dari komitmennya.

Buku Menemani Bidadari itu saya targetkan maksimal ditulis dalam 7 hari (satu minggu). Tapi, saya bisa menyelesaikan naskahnya pada hari ke-6. Tanpa revisi. Buku itu kemudian diluncurkan di Gedung Pertemuan Ilmiah (GPI) Unhas yang dihadiri puluhan mahasiswa dan undangan. Selanjutnya, dibedah di FISIP, Teknik, Kedokteran, dan beberapa lokasi lainnya. Total sekitar 7 atau 8 kali acara bedah buku yang bercerita tentang pentingnya menjadikan buku sebagai teman duduk atau “bidadari”, mengutip pepatah Arab yang bilang, Khairu jalisin fizzamani kitabun. Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku.

Lantas, apa makna yang saya dapat dari peluncuran buku tersebut? Maknanya adalah, saya merasa sedikit lebih bermakna. Itu saja. Jadi kalau saya baru menulis 1 buku, maka perasaan bermaknanya–karena telah mulai memberi kepada orang lain–baru 1 itu, tapi jika 2, 3, dan seterusnya, maka perasaan sebagai homo generosus, mengutip Tor Norretranders dalam Generous Man (2005), yang berarti “manusia yang senang berbagi” telah ada dalam diriku.

Mungkin, itu juga yang dirasakan oleh para guru Flores Timur yang meluncurkan buku kumpulan esai mereka berjudul Revolusi Mental ala Guru yang secara resmi diluncurkan oleh Bupati Anton Hadjon. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*